Quote Originally Posted by Dadap serep
Waduh kalau kenapanya , pastinya saya tidak tahu pak Pasing ( mungkin netter lain tahu).
Namun kalau menurut saya ,-- pernikahan-- kalau saya cermati memang tidak ada kuwajiban mencatatkan apalagi ke KUA.
Kelihatannya, untuk mengakhirinya -- "talak"-- juga tidak perlu harus tertulis . Jadi kalau untuk mengtakhiri saja tidak perlu tertulis maka nikahnya kelihatannya ya tidak diperlukan (ini nalar saya pak Pasing}
Justru itu bro
ternyata dng tdk mencatatkan menyebabkan timbulnya kemudharatan
yakni, adanya pihak yng dirugikan (baca terdzalimi), bener gak?

sekedar pembanding n pemikiran aja seh
klo akad kredit atau akad utang-piutang saja Qur’an menegaskan perlunya pencatatan
mengapa akad nikah dikatakan tidak perlu?, tentu ada pemahaman yng gak klop neh
padahal spiritnya sama, yakni untuk mencegah perselisihan, krn dimungkinkan ada pihak
yng ingkar janji.

Jelas aspek keimanan bahwa Allah maha mengetahui ini , yg ditekankan , jadi penghalalan yg tadinya haram (waktu nikah) kewajiban dan hak yg kemudian timbul dan pengharaman lagi yg sebelumnya halal ( setelah talak) , sangat ditekankan pada kaidah ini : Allah maha mengetahui ---> keimanan manusia thdp Tuhan !
Idealnya memang gitu bro
jika diasumsikan semua orang yng ngaku beriman gak bakal ingkar janji
alangkah damai dan sejahteranya kehidupan didunia ini yak, faktanya
wong ada bukti tertulisnya aja kadang nekad diingkari kok?
palagi kagak ada