Bila di tahun 1998 Indonesia memiliki 4 mahasiswa Trisakti dan 1 mahasiswa Sanata Dharma, maka Mesir memiliki Khalid Muhammad Said (Khaleed Mohammed Said).

Di awal Juni 2010, Khalid dipukul di depan umum hingga tewas. Terprovokasi dengan foto mengerikan yang mereka lihat, dua fesbuker membuat page "We Are All Khaled Said" dan berlindung di balik nama El-Shaheed. Halaman ini kemudian disukai banyak fesbuker Mesir dan alih-alih dari sekedar protes tentang kebrutalan polisi, halaman ini merembet ke hal-hal lain yang berbau anti kebijakan Mubarak.

Terinspirasi dari peristiwa di Tunisia, menginspirasi mereka untuk membuat demonstrasi serupa di Mesir. Tanggal demonstrasi sengaja ditetapkan di tanggal Hari Polisi Nasional Mesir, yakni 25 Januari. Mereka juga meminta para fans untuk membuat ajakan secara tradisional misalnya dengan membuat selebaran. Ikhwanul Muslimin menolak bergabung tetapi hanya satu yang secara terbuka mengatakan akan ikut.

Pemerintah Mubarak sudah mulai mengendus-endus siapakah ElShaheed ini. Di tanggal 27, dua hari setelah demonstrasi awal, Pemerintah Mubarak menahan salah seorang dari mereka, yakni Wael Ghonim. Namun Wael dan kawannya sudah membuat rencana darurat yakni dengan menyerahkan kedudukannya pada Nadine Wahab agar halaman fesbuk tetap berjalan normal.

Karena menangkap ElShaheed ternyata tidak menyurutkan demonstrasi, Pemerintah Mubarak akhirnya memutuskan internet.