Bagaimana jika semua ayat salah dipahami? Sebagai seorang pedagang buta huruf,
Muhammad bergantung pada para pencatat untuk mencatat kata-kata yang didengarnya
dari Allah. Kadang-kadang, Nabi sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa untuk
menguraikan apa yang ia dengar. Itulah bagaimana “ayat-ayat setan”—ayat-ayat yang
memuja berhala—dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat
otentik untuk Al-Quran. Nabi kemudian mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu
daya Setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para
filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah
memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan Al-Quran.