Semilir angin senja itu merontokan kelopak-kelopak bunga flamboyan di halaman rumah Elvera. Melayang-layang sesaat, sebagian ada yang sempat mendarat di kepala Jimi, tapi dia tidak merasakan apa-apa. Mungkin kalau pohonnya yang tumbang dan menimpa kepalanya, baru dia bisa merasakannya, itu juga kalau masih sempat.

“Ngapain El nyuruh-nyuruh aku datang ke sini kalo cuma buat nemenin kamu bengong, heh?” Jimi mulai kesal.” Kamu kenapa? Ada masalah apa? Mau ngomong apa?” tanyanya secara medley.

Tak ada jawaban. Elvera malah menopangkan dagu dan mengulas senyuman polos tanpa dosa. Menatap teduh menyejukan, sanggup meruntuhkan iman jika kondisi tubuh sedang tidak imun.

Jimi meraih jaketnya dan mengenakannya lagi.

“Mau ke mana sih, Jim? Katanya bakal selalu ada untuk aku?” dengan nada manja Elvera bertanya.

“Iya, tapi bukan berarti aku bersedia adu bengong sama kamu! Nggak penting banget, tau!”

Elvera malah cekikikan, senang sekali dia melihat Jimi jengkel.

“Nggak betah aku nemenin kamu cuma diem-dieman nggak jelas gini.”

“Sabar dong, Jim. Kan aku lagi mikir.”

“Mikir apa?” ketus sekali Jimi bertanya.

Dengan jenaka Elvera menjawab. “Mikirin kamu…” senyumnya tekulum.

“Huek!”

Keduanya tertawa kecil.

“Eh, Jim… beneran deh, aku pengen ngomong.”

“Halah udah males.” Jimi melangkah ke Defender-nya. “Waktunya udah habis, aku mau pergi.”

“Mau ke mana sih?”

“Ke rumah Teby.”

“Ikuuuut…!”

[ || ]