pagi2, udah membaca 2 artikel yang menarik, yet sangat kontras

http://news.yahoo.com/hotel-living-n...063507348.html
-- mengenai concierge servis untuk melayani orang2 super duper kaya, dan bbrp ilustrasi mengenai gaya hidup orang2 super kaya ini. the ultimate high maintenance lifestyle. private jet untuk mentransport hewan piaraan? last minute request untuk dimasakin celebrity chef privately at home? check check. pelayanan yang biasa hanya bisa ditemukan di hotel2 berbintang pun mulai ditemukan di apt2 pribad super lux.

on the other hand...

http://finance.yahoo.com/news/among-...223649561.html
-- mengenai "trust fund" kids yang mewarisi duit yang tidak sedikit dari keluarganya, memutuskan untuk mendistribusikan hartanya ke komunitas. bahkan ada organisasi, yang buatku kedengaran seperti support group, untuk membantu anak2 orang kaya ini yang bingung bagaimana mau melepaskan kekayaan mereka. di situ bahkan ada bbrp artikel mengenai 'pengakuan' mereka sebagai anak orang kaya.

kajian mengenai social class bukan topik yang baru, tapi selalu menarik untuk dilihat. on one hand, ada yang mengabuse dan memanfaatkan status sosial mereka untuk kepentingan pribadi. on the other, ada pula yang merasa "bersalah" sudah terlahir dengan berbagai privileges hidupnya. mungkin dirasakan kekayaan itu tidak mereka deserve, they didn't earn it, kebetulan aja ortu ato nenek moyangnya yang kaya. mungkin dirasakan ada social injustice di komunitas, kenapa hidup mereka sangat mudah sedangkan masih banyak yang laen yang susah payah hidupnya. mungkin mereka hanya ingin a level playing field seperti warga2 laen. mungkin pula ini bertentangan dengan pandangan politiknya.

rata2 mereka kedengaran apologetic. bukan hanya faktor kekayaan, kadang ras pun membuat mereka semakin merasa tidak adil, terutama kalo mereka ber-ras kulit putih. afterall, it has been known and studied that orang berkulit putih memang lebih mudah hidupnya dalam masyarakat, simply for being who they are.

while their mission in redistributing the wealth is great, but i wonder, are they doing it wisely? having worked indirectly with several non profits dan foundation2 bermisi filantropi, saya bisa melihat nilai positif metode kekayaan yang dimanaged dengan baik supaya social2 programnya bisa terus dilakukan dalam jangka panjang dan continuous. sedangkan anak2 muda ini sepertinya masih cukup idealistik, dan biarpun distribusinya dilakukan dengan pertimbangan (misalnya ke organisasi2 yang misinya sealiran dengan prinsipnya, bukan secara buta), cuman apakah pertimbangannya masih too short sighted? berhubung kekayaan yang diwarisi anak2 muda ini sangat bervariasi, barangkali bisa dikumpulkan dan dimanaged secara kolektif untuk jangka panjang?

i wonder