Ah masa?
Betul. Lha "informasi samping" sendiri itu menurut anda apa sih? Bukannya itu adalah "side information" yg berfungsi untuk memfilter setiap ada informasi baru yang masuk, sebagai tools untuk mengambil keputusan menerima (percaya) ato menolak (tidak percaya) thd informasi baru tsb?
Itu kesimpulan sampeyan sendiri. Memang aneh. Dan saya ndak bilang seperti gitu. Coba sampeyan cermati lagi tulisan saya yang anda kutip.
Percaya atau tidak percaya itu, salah satu faktor penentunya, adalah tergantung kesesuaian antara informasi samping yang dimiliki dgn informasi baru yang diterima, semakin sesuai semakin besar peluang untuk percaya dan semakin tidak sesuai, apalagi bertentangan, akan semakin besar peluang untuk ditolak (tidak percaya).
Konsekuensi logisnya, semakin banyak informasi samping akan semakin lama/panjang proses penyaringannya, dus keputusan untuk percaya atau tidak percaya butuh proses lebih dibandingkan kalau informasi sampingnya minim.
Ndak ada yang aneh kok.
Bisa aja kalo mau dilihat dari cara pandang seperti itu. Tapi disini anda sudah mulai bias dgn persoalan "nilai" (benar-salah). Tipikal cara berpikir orang "eksak/science". Saya bisa maklum kok.
Tapi itu bertabrakan dgn pernyataan sampeyan sebelumnya yng menyatakan bahwa percaya itu ndak perlu bukti, atau dengan kata lain bebas dari nilai, lha wong pembuktian itu kan untuk menguji nilai benar-salah dari sebuah pernyataan. Lain ceritanya kalo kita bicara ttg penge-tahu-an (knowledge).
Kalo soal bisa atau ndak bisa sih saya setuju2 aja, itu terserah ybs sebagai pengambil keputusan. Tapi persoalannya disini kita sedang mbahas soal peluang.
Lha kalo ndak ada sama sekali informasi samping alias "kosong", lalu peluangnya/dasarnya darimana seseorang menolak (tidak percaya) thd sebuah informasi yng masuk?
Memang ndak. Saya bilang relatif kosong. Artinya relatif lebih minim dibandingkan dgn orang dewasa.
Lebih tepatnya oleh orang (dewasa) terdekatnya. Kalau anak itu dari bayi diasuh pamannya ya dia lebih percaya pamannya daripada orang tuanya. Demikian juga kalo dia diasuh engkongnya.
Kalo ini saya agak ndak mudeng maksudnya, coba anda jelaskan antara dua hal yang saya garis bawahi itu korelasinya seperti apa.
Kalo coba saya nebak2 maksudnya, ya tentu saja begitu karena antara "informasi samping" (garis bawah pertama) dengan "informasi baru" (garis bawah kedua) isinya berkesesuaian karena bersumber dari pihak yang sama (orang tua). Ya jelas anak itu langsung terima (percaya).
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)






Reply With Quote