-
Chief Cook
ada copas menarik :
Hampir seluruh persoalan hidup bermula dari ketidakmauan kita menerima hidup ini apa adanya. Kita tak mampu berkompromi pada kenyataan. Kita tak sudi melepaskan kacamata paradigma dan melihat realitas secara sederhana. Kita lebih suka bermain-main dengan persepsi. Kita lebih senang berlindung membenarkan pikiran diri sendiri. Padahal itu adalah bentuk lain dari belenggu sehari-hari.
Mari, sejenak kita pejamkan mata. Menemukan kesejukan pikiran. Menggali ketentraman perasaan. Menyentuh jiwa yang tenang. Menekuri setiap tarikan nafas. Menyadari keberadaan kita di bumi ini. Meneguhkan kembali ikrar kita pada semesta yang agung; ikrar untuk mencurahkan yang terbaik bagi hidup ini, dan membiarkan tangan-tanganNya menuntun setiap gerak kita sehari-hari.
-
Happy-unhappy itu seperti dua sisi koin.
Kalo mau hidup didunia, ya harus dipake koinnya. Kalo cuma mau sisi happy terus, koinnya gak laku. Apalagi cuma sisi unhappynya doang, lebih gak laku. Gimana mau laku, gak ada yg minat soalnya.
Satu lagi aturannya, selama memakai koin tsb konsekuensinya adalah akan terus terhanyut mengalami dua hal tsb sampe mati. Siapa yg terhanyut karena rasa senang, suatu saat akan tenggelam dalam rasa sedih. Begitu juga sebaliknya, siapa yg tenggelam dalam rasa sedih suatu saat akan melambung tinggi karena rasa senang.
Itulah dunia orang awam, dunia dualisme. Hidupnya sepenuhnya dikendalikan oleh dua keadaan. Disaat senang bersyukur, disaat susah berdoa. Jadi dimeja tuhan itu paling tinggi tumpukan doa orang usah dan bersyukur. Tidak ada kendali atas dirinya sendiri, tidak ada kuasa atas hidupnya sendiri. Hidupnya dikendalikan senang dan susah. Kondisi hatinya dikontrol hanya dua hal itu saja.
Tapi ternyata ada jalan hidup non-awam. Melebih dunia dualisme, dimana hidupnya tidak pake koin lagi. Saat saya tanya, bagaimana anda bisa hidup bertransaksi didunia ini tanpa koin?
Jawab mereka, koinnya sudah kami kembalikan kepada Tuhan, sebagai sejatinya pemilik segala sesuatu.
Saya bertanya, lantas? Transaksinya gimana?
Mereka menjawab, tuhan memberikan kami voucher freepass yang bisa kami pakai nanti diakhirat juga.
Singkatnya gimana? Koin tidak dipakai? Diserahkan kepada tuhan? Saya terus bertanya
Jadi setiap kami mengalami rasa senang dan mulai terhanyut dalam ekstasi kami berdoa, terima kasih tuhan atas rasa senang ini. Terima kasih sudah mampir dihati kami, kami kembalikan rasa senang ini kepadamu tuhan sebagai sejatinya pemilik segala sesuatu.
Pun demikian adanya, ketika kesusahan melanda kami berdoa terima kasih sudah singgah di hati, kami kembalikan rasa susah dihati ini kepadamu sebagai sejatinya pemilik segala sesuatu.
Latian pelepasan ini harus dilakukan setiap hari. Agar saat ajal menjemput tidak lagi susah melepas, mengikhlaskan dunia seisinya, anak, suami, istri, orang tua, harta, utang. Agar saat ajal menjemput senyum tersungging seraya berujar
Dear Lord, this life you have given unto me I surrender it back to you with all my thanks
-
Chief Cook
Tags for this Thread
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules