dear diary,

saya merasa jenuh
i need a break. cuman saya ga tau apakah itu bener need ato want.

on an unrelated note, saya baru mendengar berita mengenai ortunya seorang temen yang meninggal, walo belum sempat menanyakan penyebabnya karena orangnya sudah keburu melakukan trip darurat dan lagi mengelilingi separoh bumi on her way home. sudah berkali2 saya membayangkan kasus seperti itu, dan dalam kepala sudah berkali2 meng-enact situasi dan membayangkan scenario seperti itu unfolding, granted walo hanya dalam kepala saja. untuk sesuatu yang selalu saya bayangkan akan terjadi, ternyata menjadi realitas padanya, i'm surprised that i still find it surprising, because you kinda knew things like that may happen. eventually. i guess, the fact that you've spent more than half of your life time away from home, dengan waktu bersama yang sangat sporadic dan relatively sangat pendek in that time span, agak membuatmu berpikir akan the what-if situation di masa depan, that is, "im-gonna-regret-this" feeling. i consider myself jarang merasa menyesal pada suatu keputusan, terutama keputusan yang sudah melalui masa2 kontemplasi dan dengan penuh sadar diambil, situasi ini tidak memberi banyak ruang untuk membuat keputusan secara clear cut di mana saya bisa dengan confident tidak akan merasakan the what-if itu, when the time comes.

i can only hope time dan sikon akan lebih ramah dan forgiving saat giliran saya.