Sumber protein hewani yang biasanya mudah didapat adalah bekicot dan keong (Mollusca). Mollusca mengandung protein tinggi, bisa mencapai 60 % (menyamai tepung ikan), selain itu juga mengandung lemak dan asam-asam lemak yang dibutuhkan sebagai sumber energi bagi ikan. Kandungan lemak keong dan sejenisnya biasanya sekitar 6 %.
Untuk memanfaatkan hewan ini terlebih dulu harus dikeluarkan dari rumahnya (cangkang), cara sederhana adalah dengan memecah “rumahnya” dan mengambil dagingnya, atau dapat dilakukan dengan merebus dalam air selama 15-20 menit. Setelah itu keong atau bekicot dipotong-potong lalu dimasukkan dalam gilingan daging. Prosentase yang digunakan sekitar 5-10 kg/100 kg pelet yang dibuat.
Untuk merekatkan campuran bahan baku yang digunakan menjadi bentuk pelet kita memerlukan bahan yang mengandung kanji, seperti tapioka, tepung jagung, tepung beras, atau tepung terigu. Bahan yang paling murah sudah tentu tapioka atau limbah industri tapioka. Bahan-bahan ini sudah berbentuk tepung sehingga mudah menggunakannya. Agar dapat berfungsi sebagai perekat maka bahan yang mengandung kanji perlu dicampur dengan air panas. Jumlah yang diperlukan bisa mencapai 25-30 kg/100 kg pelet.
Pada musim panen padi biasanya harga dedak di penggilingan padi menurun. Dedak juga dapat digunakan sebagai sumber energi bagi ikan gurami. Jumlah yang digunakan antara 15-25 kg/100 kg pelet.
Selengkapnya baca majalah Trobos edisi November 2011