@234
Di postingan sebelumnya, ane cuman mo memperjelas dulu kapan term percaya dipake. Sementara contoh ente itu (kesandung batu), menurut ane, lebih dekat ke term dugaan. Bisa saja dari dugaan kemudian menjadi percaya. Tapi term percaya setidaknya perlu informasi samping sebagai dasar utk menerima. Ane melihat percaya perlu waktu, tidak sekejap (muncul di benak), terutama ketika informasi samping sangat minim. Bisa saja ketika masih fase menduga, kemudian menjadi tahu, tanpa perlu percaya dulu. Jadi tidak melulu percaya dulu, tahu kemudian.
Kebanyakan orang beragama dari orang tua. Anak akan percaya apa yg disampaikan oleh orang tua. Orang tua adalah sebuah informasi samping yg sudah diketahui kualitasnya oleh sang anak. Seorang anak belum tentu menerima ajaran agama yg disampaikan oleh orang lain. Jadi, percaya tidak terjadi begitu saja seperti muncul di dalam benak.
Ini curious saja, kenapa ente perlu menunjukkan bahwa percaya lebih dulu terjadi dibandingkan tahu?
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote





...segitu aje? Kirain mo elaborasi lagi lebih jauh mana yg lebih dahulu, percaya atau tahu?

