-
Anak, Kebanggaan Ortu?
ceritanya ini kan lagi waktunya nguber sekolah buat anak2 TK yang mau lulus buat masuk SD.
Buat SDN jadwalnya sih bareng, sedang swasta, si anak belum lulus udah pada buka pendaftaran dan seleksi masuk.
Kemudian, kebetulan, entah iseng gimana, 15 menit sebelum bel pulang saya udah duduk manis di depan TK Naomi. Dan disusul seorang ibu, saya tau dia ortu murid TK A. Terjadilah percakapan basa-basi yang dimulai dari dia.
"Naomi mau SD ya?"
ya iyalah! Kan dia TK B, mau kemana lagi emang? gerundel saya dalam hati. Ini orang memang sudah masuk daftar blacklist saya karena kebanyakan nyacat tapi tiap dimintai tolong sekolah buat bantu2 suka ogah.
"Iya," basssssssi banget jawaban saya.
"Masuk SD mana rencananya? Baitunnur?" dia menyebutkan satu SDIT yang emang jadi inceran orang2 kaya di Blora.
"Ah enggak, kemahalan, mutunya juga masih kalah sama SD lain," jawab saya.
"Oooo, terus rencana kemana?"
"Sementara didaftarin masuk SD Muhammadiyah."
Dannnnnnnnn kemudian dia nyerocos deh (ternyata dari tadi niatnya mau pamer ya?
) bahwa anaknya yang sekarang TK A udah bisa calistung dan mau dia lompatin langsung masuk SD, dan tujuannya SD Muhammadiyah (great, kenapa mesti ke sono?). Bahwa anaknya udah dari PG bisa baca baik sehingga ngapain nerusin ke TK B kalau sudah "layak" masuk SD? begitu sombongnya.
Saya pun kehilangan selera buat basa-basi. Iseng saya kerjain dia.
"Oh Kesha (anaknya), udah bisa baca buku cerita sederhana gitu, macam serial anak sholeh atau serial si Mimi (gwe sebutin dah nama buku cerita punya Naomi yang udah robek2 saking seringnya dibaca naomi
)?"
Dia bengong. "Buku cerita?"
"Iya, kalau gak salah sih anak2 TK B udah pada bisa baca buku cerita sederhana seperti itu. Malah kayaknya udah langganan Bobo," jawabku asbun. Lha iya, emang gwe tau aktifitas temen2 sekelas Naomi?
Perlahan, wajahnya pias, lalu menggelengkan kepala.
"Emang itu perlu ya?" tanyanya ragu2
"Ya, setau saya sih kemaren pas Naomi dikasih soal2 evaluasi kelas 1 SD (waduh, saya ngibul itu
) kemampuan bacanya udah harus bisa baca buku cerita sederhana gitu. Soalnya kelas 1 udah diajarin majas, melengkapi kalimat dan macem2 gitu," kata saya sok2an.
Dia mingkem.
"Kalau ga salah juga hitung2annya modelnya udah sampe 3 sampe 4 baris berhitung." padahal itu soal jarimatika
Dia makin mingkem.
Dalam hati saya geli.
Dan juga kasihan. Dia terlalu menyepelekan jenjang pembelajaran hanya demi bisa membanggakan anaknya di depan orang, bahwa anaknya lebih mampu dibanding anak2 sebayanya. Oke, saya tau ortu paling senang membanggakan anak2nya (saya juga lah), tetapi apakah sampai mengorbankan masa2 senangnya si anak menikmati masa2 TK demi kebanggaan si ortu?
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules