ya bukan trus kayak ga dengerin sih, lebih tepatnya tidak membantah dan bilang iya, tapi ga dikerjain selama ga ketauan

yah itu terbantu karena memang saya ga serumah sama mertua. kalau urusan tehnis pendidikan dan ngurusin anak plus suami ortu dan suami gak intervensi, paling kasih masukan. Dikerjain sama aku ya mereka senang, ga dikerjain mereka ga akan nuntut apa2, ya paling ngegerundel karena aku dianggap sok tau, tapi biasanya ya itu, pura2 budeg kalau digremengi gitu.

urusan sekolah, bapak cuma kasih pandangan, yang diskusi dan ambil keputusan tetap kami berdua.

urusan keuangan, bapak dan mertua juga ga mau turut campur, mereka juga ga bantu langsung kalau kami ga minta. Biasanya pura2 kasih uang jajan anak2. dan emang jadinya buat kebutuhan anak-anak sih

urusan beli ini itu, mertua lebih ke menyarankan, saya memilih diam. Tapi diskusi sama suami aja, nanti suami yang menyampaikan ke mertua, apa hasil diskusi kami.

Kuncinya begini, kalau terpaksa serumah atau berdekatan sama mertua dan ortu adalah...kalau ada masukan apa2, diamkan dulu, lalu diskusi berdua. Lalu kalau itu mertua, biarkan atau sarankan suami yang menyampaikan ke ortunya, atau kalau itu ortu ya kita yang ngomong ke ortu kita...karena toh sebagai anak (dibanding menantu) komunikasi lebih gampang.

Beberapa kali sebenernya ibu mertua berusaha intervensi, meski kami ga pernah serumah, entah ketika berkunjung atau lewat telepon. tapi saya biasanya memilih ga banyak omong dulu, diskusi sama suami dulu. Kami anggap yang disampaikan ibu mertua adalah masukan, jadi perlu didiskusikan kemudian begitu dapet keputusannya, ya suami yang ngomong langsung ke mertua. Bukan mau membuat jarak sama ibu mertua, tapi meminimalisir salah paham. Kalau suami sudah menyampaikan, ibu mertua justru lebih mudah bicara kepada saya.