-
seringkali kita tidak menyadari apa yang kita punyai sampai saat kita kehilangannya. sangat klise ya? tapi sangat ada benarnya.
beberapa waktu yang lalu, saya diminta mempelajari sebuah program komputer yang dipakai oleh orang buta. eh? orang buta bisa pake komputer? aha. ternyata bisa. there is an app for that! *ngikut iklan apple*
sebagai manusia yang mempunyai 5 indra lengkap, seringkali kita tidak memikirkan terlalu jauh apa yang dialami oleh orang2 cacat. jujur aja, biarpun saya sangat menyadari keberuntunganku akan kelengkapan indraku, dan menyadari akan ada yang namanya kecacatan, saya tidak pernah mencoba menyelami bagaimana rasanya hidup sebagai orang cacat. isu ini mungkin boleh dikatakan sebagai hal di luar zona comfortku, sesuatu yang saya kubur dalam2 di pojokan kepalaku, hal yang tidak mengenakkan, tidak diperbincangkan, tidak dibahas, sengaja tidak terlalu saya pikirkan karena ingin saya lupakan.
tetapi saat saya mencoba mengoperasikan komputer dengan bantuan program itu, saya harus melepaskan mouse/trackpad yang selama ini sangat erat terintegrasikan pada komputer. and i'm not talking about menggunakan text-based OS seperti linux ato unix yang memang tinggal ketak ketik aja. ini kita ngomongin pengoperasian OS dengan full-blown GUI murni tanpa mouse. puluhan mungkin ratusan kombinasi tuts di keyboard yang harus diingat. dan tidak hanya itu, pendengaran pun harus dipertajam. karena di situ lah kuncinya bagaimana orang buta "melihat" apa yang ada di monitor mereka.
saat mempelajari program ini pun saya masih "curang", karena biarpun saya tidak lagi menggunakan mouse, tapi saya masih memanfaatkan mataku untuk melihat apa yang lagi terjadi di monitor. suara2 robot monoton yang membacakan apa yang "kulihat" sama sekali saya ignore. tapi keenggananku untuk mempercayai apa yang kudengar daripada apa yang kulihat, sedikit sebanyak justru membuatku semakin frustasi dan lebih lambat belajarnya. isnt it ironic? let's say old habits die hard. kebiasaanku sebagai able-bodied human masih kebawa2 di saat saya harus mencoba menjadi dan berpikir sebagai orang buta.
hidup sebagai orang cacat, bener2 mempunyai cara berpikir yang berbeda. revelation itu yang kurasakan dari pengalaman itu. i mean, it's common sense, semua orang juga tau bahwa orang cacat tentu saja harus bersandar pada indra2 laennya untuk mengkompensasi apa yang tidak dia punyai. but still. to actually go through that (even though i cheated), it was an enlightening experience.
http://www.youtube.com/watch?v=LsOo3jzkhYA
biarpun sudah ada banyak rekaman2 video sejenis ini, we can only imagine, bagaimana rasanya seorang yang tuli mendapatkan pendengarannya untuk pertama kali. really, how does it feel?
we can only imagine.
moral of the story, hargailah semua indra2 dan kelengkapan organ2 yang dimiliki kita.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules