^
dia kan urju
daun bayem pun boleh dibilang tembakau (toh masih abad ke-5)
^
dia kan urju
daun bayem pun boleh dibilang tembakau (toh masih abad ke-5)
Yang jadi problem, kalian mau bikin ini-itu, tau caranya gak ?
apa susahnya membuat bubuk mesiu sederhana?
apa susahnya membuat slingshot berbahan kayu
bercagak dan usus hewan?
kalau kepala suku sudah terpukau, gw bisa minta
bantuan anak buahnya untuk membantu membuat
trebuchet dan catapult. jadilah gw penasihat militer.
Selanjutnya gw ajarkan 26 alfabet latin dan 10 angka
desimal... gw jadi guru besar kerajaan...
lah lu kan nanya, mau apa kita...banyak nuntut lu![]()
Ga ada yg ngajarin teknik bercinta ala kamasutra?simpel dan gampang nih
![]()
Jangan2 kamasutra udah ada sejak sebelum masehi, trus lu dibilang sebagai orang yg ketinggalan jaman
---------- Post added at 10:49 AM ---------- Previous post was at 10:48 AM ----------
Kepala suku punya anak perempuan kesayangan, karena sangat sayang maka anak itu dikasi makan terus, beratnya 180kg![]()
setidaknya loe jadi punya pasangan untuk memprak
tekkan Kamasutra, setelah itu istri loe akan promo
ke teman-temannya, yang akan ngantri jadi selir-
selir loe...
tapi tetap, loe harus pamer kemampuan bubuk me
siu untuk memukau kepala suku, terlebih dahulu.
gw pura2 jadi orang gak ngerti aja deh, daripada ngasih ide ini-itu, tapi terus malah jadi bumerang gw disuruh2 melulu.
gak kelar malah digantung![]()
gwe entar kalo beneran terlempar ke masa lalu, cukup nyeret rumus, aslan dan ronggo...gwe suruh kalian bertiga yang kerja, gwe nikmati hasilnya![]()
sorry, masih bahasa inggris
21st century Hong Kong
Hong Siu-lung is a 21st century VIPPU special agent in Hong Kong. In the first episode, Hong and his colleagues stand guard at an exhibition of the First Emperor's Terracotta Army. One of Hong's colleagues notices that one of the terracotta warriors bears a striking resemblance to Hong. Moments later, wealthy businessman Lee Siu-chiu is attacked and held hostage at the museum by a madman who had suffered losses in the stock market. Hong rescues Lee and defuses the crisis.
Hong is unhappy despite his success in his career. He has just broken up with his girlfriend, Chun Ching, after a seven-year long relationship. She insisted that they tie the knot but he preferred to continue their relationship without a proper marriage. Chun married another man and Hong becomes depressed.
Time travelling
Impressed with Hong's rescue attempt earlier, Lee Siu-chiu and Doctor Wu Yau recruit him for a secret time-travelling experiment. Hong agrees to help them in exchange for an opportunity to travel back in time to salvage his failed relationship with Chun Ching. He is tasked to travel back more than two thousand years in time to China's Qin Dynasty era, half an hour prior to the coronation of Ying Ching in 247 BC, and document the event with a digital camera before a swift departure. However, a critical error occurs during the traveling stage and Hong returns further back in time by three years than originally planned. He is now trapped in the Zhao state of the Warring States Period in 250 BC.
In order to return to the future, Hong has to make an arduous journey across thousands of miles in ancient China to activate a device at a specific location and time. He was warned that making even a slight change in the grand scheme of events will trigger a chain reaction of catastrophes that will alter history.
Warring States Period
Hong enjoys a series of adventures in history. His knowledge of the 21st century, intelligence and experience as an elite special agent, as well as his prowess in martial arts, enables him to make a strong stand in history. He enters the service of various lords and nobles, and becomes a valuable ally to them. Concurrently, he becomes involved in romantic relationships with four women. The first, Sin-yau, is a wandering female assassin and the first person he meets after travelling back in time. The second, Wu Ting-fong, is the beautiful but spoiled daughter of a wealthy noble. The third is a pretty female scholar named Kam Ching, who resembles his 21st century girlfriend Chun Ching in appearance and shares a similar name. The last is Princess Chiu Sin, the daughter of the king of Zhao, who dies in a tragic incident later. He also befriends the king's sister Chiu Nga and her son Chiu Poon. Meanwhile, he foils the evil plans of Chiu Muk, a secret agent from the Chu state, and becomes Chiu's enemy. Chiu Muk's henchman Lin Chun also sees Hong as his greatest rival.
Helping Ying Ching rise to power
As Hong's future is dependent on Ying Ching's succession to the throne of the Qin state, it is imperative that he makes the event a success. Hong tracks down Ying, who is held hostage in Zhao, and Ying's mother, Lady Chu Kei. However, he is shocked to discover that the real Ying has died. As Lady Chu had never seen her son after his birth, she mistakes Chiu Poon as her son. Desperate to return to the 21st century, he forces Chiu to impersonate the deceased Ying Ching.
They return to Qin together and face new threats from the chancellor Lui But-wai and his right-hand man, Lo Oi. Lui believes that he is Ying Ching's biological father and he schemes to place his son on the throne and secure his power over the empire. Lo Oi, on the other hand, is actually Lin Chun, and he is aware of Ying Ching's true identity. Hong helps Ying clear all obstacles to the path to the throne and Ying eventually becomes the king of Qin.
Although having accomplished his mission, Hong's hope of returning to the 21st century is ruined when the time signalling device fails to work as the battery has expired. In panic, Hong recalls some lessons at school about electricity and he enlists the help of his friends to build a new power source. The experiment is successful but Hong hesitates to return home at the last minute because he has already developed true feelings for Kam Ching and Wu Ting-fong.
Hong stays behind and continues to aid Ying Ching in building the new Qin Dynasty through the annexation of the other seven states and reunification of China. Ying holds absolute power and gradually becomes more corruptedy, morphing from the original naive and kind Chiu Poon into the ruthless tyrant Chun Chi Wong.
Destiny
Ying sees Hong as a valuable ally in his future endeavours and wants to retain him as an adviser. However, Hong begins to feel sorry when he sees the evil creation of his efforts, fulfilling the predestination paradox. He is aware that he is not destined to leave his mark in history and refuses to stay in the imperial court. He leaves with Wu Ting-fong and Kam Ching, who are both happily married to him at last. Ying sends his troops to pursue Hong, based on the notion that "if you're not with me, then you're against me". Eventually, Ying decides to send Hong into exile and he decrees that the name "Hong Siu-lung" shall henceforth be extinct. All books and historical records pertaining to Hong are ordered to be destroyed, which leads to Chun Chi Wong's notorious practice of the burning of books and burying of scholars.
Hong and his family find paradise in the plains far away from the urban regions. Hong and Wu Ting-fong have a son. In the final moments of the last episode, Hong's son is revealed to be Hong Yu, who will eventually grow up to become a prominent military general and overthrow the Qin Dynasty.
intinya bubuk mesiu ya, Gik![]()
Gw mah ngincar kepala sukunya lgsg, bukan ngincar anak perempuannyatrus jadi evil queen
![]()
Demonstrasi bubuk mesiu, untuk mendapatkan ke
percayaan dari kepala suku... jadi kita bisa mere
krut asisten...
Tahukah anda tentang “bubuk mesiu” yang pada masa peperangan jaman dahulu digunakan sebagai salah satu bahan peledak untuk menghasilkan suatu ledakan yang dahsyat yang dapat menghancurkan benda padat waktu itu. Awal mula ide pembuatan “bubuk mesiu” ini ternyata berasal dari Tiongkok kuno yang bertujuan untuk hiburan semata dan bukan untuk kepentingan militer.
Para leluhur Tiongkok kuno menganggap “bubuk mesiu tersebut sangatlah unik, karena efek yang dihasilkannya dalam bentuk visual tersebut. Sehingga setiap Festival Musim Semi, rakyat Cina senang sekali menyalakan kembang api dan juga petasan dan sering disebut pula sebagai “roket langit” yang telah dikembangkan dari petasan, yang terdiri dari tiga bagian utama: sumbu, roket penggerak, dan juga bubuk mesiu.
“Bubuk Mesiu” ini merupakan salah satu penemuan terbesar dari ke empat penemuan besar oleh Tiongkok kuno pada waktu itu dan merupakan peledak pertama yang digunakan oleh manusia. Pada awal mulanya, Kaisar Wu (157-87 SM) dari dinasti Han memerintahkan para ahli kimianya untuk melakukan penelitian dalam menemukan rahasia hidup abadi bagi sang Kaisar. Bahan yang digunakan sebagai bahan pengujian oleh para ahli kimia tersebut adalah belerang dan potassium nitrat, dengan cara memanaskan substansi-substansi tersebut.
Seorang ahli kimia yang ternama mencampurkan 75 persen potassium nitrat dengan 15 persen arang dan 10 persen belerang. Akan tetapi, campuran dari substansi tersebut tidak menunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan obat rahasia “hidup abadi” justru campuran tersebut menghasilkan ledakan dan menghasilkan cahaya ketika berdekatan dengan api. Penemuan tersebut justru memberikan suatu inspirasi bagi para ahli kimia dari Tiongkok kuno tersebut, mereka takjub akan percikan api yang dihasilkan oleh perpaduan dari belerang nitrat dan substansi lainnya sehingga mereka menemukan sebuah formula “bubuk mesiu”.
Para leluhur kemudian memanfaatkan penemuan tersebut untuk menghibur rakyat-rakyat Tionghoa karena mereka terkesima akan efek visual yang dihasilkan oleh percikan-percikan api dari perpaduan bahan tersebut. Disebutkan pada masa Tiga Negara, seorang pandai besi yang bernama, Ma Jun membuat “kembang api” untuk memberikan hiburan dengan cara membungkus “bubuk mesiu” tersebut dalam kertas dan membakarnya. Namun, formula pembuatan “bubuk mesiu” tersebut diketahui oleh para ahli perang dan kemudian dikembangkan menjadi bubuk hitam yang digunakan untuk perang.
Dalam beberapa catatan sejarah yang ada selama bertahun-tahun menyebutkan bahwa warga Tionghoa hanya memanfaatkan penemuan tersebut sebagai petasan dan kembang api saja. Namun ternyata hal tersebut tidaklah benar, karena terdapat catatan sejarah lainnya yang menyebutkan bahwa terdapat sebuah peperangan yang melawan pengepungan dengan menggunakan “api terbang” pada masa akhir Dinasti Tang (sekitar 850 M). Para prajurit memanfaatkan lontaran batu yang telah dibubuhkan beberapa paket “bubuk mesiu” yang dinyalakan untuk membakar musuh yang mengepung mereka.
Penemuan ini kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Dinasti Song (904 M) dengan mendirikan bengkel bubuk mesiu, yang memproduksi senjata berbahaya atau mudah meledak seperti “mortar”, “roket”, dan “misil” dalam periode yang berbeda-beda untuk melawan Bangsa Mongolia yang menjadi musuh utama mereka. Alat-alat perang tersebut membuat musuh ketakutan, mereka menganggap senjata yang berasal dari “bubuk mesiu” yang digunakan tersebut tampak seperti ilmu sihir yang menakutkan.
Lambat laun, ilmu pengetahuan tentang bahan yang menakjubkan tersebut diketahui oleh orang-orang asing. Pada tahun 1076, pemerintah Song sempat melarang penjualan potassium nitrat (bahan utama pembuatan “bubuk mesiu”) tersebut kepada orang asing, akan tetapi hal itu sudah terlambat dan telah tersebar melalui Jalan Sutera (rute atau jalur perdagangan yang menghubungkan Cina dengan Negara-negara Asia Selatan) sampai ke India, Timur Tengah, bahkan Negara-negara di Eropa. Kemudian pada abad ke-12 dan ke-13, “bubuk mesiu” diperkenalkan ke Negara-negara Arab sebelum akhirnya diperkenalkan ke Yunani dan Negara Eropa lainnya dan menandai juga berakhirnya “era senjata dingin” dan memulai bab baru dalam sejarah perang yang menyebabkan dampak yang lebih besar bagi perkembangan sejarah manusia.
“Bubuk mesiu” menjadi primadona kelas atas pada masa peperangan waktu itu. Pada abad ke-16 masa pemerintahan Dinasti Ming, beberapa sebutan alat perang yang menggunakan “bubuk mesiu” tersebut terus dikembangkan tanpa henti. Shennong bahkan membuat buku tentang material pengobatan penting yang memanfaatkan “bubuk mesiu” yang berjudul “Classics of Material Medical” (Material Pengobatan Klasik), yaitu pengobatan klasik pertama di Cina yang dibuat pada masa Dinasti Han. Hal ini didukung pula dengan adanya penemuan bukti tentang Compendium of Material Medical (Ikhtisar Material Pengobatan) oleh Li Shizhen pada masa Dinasti Ming, yang menyebutkan “bubuk mesiu” dijadikan sebagai anthelmintik yang dapat mengobati rasa nyeri dan penyakit kulit.
ga ngasih ilmu apa2
dan ga ngapa2in juga![]()
because, imagination is a part of reality-