Page 3 of 3 FirstFirst 123
Results 41 to 59 of 59

Thread: MLM = Working Hard? atau Working Smart?

  1. #41
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Pertama, kita lihat dari sisi perusahaan penjualan, dan kita bicara sistem MLM yang valid. Bukan money game.

    Dulu, waktu belajar jadi sales manager, saya diajari itung-itungan soal komposisi tenaga sales yang optimal... jadi menghitung berapa jumlah sales yang dibutuhkan untuk meliput suatu pasar tertentu, baik secara wilayah geografis maupun sektoral, baik pasar rumah tangga (fast moving consumer goods-FMCG) maupun industrial. Singkat cerita, intinya ada jumlah tertentu yang optimal... kurang dari itu berarti ada pasar yang tidak tergarap, lebih dari itu berarti operasi kita nggak efisien...

    MLM adalah direct violation dari hitungan itu...

    Kenapa? Karena prinsip MLM adalah merekrut tenaga sales sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin bagus.

    Kalau ditanya lagi, kok bisa? Bukankah semakin banyak tenaga sales maka operasi jadi tidak efisien?

    Ooo... bisaaaa....
    khan biaya ditanggung oleh para sales?

    eng... ing... eeeeeng...

    Kalau di sebuah perusahaan penjualan, operasional penjualan menjadi tanggungan perusahaan, misalnya gaji sales, leasing kendaraan sales, bensin mereka, training-training mereka... dan sebagainya.

    Di MLM? Semua tanggungan para sales sendiri (disebutnya distributor).
    Mau prospecting ke luar kota? Biaya transport ya ditanggung si distributor... lah wong dia independent business owner kok. Perusahaan gak keluar biaya apa-apa.

    Training-training?
    khan pertemuan dan pelatihan itu diselenggarakan oleh upline yang sudah punya modal? Perusahaan malah bisa jualan paket-paket pelatihan... ada untung tambahan

    Stok?
    Perusahaan penjualan biasanya memberi tenggang pada distributor atau salesnya. Katakanlah tiga puluh hari. Jadi distributor bisa membangung stok dulu, melakukan penjualan, baru bayar.

    Di MLM? Oooo... para distributor harus beli tunai dong... khan itu untuk bisnis mereka sendiri

    Jadi MLM adalah mekanisme yang sangat murah buat jualan barang. Sebagian besar beban dialihkan ke para independent business owner, alias distributor, alias para visioner itu <ahem

  2. #42
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Jadi distributor MLM?
    tapi bukankah pada akhirnya dunia sales MLM akan jenuh? Yaitu ketika semua orang sudah masuk jadi distributor MLM?

    Tidak dong... nyatanya sampai sekarang masih banyak orang belum terlibat MLM.

    Kok bisa begitu?
    Ya karena banyak yang gagal dan keluar

    Dunia sales adalah dunia yang keras... hanya dua puluh persen salesperson bisa bertahan dan menjadi sales yang sukses, delapan puluh persen sisanya akhirnya keluar. Ini sudah kebiasaan di perusahaan penjualan, bisa dibilang setiap tahun selalu ada rekrutmen salesperson baru untuk menggantikan mereka yang keluar. It is statistic, we cannot do anything.

    MLM juga sama... malah lebih parah. Tuh, paste-nya Aslan, malah cuma 1% yang bertahan.

    Kalau di perusahaan penjualan, semua sudah dihitung. Termasuk biaya untuk mempekerjakan salesperson yang paling cuma akan bertahan sebentar (rekrutmen dan pelatihan itu mahal loh).

    Di MLM tidak masalah. Orang boleh masuk... coba-coba sebentar... bayar ikut pertemuan dan pelatihan (atau dibayari upline)... beli barang buat stock atau jualan... lalu keluar. Semua atas biaya si orang itu sendiri.

    Buat perusahaan, si orang itu sudah jual barang sedikit. Gakpapa, toh gak pake biaya.
    Buat upline, si orang sudah ngasih poin sedikit. Gakpapa juga. Tinggal cari korban lain.

    Si orang itu?
    Dia sudah keluar biaya untuk pelatihan, starter kit, stok barang (tunai)... kemudian merasa tidak untung... lalu keluar. Kemungkinan besar pengeluarannya lebih besar dari pemasukannya di MLM itu.

    Maka dia-pun keluar dengan status sebagai orang yang visi-nya kurang kuat, tidak berpikir positif... dan sebagainya udah rugi, dibilang negatip pulak... Padahal ya memang dia cuma jadi korban keniscayaan statistik.

    Jadi MLM adalah bisnis yang by design mengharuskan ada orang yang masuk sebentar dan keluar... yang jumlahnya mungkin 80% dari populasi distributor (kalau mengacu ke statistik penjualan, kalau statistiknya Aslan, 99%). Kalau disain ini tidak jalan... maka semua orang akan jadi distributor sukses, yang tentu saja mustahil. Harus ada yang gagal, dan harus minimal 80% gagal. Dari mereka inilah para upline mengumpulkan poin yang wah.

  3. #43
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Jadinya MLM tetap akan bertahan lama, karena secara hukum memang tidak bisa dibuktikan cacatnya. Toh, distributor yang bergabung adalah independen business owner yang siap rugi.

    Yah,
    dikembalikan ke kita.

    Setiap orang punya impian hidup sejahtera, atau ketakutan atas hidup merana. Tapi jangan sampai impian dan ketakutan itu ditunggangi orang lain untuk kepentingan mereka semata.

  4. #44
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    papa alip kereeeeeeeeeeeeen...
    aku suka ulasannya
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  5. #45
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    trims Kop Alip
    bertambah lagi info tentang MLM

    * sodorin 2 cangkir kopi ke Kop Alip

  6. #46
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    tambah 2 gelas kopi lagi buat kop Alip... semoga gak bludreg

  7. #47
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Ane kira pers dgn MLM maupun tidak adalah sama saja. Yg diuntungkan adalah para top level. Kalo grassroot mah tetep aja hidupnya gitu2 aja.

    Top level MLM jelas mengetahui jumlah sales optimum utk suatu pasar. Bedanya dgn pers biasa, MLM tidak perlu menghitung dan mengatur sendiri berapa sales optimum yg dibutuhkan utk suatu pasar tertentu, melainkan diserahkan langsung pada mekanisme pasar. Downliner/sales tidak akan tercipta terus-menerus, suatu saat akan mencapai titik optimum. Ketika titik tersebut tercapai, pers yg menerapkan MLM akan berjalan dgn mapan.


  8. #48
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Rasanya perusahaan dengan sistim MLM murni malah lebih tinggi biaya operasionalnya, terutama karena para distributor meminta share yg tinggi, lebih tinggi daripada total biaya marketing dan distribusi dalam perusahaan biasa.

    Makanya, ujung2nya semua produk MLM pasti lebih mahal dari produk biasa, gak efisien sih soalnya.

  9. #49
    dokter RSJ - KM ancuur's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Location
    RSJ - KM Jabatan:____ Dokter Jiwa
    Posts
    15,694
    nyimak ..

  10. #50
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Duh, gak bisa tidur... kebanyakan dikasih kupi....

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Rasanya perusahaan dengan sistim MLM murni malah lebih tinggi biaya operasionalnya, terutama karena para distributor meminta share yg tinggi, lebih tinggi daripada total biaya marketing dan distribusi dalam perusahaan biasa.
    Tapi nggak gitu juga loh, Lan.
    Bonus yang diberikan ke para distributor masih berada dalam hitungan yang wajar, meskipun kesannya seorang distributor sukses bisa mendapat bonus jut-jutan. Apalagi jangan lupa bahwa semua itu merupakan biaya variabel... sekian persen dari total volume penjualan.

    Perusahaan MLM minim biaya tetap (fixed cost) di bidang penjualan... yang justru merupakan porsi biaya paling banyak.

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Makanya, ujung2nya semua produk MLM pasti lebih mahal dari produk biasa, gak efisien sih soalnya.
    Itu karena penempatan (positioning) ... coba bayangin MLM jualan beras jatah pegawai negeri.

    Quote Originally Posted by Purba
    Ane kira pers dgn MLM maupun tidak adalah sama saja. Yg diuntungkan adalah para top level. Kalo grassroot mah tetep aja hidupnya gitu2 aja.
    Ya ada bedanya dong, Mbah Purb...
    Orang-orang sebuah perusahaan dagang bekerja karena ada pertemuan kepentingan. Si pengusaha butuh barangnya laku, dan si salesperson butuh gaji dan bonusnya... keduanya klop dan bisa kerjasama. Dalam hal ini si pengusaha dibebani kewajiban untuk mengusahakan kemampuan operasional si salesperson, misalnya kendaraan dan bensinnya, juga tanggung jawab atas kesejahteraan si salesperson sampai pada batasan tertentu, misalnya upah minimum dan jamsostek... kadang-kadang lebih dari itu, tergantung kecenderungan moralitas si pengusaha. Ini berlaku pula untuk salesperson yang diperkirakan cuma akan bertahan beberapa waktu.

    MLM nggak geto... distributor dianggap sebagai manusia yang harus bisa jalan sendiri. Perusahaan cuma punya urusan menyalurkan barang. Di sini kepentingannya bukan sekedar nggak ketemu, tapi cenderung eksploitatif.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  11. #51
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    asik nih...perlu share ke FB

  12. #52
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by BundaNa View Post
    asik nih...perlu share ke FB
    Ati2 bu, ini berpotensi menimbulkan perdebatan keras dari kalangan praktisi MLM.
    Banyak orang yg sedang menggantungkan harapan di MLM.

  13. #53
    Chief Cook GiKu's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    10,315
    di share aja Buw...

    ada juga yg sampe ngutang2 demi ikut MLM, padahal kehidupan keluarganya yg pas-pasan dan akhirnya gak dapet apa2

  14. #54
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Ya ada bedanya dong, Mbah Purb...
    Orang-orang sebuah perusahaan dagang bekerja karena ada pertemuan kepentingan. Si pengusaha butuh barangnya laku, dan si salesperson butuh gaji dan bonusnya... keduanya klop dan bisa kerjasama. Dalam hal ini si pengusaha dibebani kewajiban untuk mengusahakan kemampuan operasional si salesperson, misalnya kendaraan dan bensinnya, juga tanggung jawab atas kesejahteraan si salesperson sampai pada batasan tertentu, misalnya upah minimum dan jamsostek... kadang-kadang lebih dari itu, tergantung kecenderungan moralitas si pengusaha. Ini berlaku pula untuk salesperson yang diperkirakan cuma akan bertahan beberapa waktu.

    MLM nggak geto... distributor dianggap sebagai manusia yang harus bisa jalan sendiri. Perusahaan cuma punya urusan menyalurkan barang. Di sini kepentingannya bukan sekedar nggak ketemu, tapi cenderung eksploitatif.
    Ah mbah Alip terlalu tendensius dlm menilai MLM.

    Ok, top level pada pers biasa menangani bottom level sedemikian rupa sehingga bottom level mendapatkan perlindungan (umr, jamsostek, thr, dll) dari top level. Tetapi perlindungan tsb tidak gratis. Misalkan bottom level mampu menjual produk melebihi target, tapi apakah kelebihan keuntungan tsb langsung menjadi milik bottom level? Tidak 'kan? Perlu disetor ke top level dulu utk diolah, dst. Tapi ok, dikasih bonus. Sekarang bagaimana dengan bottom level yg menjual di bawah target? Top level gak mau rugi 'kan? Akhirnya bottom level tsb dipecat.

    Bagaimana dgn MLM? Bottom level bisa saja menjual produk melebihi target dan keuntungannya langsung dia rasakan, tidak disetor dulu ke top level seperti pada pers biasa. Di sini bottom level MLM bisa mendapatkan "gaji" yg jauh lebih besar dari pada bottom level di pers biasa. Ketika penjualan di bawah target, bottom level mendapatkan "gaji" yg lebih kecil dari pada bottom level pers biasa. Lebih baik gaji kecil 'kan dari pada dipecat trus gak punya gaji?

    Ane melihat bottom level pada MLM adalah sales dgn otonomi lebih luas dibandingkan sales di pers biasa. Otonomi yg lebih luas bisa mendatangkan keuntungan yg lebih besar tetapi dengan resiko yg lebih berat pula.

    Kalo masalah eksploitatif, kayaknya bukan monopoli MLM saja. Pers biasa pun bisa juga bersifat eksploitatif terhadap bottom level-nya.


  15. #55
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Bagaimana dgn MLM? Bottom level bisa saja menjual produk melebihi target dan keuntungannya langsung dia rasakan, tidak disetor dulu ke top level seperti pada pers biasa. Di sini bottom level MLM bisa mendapatkan "gaji" yg jauh lebih besar dari pada bottom level di pers biasa. Ketika penjualan di bawah target, bottom level mendapatkan "gaji" yg lebih kecil dari pada bottom level pers biasa. Lebih baik gaji kecil 'kan dari pada dipecat trus gak punya gaji?
    Gaji dengan revenue (hasil penjualan) itu beda coy. Dalam MLM jelas si sales beli barang dulu ke top level. Jadi jelas si sales adalah juga pemilik modal, sedangkan top level ga support apa2, cuman semangatin doang. Ya jelas, begitu bottom level bisa jual barang yg sudah dibelinya sendiri sudah sepantasnya menikmati keuntungan langsung. Tapi.. kok top level ikut2an makan untung dari bottom level? Barang gw sendiri yg beli, gw sendiri yg jual.. eh orang laen dapet untung dari penjualan gw. Ud untung dari pas gw beli, untung pas gw jual juga.. asiiik..

    Jelas beda dgn perusahaan normal. Yg beli produk ato memproduksi adalah top level. Para tukang sales cuman terima tugas, dgn dijanjikan bonus apabila menjual lebih dari target. Ga lebih, ya tetep dapet gaji.. nothing to lose.. Kalo sales begok ato males ud kerja berbulan2 ga pernah nyampe target, memang sudah sewajarnya dipecat.. Tapi kan dia ga pernah beli apa2 dari bosnye.

  16. #56
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Udah dijawab ama ndableg ya, Oom Purba

    Quote Originally Posted by Purba
    Tetapi perlindungan tsb tidak gratis. Misalkan bottom level mampu menjual produk melebihi target, tapi apakah kelebihan keuntungan tsb langsung menjadi milik bottom level? Tidak 'kan? Perlu disetor ke top level dulu utk diolah, dst.
    Tapi bukan berarti si salesperson bottom level tinggal mengharap belas kasihan dan hasil olahan top level, dia sudah paham kok bagiannya apa. Umumnya perusahaan dagang sudah punya skema bonus tersendiri yang ditawarkan ketika seorang salesperson melamar. Misalnya,
    • Mencapai 100% target = bonus 3 kali gaji
    • Mencapai 100%-110% target = 5 kali gaji
    • Mencapai 111%-120% target = 7 kali gaji plus peluk cium dari presiden direktur

    Prinsipnya sama dengan MLM, cuma seperti kata ndableg... si salesperson tidak diwajibkan beli barang, dia cuma wajib menjualkan barang, plus semua biaya operasional ditanggung perusahaan.

    Quote Originally Posted by Purba
    Ane melihat bottom level pada MLM adalah sales dgn otonomi lebih luas dibandingkan sales di pers biasa. Otonomi yg lebih luas bisa mendatangkan keuntungan yg lebih besar tetapi dengan resiko yg lebih berat pula.
    Setuju Oom Purba, malah kebanyakan MLM mengajari distributornya untuk nggak mau disebut sales, karena mereka pada hakikatnya adalah partner dari perusahaan, rekanan usaha, wirausaha mandiri.

    Jadi mereka beli produk yang banyak, lalu mulai jualan... dan mendapat keuntungan dari penjualan itu. Atau ya gagal dan merugi.

    Kemandirian semacam yang disebut Oom Purba itu misalnya dengan si A mendatangi grosir di Tanah Abang, belanja lima koli baju, lalu muter di kampungnya jualan baju-baju itu secara ritel.

    Tapi siapa yang masuk MLM karena ingin bisa jualan ritel? Kebanyakan karena ingin dapat bonus sekian persen dari kelompok downline yang dibangunnya.

    Yang menurut statistik Aslan di atas, 99% sudah dirancang untuk rugi agar 1% bisa meraih keuntungan yang mewah.

    Quote Originally Posted by Purba
    Kalo masalah eksploitatif, kayaknya bukan monopoli MLM saja. Pers biasa pun bisa juga bersifat eksploitatif terhadap bottom level-nya.
    Betul sekali... kita tidak menutup mata bahwa ada manusia-manusia yang memang lebih layak disebut vampire ketimbang pengusaha. Tapi suatu usaha, apalagi melibatkan sejumlah karyawan, harus tunduk pada undang-undang tenaga kerja yang meliputi pula masalah kesejahteraan karyawan. Para Vampire itu adalah pihak yang memang tidak beritikad baik dalam berusaha.

    Bedakan dengan suatu sistem yang rancang bangunnya (entah sengaja atau tidak) memang sudah mengharuskan 99% gagal demi keberhasilan yang 1%.
    Last edited by Alip; 13-05-2011 at 10:23 PM. Reason: typo... wong ritel kok ditulis retil :P
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  17. #57
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Udah dijawab ama ndableg ya, Oom Purba
    Hihihi.. sori ya bang alip.. biasa tukang nyalip..

  18. #58
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Tapi siapa yang masuk MLM karena ingin bisa jualan ritel? Kebanyakan karena ingin dapat bonus sekian persen dari kelompok downline yang dibangunnya.
    Nah, yg salah MLM-nya atau mental salesnya?
    Mengapa bonus dari downliner dilihat sbg hal yg jelek?


  19. #59
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    MLM-nya dong ... para sales menjadi seperti itu karena memang itulah yang diinginkan dan dijanjikan oleh perusahaan MLM. Shaped by the system

    Karena bonus itu datang dari kerugian orang-orang yang gagal setelah bergabung belakangan, dengan data seperti sudah dibahas Aslan di atas...

    Monggo Oom Purba, pendapatnya dipaparkan dan dijelajahi di sini...

    buat yang belum kenal... Oom Purba ini filsuf andalan kita sejak jaman Homo Erectus masih minum kopi , beliau ini ahli dalam pemikiran-pemikiran insightful
    Last edited by Alip; 15-05-2011 at 11:24 AM. Reason: lay out
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Page 3 of 3 FirstFirst 123

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •