itu kan ada koreografer / macam leadernya kan yah?
jadi ada yang ngajarin atau kasi aba2 gerakannya.
err atau perlu gw satronin nih kalau inbox main lagi di mall sebelah kantor![]()
itu kan ada koreografer / macam leadernya kan yah?
jadi ada yang ngajarin atau kasi aba2 gerakannya.
err atau perlu gw satronin nih kalau inbox main lagi di mall sebelah kantor![]()
karena nyasar targetnya penonton yg "menengah ke bawah", maka kualitas musik yg ditampilan, so-so gitu deh... teman-teman saya yg level menengah ke atas, se-alay-alaynya mereka, paling banter mentok di Afghan untuk penyanyi lokalnya. Gak pernah nyampe level turun derajat jadi fans esteh dua gelas, atau demacip. alayer orang kaya kan pastinya lady gaga, katy perry, dsb. baru kalau teman2 yg level menengah ke bawah, banyak yg playlist lagu di HP mereka itu lagu-lagunya wali, dan sebangsanya...
Pernah baca di suatu blog, kalau penonton bayaran ini dikoordinir dan punya jadwal masing2. dulu kan jadwal dahsyat ma inbox beda (dahsyat agak siangan), jadi mereka bisa tampil di dua acara berbeda, begitu tampil di satu acara, langsung menclok ke acara lainnya. dari sana timbul istilah alay untuk menyebut fenomena ini, "anak layangan". bayarannya katanya lumayan. sekali tampil 50rb juga kan lemayan.
dengan tingginya angka putus sekolah dan angka pengangguran, pekerjaan sbg alay kan patut dipertimbangkan juga...
you can also find me here
coba dong mus jadi alay,
nanti cerita-cerita di sini prospeknya alay di masa mendatang
Wkwk ide bagus za.. gw jadi kepikiran apa para alay dimasa depan itu kebanyakan sukses![]()
Dunia Artifisial Televisi
Kamis (22/10) pukul 08.00 di pelataran Gedung TransTV. Sekitar 150 anak muda dengan pakaian meniru gaya artis berkerumun di depan panggung musik Derings (TransTV). Posisi mereka ditata sedemikian rupa agar indah jika dibidik kamera dari berbagai sudut.
Setiap musik mengentak, mereka sontak berjingkrak. Tanpa komando, mereka langsung lincah. Kehadiran mereka membuat siaran langsung program Derings pagi itu menjadi hidup.
Siapa sebenarnya mereka? Mereka adalah penonton bayaran yang biasa ”berkeliaran” di sejumlah studio televisi swasta. Indra, misalnya, Kamis pagi, ”tampil” di acara Derings. Sore hari dia ada di TPI ikut dalam pengambilan gambar kontes bintang Starbuzz. Di acara itu dia tidak tampil sebagai penonton yang lincah bergoyang, melainkan juri yang ceriwis.
Begitu pula Cicin (20). Rabu pagi, dia ada di acara Derings, siang di Missing Lyrics (TransTV), dan sore di acara Mantap (ANTV). Malam hari jika diminta, dia bisa nongkrong di studio televisi mana pun.
”Sehari saya bisa ngumpulkan uang Rp 100.000 dari tiga acara. Sebulan penghasilan bersih saya Rp 2,5 juta,” kata Cicin yang tinggal di Pekayon, Bekasi.
Orang-orang seperti Cicin dan Indra jumlahnya ribuan. Mereka dikoordinasi para penyalur penonton bayaran, di antaranya Elly Suhari (38) yang akrab disapa Mpok Elly.
Ia mengaku setiap hari menggerakkan 500 penonton bayaran ke 6-8 acara televisi. ”Saya tinggal telepon koordinator lapangan, mereka membagi-bagi ’pasukan’ ke studio yang membutuhkan,” kata Mpok Elly yang wajahnya sering muncul di televisi sebagai penonton, peserta kuis, dan pendukung acara komedi.
Elly memiliki 10 koordinator lapangan di Jabodetabek. Merekalah yang bertugas menjaring orang-orang yang ingin menjadi penonton bayaran. ”Dulu susah mencari penonton, sekarang mereka antre mendaftar. Sebagian ingin masuk TV dan mencari jalan jadi artis. Sebagian lagi cari makan,” kata Elly yang terjun sebagai penyalur penonton sejak 2007.
Siapa pun yang mendaftar tidak dia tolak. ”Yang penting, orangnya mau diatur, lincah, dan ramai,” katanya.
Harsono Wahyudi, penyalur penonton lainnya, juga tidak memilih-milih orang yang ingin menjadi penonton bayaran.
”Saya hanya menegaskan kepada mereka bahwa nonton itu kerja, tepuk tangan kerja, dan tidak bergoyang di acara musik itu ’dosa’,” ujar Harsono. Ia terjun ke bisnis ini sejak 2005. Dalam sehari dia menggerakkan 300 orang ke sejumlah acara, antara lain Dahsyat (RCTI) dan Opera Van Java (Trans7).
Calon penonton yang telah direkrut, kata Elly, biasanya diklasifikasikan berdasarkan usia, profesi, dan tampang. Hal ini dia lakukan sebab tiap acara membutuhkan karakter penonton yang berbeda.
Elly bercerita, suatu ketika dia diminta mendatangkan penonton berwajah petani untuk acara penyuluhan pertanian. ”Saya pikir, kok permintaannya aneh. Untung ada anak buah saya yang wajahnya seperti petani, ha-ha-ha....”
Harsono juga pernah mendapat permintaan aneh. ”Ada stasiun televisi yang minta dicarikan penonton bertubuh cebol. Pernah juga diminta mencari orang yang wajahnya gampang dirias seperti kuntilanak.
Apa pun permintaan stasiun televisi, agen penonton bayaran selalu berusaha memenuhi. Maklum, putaran uang dari bisnis ini cukup menggiurkan. Elly mengatakan, sebulan dia bisa mengantongi keuntungan Rp 35 juta, sementara Harsono rata- rata Rp 10 juta.
Bagian pertunjukan
Mengapa televisi perlu penonton bayaran? Kepala Divisi PR Marketing TransTV Hadiansyah menjelaskan, penonton sesungguhnya bagian dari pertunjukan. ”Jadi, mereka harus ada. Tanpa penonton, sebuah acara musik, misalnya, tidak akan meriah,” ujarnya, Rabu.
Stasiun televisi, lanjutnya, tak bisa mengandalkan penonton sukarela sebab mereka sulit diatur. ”Kalau penonton profesional, mereka sudah tahu benar tugasnya.”
GM Programming TPI Endah Hari Utari mengatakan hal senada. ”Kalau tidak ada penonton, pengisi acara juga tidak akan tampil maksimal. Acara jadi tidak hidup,” katanya, Kamis.
Persoalannya, mencari penonton yang sukarela datang ke studio sekarang tergolong sulit, apalagi banyak acara yang proses pembuatannya pagi atau tengah malam. Itulah mengapa semua stasiun TV mendatangkan penonton bayaran.
TransTV, kata Hadiansyah, menggunakan jasa penonton yang disalurkan delapan agen. ”Itu kami lakukan agar penontonnya tidak itu-itu saja.”
Begitulah, dunia hiburan TV memang serba artifisial atau buatan. Fenomena penonton bayaran hanyalah salah satunya. Kalau mau jujur, tepuk tangan di acara talk show, kemeriahan di acara variety show, tangis dan tawa di acara kuis, bahkan drama di acara reality show yang mengangkat urusan pribadi, sebagian besar juga hasil rekayasa.
Ironisnya, sebagian besar pemirsa percaya bahwa apa yang ditampilkan televisi adalah realitas sungguhan, apalagi jika nama acaranya diimbuhi ”merek” reality show.
Tidak tahu yang sebenarnya harus seperti apa. Yang jelas...saya sudah agak 'mual' melihat para penonton alay itu, entah apapun tujuan mereka...
Tren penonton Bayaran di Televisi: Antara Alay, Emak Alay, dan Keuntungan Puluhan Juta
JIKA Anda penonton setia program musik, komedi, kuis, talk show, dan olahraga pasti sering melihat penonton yang sama di acara yang berbeda dalam satu hari.
Misalnya, pagi hari jingkrak-jingkrak di acara musik, siangnya muncul acara kuis dan malamnya ketawa-ketiwi di acara komedi. Mereka inilah penonton bayaran yang dalam sehari bisa tampil di 2 hingga 4 program acara.
kehadiran penonton dalam satu acara di televisi sangat penting, bahkan tidak kalah pentingnya dengan pengisi acara.
Penonton yang ekspresif, ramai dan mudah diarahkan membuat acara lebih hidup. Namun kendalanya tidak semua penonton seperti itu.
Dari kendala inilah lahir fenomena penonton bayaran. Kini, nyaris hampir semua acara televisi yang menghadirkan penonton menggunakan jasa penonton bayaran. Penonton bayaran mulai menjamur di dunia pertelevisian Tanah Air sejak tahun 2000-an.
“Penonton bayaran dihadirkan karena mudah diarahkan sesuai dengan imej satu acara, lebih tertib dan ekspresif,” ucap Sunka Da Ferry, Produser Islam Itu Indah (Trans TV).
Sunka Da Ferry yang akrab di sapa Ferry ini juga menggunakan jasa penonton bayaran di acara Islam Itu Indah.
Menurut Ferry, industri penyiaran sudah seharusnya menggunakan jasa penonton bayaran.
“Ini kan industri besar, yang menuntut profesionalisme. Jika hanya mengandalkan penonton asli, pasti banyak kendala di lapangan. Contohnya, jumlah penonton yang datang tidak sesuai dengan target, bajunya tidak seragam dan sulit diarahkan,” urai Ferry.
Di Islam Itu Indah, memang tidak semua penonton bayaran, ada juga penonton ‘asli’.
Penonton Bayaran Dijuluki Alay
Firman (24) salah satu dari sekian banyak penonton bayaran. Firman menjadi penonton bayaran sejak 5 tahun lalu. Awalnya, dia penonton bayaran yang ingin melihat grup musik idolanya tampil di acara musik. Namun, usai menonton dia dipanggil seseorang dan diberi honor.
“Mungkin karena gaya saya heboh dan menghibur jadi mereka meminta saya jadi penonton bayaran. Seru dan bahagia, bisa bertemu dengan artis dapat honor pula dan masuk televisi,” ucap Firman. Iin setali tiga uang.
“Awalnya saya hanya ingin bertemu artis. Ternyata, dapat honor,” ucap Iin.
Honor Iin dan Firman berbeda-beda, Iin terima honor Rp 25 ribu untuk sekali syuting, sedangkan Firman Rp 45 ribu. Dalam sehari mereka bisa syuting untuk 3 acara, bahkan terkadang 4 acara.
“Minimal dalam sehari saya dapat honor Rp 100 ribu,” ucap Firman.
Suka dan duka telah dialami Firman dan Iin selama menjadi penonton bayaran. Sukanya mereka banyak memiliki banyak teman, bisa bertemu dengan artis dan masuk TV. Namun dukanya, mereka sering kali syuting hingga larut pagi.
“Yang paling kesal saat mendapat julukan alay. Kami bukan alay, kami hanya mengikuti arahan dari produser satu acara,” ucap Firman.
Firman dan Iin tidak tahu sampai kapan mereka menjadi penonton bayaran.
“Inginnya sih saya mendapat kerjaan yang lebih bagus lagi, tapi untuk mendapatnya pasti tidak gampang,” ucap Firman pasrah.
Jika Firman dan Iin, uang menjadi alasan menjadi penonton bayaran. Ada sebagian orang menjadi penonton bayaran sebagai jalan untuk menjadi artis. Banyak penonton bayaran yang kini telah menjadi bintang iklan atau main sinetron.
“Teman saya sesama penonton bayaran kini ada yang jadi bintang iklan dan main sinetron,” ucap Firman.
Sehari Untung 3 Juta
Penonton bayaran kini jumlah ribuan. Mereka biasanya di bawah koordinasi penyalur penonton bayaran. Penyalur penonton bayaran ini jumlahnya masih terbatas, salah satunya Elly Suhari.
Wanita yang akrab disapa Mpok Elly ini dalam sehari bisa mengumpulkan 500 orang penonton bayaran 2 hingga 3 acara.
“Dulu, dalam sehari saya bisa menangani 4 acara. Tapi kini hanya 2 atau 3 acara saja. Kalau 4 acara bisa sampai pagi, capek,” ucap Elly.
Honor wanita yang pernah jadi figuran Ngelenong Yuk ini didapat dari potongan honor penonton bayaran yang jumlah 20 persen hingga 30 persen.
“Biasanya honor penonton saya potong 5 ribu tiap orangnya,” ucapnya.
Dalam sehari Elly bisa mengantongi untung 3 juta lebih, kali kan saja 30 hari. Besar sekali bukan, namun itu belum dipotong gaji karyawan Elly yang berjumlah 5 orang dan beli properti.
Dari honor koordinator penonton bayaran, kini Elly bisa membayar utangnya sebesar Rp 20 juta, bisa beli rumah di daerah Depok, mobil dan membiayai dua anak. Bahkan kabarnya Elly berniat membeli apartemen.
“Untungnya memang besar, tapi modalnya juga besar. Pernah dalam seminggu saya menghabiskan modal Rp 100 juta. Karena tidak ada modal, saya sampai jual barang dan menggadaikan juga beberapa barang berharga,” ucap Elly.
Elly sangat paham seluk-beluk bisnis penonton bayaran karena dia berasal dari penonton bayaran.
“Awalnya jadi penonton bayaran karena ingin membantu suami. Waktu itu honornya hanya Rp 10 ribu,” ucap Elly mengenang masa-masa susahnya.
Menjadi koordinator penonton bayaran membuat Elly mendapat julukan Emaknya Alay. Elly tidak keberatan dengan julukan itu. Cuma Elly kasihan dengan anak-anak didiknya.
“Saya sih cuek disebut Emaknya Alay, yang kasihan kan anak-anak. Mereka kan menjadi penonton bayaran untuk mencari nafkah dan biaya sekolah,” ucap Elly yang menjadi koordinator penonton bayaran acara Dering, olahraga, Islam Itu Indah, Bukan Empat Mata, Pas Mantab, dan Tarung Dangdut.
(ej/gur)
you can also find me here
@rumus, wew..... sehari 100rb cuman gaya cucian doang ? jauh lebih bagus daripada tukang bangunan
Yang Republik Mimpi itu mahasiswa beneran.
http://cacianqalbukunderemp.blogspot...m-kemarin.html
Tapi di sana, semua ucapan mahasiswanya harus melalui skenario. Bila lewat dari skenario, bisa dipastikan tidak akan tayang.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
ekekek. saya juga pernah nongol di republik mimpi-dulu dah ganti nama kalo gak salah, apa yah, lupa
cape... pegel disuruh tepuk tangan terus. tepuk tangan+ketawa, nyorakin, dll semuanya pake skenario. termasuk pertanyaan
dulu teh cum dikasih nasi bungkus ama majalah RollingStone Indonesia kalo gak salah. langsung kapok ga mau ikutan yg gituan lagi. aduh, zaman-zamannya masih lugu. sekarang juga sih masih![]()
you can also find me here
lagi2 industri yang bicara. eh tapi duit 100rb itu di luar makan sm transport?
Gaji perbulannya bisa lebih tinggi dr pegawai bank yg fresh graduate![]()
Terutama kalau chanting-nya: "Ph'nglui mglw'nafh Cthulhu R'lyeh wgah'nagl fhtagn"
atau "...Surgite Inventite hortum veritatis... Valete, liberi Diebus fatalibus... Fithos Lusec Wecos Vinosec..."
Yang pertama bakal bikin semua alay di sana jadi Deep Ones. Yang kedua bakal bikin Andika kanjen ben meledak jadi One Winged Angel...![]()
A proud SpaceBattler now.
pure bisnis, apa yang salah dengan itu?![]()
Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.
"Maybe not all of our efforts will be rewarded. But without effort, you will get nothing"
Takahashi Minami
------------------------------------------------------------------
Thread paling Hot dil AKB48 Glossary l 48Fams l My Blog
termasuk trafficking kagak ya?
nope, sorry, that's totally different drift.
bisnis yang ente contohkan di atas itu ILEGAL dan tidak beretika (red-tidak benar dan tidak baik).
sementara, perilaku alayers di TV ini memang memuakkan, njelehi, tapi mereka tidak ilegal alias sah dan meyakinkan. ini bukan apple-to-apple lho.
dagangan organ manusia pun benernya gak etis, tapi bisa diterima dan dibenarkan masyarakat dengan alasan kemanusiaan. Illegal drugs rancu juga, mana ada orang dibui karena kedapatan knsumsi Tolak angin Biru, yang isinya ada anti-depressant dimana umumnya sub-konten itu diawasi ketat BPOM/depkes? Merokok aja deh, itu legal, tapi gak baik. So, back to business ethics 101, yang illegal = baik.![]()
Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.