Quote Originally Posted by purba View Post
Ane makin gak jelas apa yg ente maksud dgn percaya.
Ah masa?

Quote Originally Posted by purba View Post
Jika semakin minim informasi samping semakin besar utk percaya,...
Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?

Quote Originally Posted by purba View Post
...maka semakin banyak informasi samping semakin kecil utk percaya. Apa gak aneh?
Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.

Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).

Konsekuensi logisnya, semakin banyak informasi samping akan semakin lama/panjang proses penyaringannya, dus keputusan untuk percaya atau tidak percaya butuh proses lebih dibandingkan kalau informasi sampingnya minim.

Ndak ada yang aneh kok.

Quote Originally Posted by purba View Post
Menurut ane, semakin banyak informasi samping yg dimiliki seseorang, semakin mudah utk memutuskan utk percaya atau tidak. Sebaliknya, jika semakin minim, semakin sulit utk memutuskan percaya atau tidak.
Bisa aja kalo mau dilihat dari cara pandang seperti itu. Tapi disini anda sudah mulai bias dgn persoalan "nilai" (benar-salah). Tipikal cara berpikir orang "eksak/science". Saya bisa maklum kok.

Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).

Quote Originally Posted by purba View Post
Jika kosong sama sekali, bisa tidak ada keputusan.
Kalo soal bisa atau ndak bisa sih saya setuju2 aja, itu terserah ybs sebagai pengambil keputusan. Tapi persoalannya disini kita sedang mbahas soal peluang.

Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?

Quote Originally Posted by purba View Post
Anak tidak dalam kondisi kosong.
Memang ndak. Saya bilang relatif kosong. Artinya relatif lebih minim dibandingkan dgn orang dewasa.

Quote Originally Posted by purba View Post
Isi benak mereka didominasi oleh orang tua.
Lebih tepatnya oleh orang (dewasa) terdekatnya. Kalau anak itu dari bayi diasuh pamannya ya dia lebih percaya pamannya daripada orang tuanya. Demikian juga kalo dia diasuh engkongnya.

Quote Originally Posted by purba View Post
Orang tua itulah informasi samping terkuat yg mereka miliki. Karena itu mereka lebih mudah menerima apa yg dikatakan oleh orang tuanya dari pada orang lain.
Kalo ini saya agak ndak mudeng maksudnya, coba anda jelaskan antara dua hal yang saya garis bawahi itu korelasinya seperti apa.

Kalo coba saya nebak2 maksudnya, ya tentu saja begitu karena antara "informasi samping" (garis bawah pertama) dengan "informasi baru" (garis bawah kedua) isinya berkesesuaian karena bersumber dari pihak yang sama (orang tua). Ya jelas anak itu langsung terima (percaya).