Results 1 to 13 of 13

Thread: Fallacy (kesalahan berfikir)

  1. #1
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217

    Fallacy (kesalahan berfikir)

    Apa itu fallacy ?


    Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.

    Ada dua pelaku fallacy, yaitu Sofisme dan Paralogisme

    Sofisme, adalah sesat pikir yang sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain, padahal si pemuka pendapat sendiri tidak sesat.

    Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha mempengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung.Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.

    Paralogisme, adalah pelaku sesat pikir yang tidak menyadari akan sesat pikir yang dilakukannya.

    Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

    Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur fallacy, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.


    Beberapa macam-macam fallacy :

    1. Fallacy of dramatic instance, yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

    Contoh : Mahasiswa beriman tadi yang mengatakan bahwa HMI itu organisasi yang sesat, kiri, liberal karena melihat beberapa kadernya yang menurut pandangannya sebagai orang sesat, kiri, dan liberal.

    2. Argumentum ad hominem, adalah argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.

    Contoh : Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda, karena Anda seorang anak kecil yang gak tahu apa-apa.

    3. Argumentum ad verecundiam, adalah kesalahan berpikir akibat argumen dengan menggunakan argumen yang bersifat otoritas meskipun otoritas itu tidak relevan

    Contoh : A sedang berdiskusi dengan B. Lalu A berkata kepada B, pendapat Anda bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ini bentuk kesalahan berpikirnya. Bahwa, sebenarnya B tidak bertentangan dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang yang A pahami.

    4. Argumentum Auctoritatis, adalah sesat pikir dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya

    Contoh : Saya meyakini bahwa pendapat dosen itu benar karena ia seorang guru besar.

    5. Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc), adalah kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama – padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

    Contoh : Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. Tak lama kemudian ortu Anda mengirimkan uang pada Anda, Anda kemudian sangat mencintai pulpen itu. “ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan”

    6. Argumentum ad baculum, adalah argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya

    Contoh : Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, Anda akan terkena adzab Tuhan.

    7. Argumentum ad misericordiam, adalah sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan / keinginan.

    Contoh : Saya mencuri karena saya miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan.

    8. argumentum ad ignorantiam, adalah Apabila kita memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada karena kita tidak mengetahui apa pun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya, maka itulah sesat pikir.

    Contoh : “Menerbangkan manusia di bulan itu sulit. Maka manusia tidak bisa diterbangkan ke bulan.”

    9. Argumentum ad auctoritatis, adalah argumentasi yang diajukan berdasarkan kewibawaan atau pengaruh besar seseorang, bukan berdasarkan penalaran.

    contoh : “Saya yakin apa yang dikatakannya, karena ia pemimpin partai besar”.



    -----
    Sumber : http://ressay.wordpress.com/2008/12/...ahan-berpikir/
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  2. #2
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Article yg bagus, saya tambahkan sedikit tentang Otorita.

    Biasanya orang suka mencatut suatu otorita untuk memperkuat argumennya, otorita itu bisa berupa:

    1. Jangka waktu masa lalu "Dari dulu juga sudah begini..."
    2. Jumlah massa "Semua orang juga tahu kalau saya ini..."
    3. Orang lain "Charles Darwin sendiri yg berkata..."
    4. Kitab Suci "Ada tertulis di kitab..."
    5. Tuhan "Tuhan berkata pada saya..."

  3. #3
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    nice info!
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  4. #4
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    1. Fallacy of dramatic instance, yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

    Contoh : Mahasiswa beriman tadi yang mengatakan bahwa HMI itu organisasi yang sesat, kiri, liberal karena melihat beberapa kadernya yang menurut pandangannya sebagai orang sesat, kiri, dan liberal.
    Buat saya ini bukan kesesatan berfikir (fallacy), tetapi argumen yang lemah.

    3. Argumentum ad verecundiam, adalah kesalahan berpikir akibat argumen dengan menggunakan argumen yang bersifat otoritas meskipun otoritas itu tidak relevan

    Contoh : A sedang berdiskusi dengan B. Lalu A berkata kepada B, pendapat Anda bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ini bentuk kesalahan berpikirnya. Bahwa, sebenarnya B tidak bertentangan dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang yang A pahami.
    Boleh2 saja seseorang membantah pendapat orang lain dgn menyebutkan referensi.

    5. Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc), adalah kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama – padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

    Contoh : Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. Tak lama kemudian ortu Anda mengirimkan uang pada Anda, Anda kemudian sangat mencintai pulpen itu. “ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan”
    Ah boleh-boleh saja selama belum ada argumen yang lebih kuat yg mampu mematahkan argumen tsb. Memang contohnya naif, tetapi struktur tersebut biasa digunakan dalam dunia ilmiah. Misalnya ganti pulpen dengan bakteri dan yg lainnya dengan bermacam2 penyakit. Dari struktur seperti itu, bisa saja akhirnya bakteri menjadi terdakwa, sebagai penyebab macam2 penyakit tsb.

  5. #5
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,118
    OOT :
    sip ada purba
    welkambek bro.

  6. #6
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Saya sering melakukan kesalahan berfikir, misalnya saat melakukan silogisme maka kesalahan yg sering terjadi adalah kesalahan pada Premis pertama/Major Premise.

    Contohnya:

    1. Semua manusia pasti akan mati
    2. Keremus adalah manusia
    3. Keremus pasti akan mati

    Kesalahan yg sering saya lakukan adalah karena Premis 1, tidak diverifikasi dengan benar.

    Orang sering menganggap sesuatu sudah pasti benar sehingga begitu saja dijadikan premis, padahal premis yg salah akan mengakibatkan semuanya salah.

    Coba kita pikir, benarkah semua orang pasti akan mati ?
    Belum tentu !

    karena:
    - Kita tidak kenal semua orang
    - Masih banyak orang yg belum mati
    - Mungkin ada orang yg hidup abadi tapi kita tidak tahu
    - Mungkin ada orang yg hidup sampai kiamat dan tidak sempat mati
    - atau apapun

    Aplikasinya :

    Premis Mayor: Kalau saya berangkat pagi saya takkan telat ke kantor
    Premis Minor: Saya berangkat pagi
    Conclusion: Saya tidak akan telat ke kantor

    Nyatanya Premis 1 sering salah, sudah berangkat pagi tapi macetnya keterlaluan, atau mobil mogok dll sehingga silogisme diatas berantakan.

    Ini salah satu kesalahan yg sering saya lakukan dan sekarang saya waspadai.
    Sering kali saya membuat logika diatas fakta yg salah, maka sekarang saya berusaha terus menverifikasi fakta2 yg menjadi dasar2 logika saya dan tidak sembarangan membuat premis.

  7. #7
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,118
    definisi Premis mayor dan Premis minor apaan?
    ga semua orang tahu loh.. kek gw misalnya

  8. #8
    pelanggan setia Agitho_Ryuki's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    mBantul, Ngayogyokarto, Hadiningrat
    Posts
    2,517
    Dalam logika matematika yang namanya premis itu selalu (*dianggap*) benar...
    contoh:
    P1: Semua unggas berkaki tiga (bernilai benar karena premis)
    P2: Banteng termasuk unggas (bernilai benar karena premis)
    kesimpulan:
    Banteng berkaki tiga (nilainya juga benar...)

    Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!

  9. #9
    pelanggan bonny gooner's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Bandung
    Posts
    152
    salah itu.
    unggas itu kakinya dua. masa dibilang benar?
    banteng juga bukan termasuk unggas.
    kesimpulannya juga jadi ngaco.

  10. #10
    pelanggan tetap Asum's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    1,217
    Quote Originally Posted by etca View Post
    definisi Premis mayor dan Premis minor apaan?
    ga semua orang tahu loh.. kek gw misalnya
    Premis mayor = asumsi umum
    Premis minor = asumsi khusus

    Lihat contoh AsLan
    1. Semua manusia pasti akan mati
    2. Keremus adalah manusia
    3. Keremus pasti akan mati
    no.1 disebut Premis Mayor (asumsi umum) karena menyatakan semua manusia (tanpa terkecuali) akan mati.
    no.2 disebut Premis Minor (asumsi khusus) karena menyatakan bahwa keremus adalah manusia (bagian dari Premis Mayor)

    Kesimpulan dari penggabungan 2 asumsi tsb (Premis mayor dan minor) bahwa "karena keremus manusia, maka ia pasti mati" <<< disebut silogisme


    CMIIW
    أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السَّؤَالُ
    ”Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak mengerti ? Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya” (Sunan Abu Dawud no.336)

  11. #11
    pelanggan setia Agitho_Ryuki's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    mBantul, Ngayogyokarto, Hadiningrat
    Posts
    2,517
    premis adalah pernyataan yang dianggap benar..
    Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!

  12. #12
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Mungkin bahasa awamnya, "asumsi"

    Kita sering membuat asumsi-asumsi dan membuat logika lanjutan dari asumsi2 tersebut.

  13. #13
    pelanggan setia Agitho_Ryuki's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    mBantul, Ngayogyokarto, Hadiningrat
    Posts
    2,517
    kalo asumsinya bener-bener "benar" maka kesimpulannya juga "benar" tapi kalo ndak ya kacaw balau...
    Barangsawijine purwo marang kawitan, Bandar sejatining wujud. Yuk lakone.. BUTHO CAKIL sido NGEMUTTT PEN.....THUNG!!

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •