Results 41 to 59 of 59

Thread: MLM = Working Hard? atau Working Smart?

Threaded View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #37
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Udah dijawab ama ndableg ya, Oom Purba

    Quote Originally Posted by Purba
    Tetapi perlindungan tsb tidak gratis. Misalkan bottom level mampu menjual produk melebihi target, tapi apakah kelebihan keuntungan tsb langsung menjadi milik bottom level? Tidak 'kan? Perlu disetor ke top level dulu utk diolah, dst.
    Tapi bukan berarti si salesperson bottom level tinggal mengharap belas kasihan dan hasil olahan top level, dia sudah paham kok bagiannya apa. Umumnya perusahaan dagang sudah punya skema bonus tersendiri yang ditawarkan ketika seorang salesperson melamar. Misalnya,
    • Mencapai 100% target = bonus 3 kali gaji
    • Mencapai 100%-110% target = 5 kali gaji
    • Mencapai 111%-120% target = 7 kali gaji plus peluk cium dari presiden direktur

    Prinsipnya sama dengan MLM, cuma seperti kata ndableg... si salesperson tidak diwajibkan beli barang, dia cuma wajib menjualkan barang, plus semua biaya operasional ditanggung perusahaan.

    Quote Originally Posted by Purba
    Ane melihat bottom level pada MLM adalah sales dgn otonomi lebih luas dibandingkan sales di pers biasa. Otonomi yg lebih luas bisa mendatangkan keuntungan yg lebih besar tetapi dengan resiko yg lebih berat pula.
    Setuju Oom Purba, malah kebanyakan MLM mengajari distributornya untuk nggak mau disebut sales, karena mereka pada hakikatnya adalah partner dari perusahaan, rekanan usaha, wirausaha mandiri.

    Jadi mereka beli produk yang banyak, lalu mulai jualan... dan mendapat keuntungan dari penjualan itu. Atau ya gagal dan merugi.

    Kemandirian semacam yang disebut Oom Purba itu misalnya dengan si A mendatangi grosir di Tanah Abang, belanja lima koli baju, lalu muter di kampungnya jualan baju-baju itu secara ritel.

    Tapi siapa yang masuk MLM karena ingin bisa jualan ritel? Kebanyakan karena ingin dapat bonus sekian persen dari kelompok downline yang dibangunnya.

    Yang menurut statistik Aslan di atas, 99% sudah dirancang untuk rugi agar 1% bisa meraih keuntungan yang mewah.

    Quote Originally Posted by Purba
    Kalo masalah eksploitatif, kayaknya bukan monopoli MLM saja. Pers biasa pun bisa juga bersifat eksploitatif terhadap bottom level-nya.
    Betul sekali... kita tidak menutup mata bahwa ada manusia-manusia yang memang lebih layak disebut vampire ketimbang pengusaha. Tapi suatu usaha, apalagi melibatkan sejumlah karyawan, harus tunduk pada undang-undang tenaga kerja yang meliputi pula masalah kesejahteraan karyawan. Para Vampire itu adalah pihak yang memang tidak beritikad baik dalam berusaha.

    Bedakan dengan suatu sistem yang rancang bangunnya (entah sengaja atau tidak) memang sudah mengharuskan 99% gagal demi keberhasilan yang 1%.
    Last edited by Alip; 13-05-2011 at 10:23 PM. Reason: typo... wong ritel kok ditulis retil :P
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •