Penekannya bukan di situ. Tetapi mungkin lebih kepada kesadaran hemat energi, selain tentu saja karena harga BBM mahal karena tidak ada subsidi.
Maksudnya itu, orang yang punya mobilpun juga tidak setiap bepergian pasti naik mobil sendiri. Kalau memang tidak terlalu jauh dan keadaan memungkinkan (cuaca tidak terik, tidak hujan, dsb) ya tidak perlu pakai mobil sendiri.
Orang miskinpun kalau tiba-tiba dikasih uang banyak yang cukup sekali buat beli mobil, belum tentu dia beli mobil. Punya mobil malah harus bayar pajak, menyiapkan garasi (yang butuh biaya ekstra buat yang tinggal di apartemen), bayar parkir, biaya bahan bakar, dan tentu saja biaya perawatan.
Jadi penekannya bukan orang tidak naik mobil karena memang tidak mampu beli tapi lebih luas dari itu. Di kota-kota besar tentu transportasi sepeda tidak cukup untuk jarak yang jauh. Sepeda biasanya efektif untuk jarak dibawah 5 KM. Untuk jarak yang lebih jauh, seperti ditulis juga dalam artikel tersebut, orang mengandalkan transportasi yang memang disediakan untuk rakyat seperti bis, kereta, dan kereta bawah tanah.
Mengenai kesenjangan yang ada tentu saja itu menjadi problem di setiap negara, terutama negara berkembang. Orang yang berpunya cenderung untuk memanjakan dirinya tanpa peduli pada keadaan sekelilingnya. Hal ini juga terjadi di RRC. Namun tingkat kesenjangannya tidak separah seperti di Indonesia. Di sana yang bisa kaya sekali adalah para pengusaha. Kaum profesional tidak mungkin menjadi sangat kaya, kecuali dia punya usaha sampingan yang berarti dia menjadi pengusaha juga. Perbedaan gaji untuk tingkat terbawah dengan tingkat teratas tidaklah sebesar seperti di sini.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





Reply With Quote