Page 3 of 18 FirstFirst 1234513 ... LastLast
Results 41 to 60 of 343

Thread: renungan ndugu v2.0

  1. #41
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by ndugu View Post
    tidak ada kata terlambat untuk belajar. i'm really glad for her. and oddly, it somehow made me feel better. ternyata bukan cuman saya yang sering merasa labil dengan bidang yang ingin ditekunin ya? ada orang yang dari kecil sudah tau apa yang ingin dilakukan, ada yang harus menunggu sampe dewasa baru ada keberanian untuk mengubah haluan, dan ada pula yang sampe dewasa juga masi blom tau apa yang ingin dilakukannya.

    which am i?
    Ya.. itu betul... Dulu babe ane pengennya anaknya berkecimpung di bidang yg cepet ngasilin duit, tapi enyak ane untungnya berpikiran maju meski pendidikannya cetek. Dia biarin anaknya berkecimpung di bidang yg disukainya. Pemikirannya sederhana. Dia bilang, lo yg kerjain, ya lo sendiri yg ngerasain. Sampe sekarang, pemikiran sederhana tsb tetep ane terusin ke generasi berikutnya.

    Sama seperti ndugu, ane pun merasa lebih baik karena sempat melihat temen yg 'dijajah' oleh ortunya. Pas udah tua, baru dia berani menekuni bidang yg menjadi cita2nya sejak muda. Tapi kadang salut juga sama orang-orang yg melakukan sesuatu bukan atas keinginannya sendiri, seperti temen itu. Temen ane beralasan, dia tidak mau menyakiti hati orang tuanya, makanya diikutin keinginan ortunya itu. Pada kasus ini, ane salut abis sama temen tsb, tapi tidak dgn orang tua seperti itu.


  2. #42
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    kemaren2 sempat nemu artikel ini di yahoo news:
    http://news.yahoo.com/atheists-churc...225034079.html
    mengenai sekian persen orang yang menyebut dirinya atheist ato agnostik, yang pergi ke gereja demi anaknya.

    i'm glad they do that. and i'm glad they have the reasoning that they have. saya mungkin akan melakukan hal yang sama kalo seandainya ada anak, dan bahkan mungkin tidak hanya terbatas pada gereja saja, tetapi pada agama2 laen dan segala way of thoughts yang ada di dunia ini. kupikir, alangkah baiknya kalo manusia mempunyai informasi sebanyak mungkin dan pikirannya terexpose pada pikiran2 alternatif laen dulu, baru kemudian membuat keputusan / kesimpulan sendiri. ntah lah saya akan setuju ato tidak dengan kesimpulan akhirnya. tapi selama kesimpulan itu sudah melalui proses pencernaan dan berasal dari pemikiran dirinya sendiri, i think can live with that.
    Last edited by ndugu; 12-12-2011 at 01:16 AM.

  3. #43
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    kemaren2 saya sempat membaca artikel mengenai etika menulis dan mengirim imel, khususnya imel resmi yang berhubungan dengan kerjaan. sala satunya mengenai penggunaan emoticon, yang ini bisa dimengerti kalo imel2 resmi disarankan untuk tidak menggunakan emoticon.

    tapi ada satu point yang cukup bikin saya heran. yaitu disarankan untuk tidak mengirim imel di luar jam kerja. nah, yang ini saya ngga mengerti alasannya. padahal saya sering ngirim imel tengah malem di mana saya bisa konsen menulis tanpa diganggu urusan laen.

    memangnya kenapa ya?

  4. #44
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    time flies when you are busy. rasanya taon kemaren baru nonton pergantian tahun ke 2011 di tivi. but another year has gone by. apa yang sudah saya lakukan di tahun 2011?

    merefleksi kembali taon kemaren, rasanya tidak ada kejadian yang bener2 stand out dalam pikiranku, selain belajar nyetir dan sukses lulus teori dan praktek dan dapet sim. malu juga udah tua gini baru belajar nyetir. urusan kerjaan, yah begitu2 saja. urusan kesehatan, yah demikian juga, sukses patah tulang lagi. untung tidak separah beberapa tahun yang lalu waktu nge-fractured 3 bagian dalam setahun, dan tidak dalam waktu yang bersamaan pula. urusan self-improvement, well, i'm still learning new things dari kerjaan, gotta admit belakangan ini mulai terasa malas karena jenuh. rasanya ingin belajar hal di bidang yang sama sekali berlainan untuk refreshing. mungkin ambil barang satu ato dua kelas mata kuliah biologi ato art history ato bahasa asing buat iseng2. tapi tahun kemaren2 saya juga sudah mengatakan hal yang sama, toh tidak menjadi kenyataan juga. just a wistful thinking - kalo tidak rela mengaku malas.

    masi panjang daftar wish list yang belum dilakukan dan terbengkalai. rasanya tahun depan saya juga akan mengulangi keluhan yang sama. i find myself making a lot of excuses lately.

    kehidupan sudah mulai terasa monoton. dan kalau sudah begini, you can't help yourself and wonder: what am i doing here?

  5. #45
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,141
    merit gih,
    pasti kehidupan kamu ga bakalan monoton ngu
    *padahal yang ngasi saran juga belum merit

  6. #46
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    merit, trus punya anak...dijamin tambah menantang petualangannya

  7. #47
    pelanggan setia beastmen85's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    The Dreamcloud
    Posts
    3,046
    oh. kalian berdua blm merit?
    kirain kalian emak2 yg mengantar anaknya pergi ke TK tiap hari...
    because, imagination is a part of reality-

  8. #48
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    rasanya diriku masi terlalu egois untuk itu
    dan kehidupan monoton isn't that bad. rutinitasnya aja.

  9. #49
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    http://news.yahoo.com/why-gay-parent...131902676.html

    sekian tahun yang lalu, saya sudah pernah baca artikel yang mirip mengenai ini di sala satu kelas kuliahku dulu - bahwa performa akedemis, cognitive, maupun social walfare anak2 yang dibesarkan oleh gay parents sama saja (if not slightly better) dibandingkan dengan hetero parents. dan menurut artikel di atas yang lebih recent, ternyata ada yang melakukan research untuk study mengenai ini. dan keliatannya anak2 yang dibesarkan oleh gay parents mempunyai sense of tolerance yang lebih tinggi dibandingkan dengan counterpartnya. it makes sense sebenarnya, terutama if we take into consideration situasi kehidupan dan pandangan hidup mereka.

    Gay parents "tend to be more motivated, more committed than heterosexual parents on average, because they chose to be parents," said Abbie Goldberg, a psychologist at Clark University in Massachusetts who researches gay and lesbian parenting. Gays and lesbians rarely become parents by accident, compared with an almost 50 percent accidental pregnancy rate among heterosexuals, Goldberg said. "That translates to greater commitment on average and more involvement."
    note: dan tentu saja dengan tidak meremehkan banyaknya juga straight parents yang committed di luar sana

    tapi ada satu point laen di artikel itu yang kupikir perlu diemphasize. government should tap into gay parents untuk menjadi adoptive parents maupun foster parents. urusan anak yatim piatu susah direverse selama masyarakat masi memuja konsep mempertahankan darah keturunan (kandung). even though I strongly feel any prospective parents should consider mengadopsi anak sebagai pilihan pertama sebelum memutuskan untuk mempunyai anak kandung sendiri, mungkin ide ini terlalu extreme untuk dipraktekkan oleh masyarakat umum yang dari dulu sudah terbiasa dengan ide keluarga umumnya harus mempunyai anak kandung.

    If so, maka prospective gay parents perlu dipertimbangkan sebagai alternatif. dan tentu saja di saat yang sama, program ortu asuh ato ortu adoptive masi perlu diteruskan dan digalakkan.


    *galau melihat populasi dunia yang semakin bertambah*

  10. #50
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    lucu juga ya ngeliat iklan rumah di indo. biasa yang namanya rumah, yah wajar memberikan detail spec rumah seperti brapa kamar, brapa kamar mandi, brapa meter persegi, lokasi, harga, fasilitas2, dll. ternyata saya baru tau ada kategori baru.

    kamar pembantu.

    eh?

    emang kamar pembantu bukan kamar tidur sampe harus ada kategorinya sendiri? saya ngerti kamar pembantu lebih kecil dari kamar biasa. tapi saya merasa susah menerima dan menelan fakta kalo kamar pembantu harus seperti gudang dibandingkan kamar biasa, yet disebut dan digunakan sebagai kamar pembantu. sudah seumum dan mendarah daging kah budaya pembantu? kamar sekecil itu yang diposisikan supaya berada deket dapur dan blakang rumah dan terisolasi dari living area 'majikan'. wtf man. kalau dulu sempat ada masa2 di mana terjadi emansipasi wanita, ras2 tertentu, agama2 tertentu, saya ngerasa kaum2 pembantu skarang adalah gilirannya.

    mungkin harus diadakan union / perserikatan tenaga kerja ini, if there isn't already one. di satu sisi ekstrim seperti di amrik, ada union2 / perserikatan yang menyalahgunakan hak2 organisasinya dan merepotkan masyarakat. sedangkan contoh di ujung sisi ekstrim laennya lagi, banyak ditemukan di indo, where there isn't any protection at all. seperti artikel berita tadi mengenai film dokumentari bbc yang menayangkan kontrasnya kehidupan tukang sampah di jakarta dan di london.

    tapi kupikir yang lebih memprihatinkan adalah mental pembantu yang ada. bahwa ada kategori seperti "kamar pembantu" di iklan rumah residential, menunjukkan berarti budaya ini sudah sangat2 dianggap wajar. saya merasa hidup manusia adalah tanggung jawab pribadi. kamu membeli barang2 / aset2, kamu pula yang harus menanggung tenaga dan biaya pemeliharaan / maintenancenya. kamu memberantakkan kamar, kamu pula yang harus membereskannya. bukankah itu yang selalu diajarkan dari kecil? menerima konsekuensi dari aksi yang dilakukan. tentu ada kalanya perlu bantuan, dan sangat wajar jika meminta ato membayar jasa bantuan. dan saya yakin akan ada yang menganggap menggunakan tenaga pembantu adalah bagian dari maintenance aset2nya. fair enough. tapi kalo sampe rumah aja ada kamar khususnya, kan brarti ini pembantunya live-in, yang siap sedia 24 jam. selama tangan kaki masih bisa berfungsi, tidak kah terlalu excessive pelepasan tanggung jawab hidup pribadi itu? setiap orang tentu secara natural mempunyai rasa malas, tapi perlu kah semanja itu? kapan baru bertanggung jawab atas kehidupan pribadi? budaya pembantu ini sudah menjadi way of life. that's unhealthy.

    is it just me? ato benarkah kata mereka bahwa saya sudah kelamaan hidup sendiri?
    Last edited by ndugu; 31-01-2012 at 03:49 PM.

  11. #51
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    memang enggak sehat, sih....terutama di indonesia yg udah kebiasaan manja..buat orang yg mampu menggaji pembantu
    g ga menampik kenyataan, bahwa g adalah salah satu dari sekian banyak keluarga yg menggunakan jasa pembantu live in sejak kecil
    dimana kalau dibandingkan dengan di luar negeri, cuma keluarga jetset super kayalah yg mampu menggaji seorang pembantu live in, bahkan sampai beberapa orang sekaligus (indo hebat, kan? )

    di sisi lain, karena orang tua sekarang bekerja, jasa pembantu live in ini sangat dibutuhkan
    hanya saja, seringnya pemanfaatan ini dilakukan secara berlebihan

    demikian sekilas info

    soal kamar pembantu, maksudnya sih untuk menjelaskan bahwa di rumah itu ada kamar yg disediakan khusus untuk pembantu yg tinggal di sana
    dan btw....luas kamar mereka itu terkadang sama sempitnya dengan lebar kamar kos yg rata2
    sedangkan soal pelayanan 24 jam, tidak ada keharusan 24 jam itu
    waktu tidur ya disamakan dengan majikan, begitupun waktu makan dll
    mereka juga tidak bekerja terus menerus selama 24 jam
    cenderung diperlakukan sangat baik dibandingkan pembantu2 lain (setidaknya di rumah ortu g)
    Last edited by Porcelain Doll; 31-01-2012 at 04:42 PM.

  12. #52
    Mungkin benar itu "kelamaan hidup sendiri"

  13. #53
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    sama kok pop, dulu kecil juga pernah ada live-in pembantu kok
    walo dari kecil juga saya selalu merasa something is not right gitu dengan budaya pembantu gitu.. tapi ya memang sepertinya sudah sangat dianggap wajar sekali di indo. saya ngga nyaman aja dengan fakta itu. ato mungkin saya lagi ngiri ga da pembantu mempunyai pembantu skarang sepertinya sesuatu yang cukup 'affordable', kelas menengah juga udah bisa dapet pembantu.

    tadi sempat syok liat buku ini

    *GASP!*

    Spoiler for buku:




    oh dunia..
    Last edited by ndugu; 02-02-2012 at 07:16 AM.

  14. #54
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    hahahaha
    kenapa shock gu?
    harusnya dirimu coba ikutan grup emak2, masalah asisten RT ini salah satu bahasan paling banyak dan rame
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  15. #55
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    eniwei di rumahku kamar pembantunya lebih gede dari kamar adikku
    posisi juga sebelah2an ama kamar2 anak yang laen
    intinya anggap mereka saudara, karena bagaimanapun merekalah yang menjaga rahasia RT
    jadikan mereka keluarga
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  16. #56
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    ndugu terlalu lama hidup di luar negeri, jadi terbiasa mandiri


    saya ga nyaman dengan keberadaan orang lain di rumah selain keluarga,
    saat ini saya masih ikut tinggal di rumah orang tua, di tempat ini harus ada
    ada asisten RT karena ukuran rumahnya. jika tidak ada, biasanya ibu saya
    jatuh sakit karena terlalu lelah mengurus rumah. tapi ketergantungan kami
    terhadap asisten RT sudah jauh berkurang. saya ingat sewaktu kecil di rumah
    sampai ada 3 orang asisten RT + tukang kebun. namun sekarang karena kami
    sudah dewasa, ketergantungan terhadap asisten RT berkurang, hanya ada seorang
    yang bekerja sekitar 5 sampai 6 jam di siang hari untuk membantu merapikan rumah,
    dan kami menanggapnya sebagai anggota keluarga


    tapi bagaimanapun, tetap lebih nyaman jika dapat mengurus rumah sendiri tanpa
    harus melibatkan asisten RT

  17. #57
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    chan: shocknya ya itu, semakin membenarkan kalo budaya pembantu ini sangat lumrah, saking wajarnya sampe ada buku panduan dan tata denah rumah memikirkan faktor pembantu. dan sama kok, pembantu di rumah di kampungku juga kamarnya lebih gede dari kamar kakakku sendiri. tapi mungkin juga karena rumahku itu rumah lama, jadi mungkin waktu dibangun arsiteknya ga kepikiran kategori kamar pembantu gitu

    yang saya liat ada spec kamar pembantu kayanya tuh rumah baru. yah saya bukan pemerhati real estate sih, cuman kesanku aja

    itreza: bener. saya juga merasa begitu. ada kalanya memang keadaan mengharuskan bantuan. ntah faktor kesibukan ato ketidakmampuan manusianya. dan kalo saya udah komplen2 mengenai budaya pembantu gini, eh dibilang saya udah lost touch dengan kebiasaan orang indo. padahal pointku di luar itu yah.

    di indo (dan sapa aja pada umumnya) demen rumah2 yang gede, tapi ngurusnya ga mau. urusan beres2 dilemparkan ke pembantu. itu yang saya merasa sangat sangat ga sreg. banyak maunya, tapi males ngurusnya. kita kok mau enaknya aja gitu loh. kalo males ngurus rumah, ya cari rumah kecil gitu, yang bisa diurus sendiri. malas babat rumput, ya jangan cari rumah yang ada pekarangannya. kalo males cuci mobil dan ngurusnya, ya ga usah beli mobil. males cuci piring, ya makan di luar. kalo makan diluar dirasa mahal ato ga sehat, ya terpaksa masak sendiri, tapi cuci sendiri. semua itu menurutku adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan gaya hidup yang dipilih. dan tangung jawab itu saya merasa sangat personal, bukan dengan mencari jalan singkat dengan dilepas ke orang laen. kalo pun dilepaskan ke orang laen, itu seharusnya adalah jalan terakhir. cuman godaan itu memang susah dihindari di indo, karena tenaga pembantu ini tergolong murah. too affordable sehingga kita dimanjakan.

    yah, itu idealnya yah. ato demikian prinsipnya. saya ngga mengatakan saya superman yang bisa melakukan semuanya sendiri. i'm guilty as charged, di aptku yang skarang juga baru2 ini ada minta cleaner yang dateng untuk bersih2 rumah sekali seminggu, skali dateng bbrp jam aja (mahal bo ), karena saya sering lembur dan faktor kesibukan sendiri. tapi saya juga berusaha untuk tidak men-demand gaya hidup yang berlebihan sampe di luar kemampuanku sendiri, yang at least mayoritas masi mampu kujalankan, dan semampunya menjalankan hidup sedekat mungkin dengan prinsip self-sustaining itu.

    biarpun saya hidupnya udah lumayan simpel, tapi honestly saya masi merasa perlu downsize lagi. mungkin pindah ke tumbleweed house (http://www.tumbleweedhouses.com/)
    Last edited by ndugu; 02-02-2012 at 07:20 PM.

  18. #58
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Pengen juga sih punya pembantu yang cantik kayak Dian Sastro... kerja 24 jam sehari buat layanin gue

    Spoiler for pembokat:

  19. #59
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    ^^
    24 jam? mau disuruh apa aja itu om?

    untuk di kota-kota besar saya rasa di Indonesia pun sulit mencari asisten RT dan asisten RT bukanlah tenaga kerja murah
    bila dibandingkan dengan pendapatan masyarakat kelas menengah, apalagi yang resmi. Menurut saya lebih ke budaya
    yang ingin dilayani. Para pejabat yang seharusnya melayani masyarakat pun keinginannya dilayani. Saya pernah mendengar
    percakapan antara dua perempuan dalam perjalan pulang kantor yang mengatakan tidak ingin menjadi perawat (padahal
    sekolah keperawatan) karena menurutnya seorang perawat adalah pembantu, harus melayani orang lain.

  20. #60
    pelanggan sejati ndugu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    7,679
    Spoiler for contoh:

    WIK
    IPE
    DIA

    AEROP
    OSTAL
    EISAW
    ESOME

    BAKS
    OENA
    KBAN
    GETT

    which graphic designer came up with that idea?
    dumbest, stupidest, idiotic idea. it's not even catchy. bahkan tulisan yang disusun vertically down masih lebih mudah dibaca daripada yang ini.
    ntah lah apa nama konsep design typografi seperti itu. but it should be banned.


    seriously
    Last edited by ndugu; 17-02-2012 at 01:57 PM.

Page 3 of 18 FirstFirst 1234513 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •