Results 1 to 20 of 201

Thread: Filem Indonesia GaJe : hosted by Rumus

Threaded View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #11
    Quote Originally Posted by choodee View Post
    Mus mus.... Review pilem Tarung: city of darkness donk.... Dr judulnya kok ga biasa ya?
    dulu ada sutradara lainnya yg dicurigai sbg klonengannya Nayato, namanya Helfi C. Kardit. Dicurigai sbg klonengan karena karya filmnya persisisisisis dg Nayato dlm hal gaya narasi dan ngambil gambar. genre yg dibidanginya juga sama. Tapi ternyata dua orang ini beda, mungkin yg satu guru yg satu murid. kadang yg satu nyontek yg lainnya.

    nah, pas film Tarung itu, Nayato nyontek cerita dan film Kardit yg judulnya D'Love, ttg kehidupan anak underground jakarta--seperti biasa--yg bergesekkan dg dunia narkoba+miras+prostitusi+kriminal+premanisme+mafia . Mengapa saya menggunakan tanda "+"? karena film ini ngambil semua jatah cerita yg temanya "berat" seperti itu dan dikompres ke dalam 90 menit. Amat ambisius namun gak becus ngurus. Filmnya jadi acakadut dan gak fokus. Cerita maksa, karakter yg gak bisa akting dibebankan peran yg amat banyak, membuat mereka keteteran. Hasilnya, filmnya seperti gudang: memiliki banyak subplot gak penting yg semestinya bisa dipangkas. Alih-alih menyelesaikan satu konflik, malah ditambah seribu konflik baru di detik berikutnya. Film D'Love dan Tarung memiliki segalanya, dalam arti filmnya lebih mirip keranjang sampah.

    coba saja baca sinopsisnya yg amat ambisius untuk film Tarung ini:

    Mengisahkan tentang persahabatan sejati empat pemuda, dalam menghadapi kerasnya kehidupan, dan tantangan masalah yang mereka jalani. Mereka adalah RENO, CHOKY, DAUD, dan GALANG. Mereka sama-sama dibesarkan sejak kecil di satu panti asuhan BUNDA MULIA, yang dipin oleh BU LASTRI.

    Reno yang baru saja bebas dari penjara, karena membunuh preman,diserang oleh sekelompok orang misterius. Mereka berniat menghabisi Reno. Mereka bahkan membuat kekacauan dip anti asuhan BUNDA MULIA, hingga nyaris mencelakai Bu Lastri. Daud yakin mereka adalah musuh-musuh lama Reno yang menyimpan dendam kesumat sejak lama. Galang dan Coky ikut tersulut emosinya saat tahu ketenangan hidup Reno terusik. Sebagaimana semboyan/motto persahabatan mereka : satu terluka, semua terluka. Galang, Daud, Coky dan Reno pun sama-sama menghadapi musuh Reno.

    Sementara itu, Galang terlibat asmara dengan ASTRID, sexy dancer merangkap pelacur di tempat hiburan malam. Galang bersimpati bahkan jatuh hati pada Astrid yang bernasib malang. Sampai-sampai Galang harus berurusan dengan germo yang menguasai Astrid. Karena Astrid sering menerima perlakuan kejam oleh si germo. Di lain pihak, Coky terlibat dalam bisnis narkoba dengan sindikat perdangan narkoba international. Karena ketidakdisiplinan Coky, Coky harus menghadapi kemarahan bos sindikat tersebut. Coky nekad menggelapkan uang milik sindikat, untuk kebutuhan dana panti asuhan.

    Ketika akhirnya diketahui siapa dalang penyerangan terhadap Reno, Daud, Galang dan Coky pun bertindak. Dan sebuah pertarungan sengit pun terjadi. Sebuah pertarungan atas nama persahabatan sejati … hingga titik darah terakhir
    See? film ini nyatut semua hal narkoba/premanisme/prostitusi/dll lengkap dg martial arts. di film barat/mandarin yg lebih waras, mereka akan ngambil satu atau dua saja, gak akan semuanya dijarah dan dijejalkan dalam satu film saja. Konsep penjejalan ini dilakukan berulang-ulang kali oleh Nayato di SEMUA film drama/action nya.

    Saya ngerti, Nayato ingin meniru kesuksesan film-film remaja underground-nya Larry Clark yg kontroversial sekaligus sukses merebut hati para kritikus. coba saja tonton film Kids (1995), Another Day in Paradise (1998), Bully (2001), Teenage Caveman (2002), dan yg paling kesohor Ken Park (2002). Tapi film2 ini gak berusaha tampil sok cerdas dengan mengambil isu sebanyak mungkin. Mereka paling ngambil satu/dua isu saja, lalu diolah secara matang, digarap secara serius dengan durasi syuting yang lama buat riset, gak tiga hari apalagi kejar tayang.

    Di film Tarung kita gak akan melihat hal-hal seperti itu, yg ada Nayato hanya ingin terlihat sok cerdas dg mengambil tema anak2 rebel underground. Tapi bukannya terlihat cerdas, filmnya malah terlihat bloon dan culas. Jadi jangan salahkan saya jika saya memberikan puji-pujian yg pedas

    *kayaknya tulisan saya memiliki rima yah?

    kalo ttg "sinematografi"-nya, kan udah saya tulis di tulisan sebelumnya yg selalu sama di semua film Nayato

    ah sudahlah. highly not recommended pokoknya
    Last edited by E = mc²; 18-06-2012 at 05:15 PM.
    you can also find me here

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •