Justru hal2 seperti itu sudah diantisipasi dlm penanggalan radioaktif. Caranya dgn mengukur kadar isotop anak yg radioaktif terhadap isotop anak yg stabil. Kemudian dibuatkan garis regresi linier. Dari kemiringan garis tsb dapat diketahui usia batuannya (yg pernah praktikum fisika dasar pasti biasa dgn metode regresi linier tsb). Jadi tidak selalu dimulai dgn asumsi isotop anak mula-mula 0.
Sains sangat hati2 dlm menentukan kuantitas sesuatu. Jika sains ingin mengetahui sudah berapa lama batuan terbentuk, maka segala kemungkinan diperhatikan, bahkan perlu konfirmasi dgn metode yg berbeda. Sains tidak menentukan dulu umurnya harus sekian, melainkan meningkatkan evidensi dari suatu hasil pengukuran melalui pengukuran2 lainnya.
Sangat berbeda dgn evangelist, yg menentukan dulu umur bumi sekian, kemudian dgn segala cara dicocok2an. Mosok yg beginian mau dimasukin ke kurikulum pendidikan? Apa mau mengajarkan cara2 memanipulasi pada anak didik? Bisa2 anak didik jadi koruptor semua nanti. Jadi gerakan evangelist ini perlu dihambat dan bila perlu dihentikan karena sangat merugikan moralitas anak didik dan generasi muda. Sejarah sudah membuktikan itu.
Alternatifnya adalah reinterpretasi teks2 kitab suci. Dgn reinterpretasi, justru pemahaman pada kitab suci tsb akan semakin baik. Caranya? Perlakukan kitab suci sbg firman tuhan yg diturunkan sesuai situasi dan kondisi zaman pada saat itu. Jadi, tuhan berdialektika dengan zaman. Dgn begitu, ente tetap seorang teis, sehingga terbebas dari ancaman neraka, lalu setelah mati nanti, melenggang masuk surga.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote