Results 1 to 5 of 5

Thread: Prioritas Dan Rasa Bersalah

  1. #1
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679

    Prioritas Dan Rasa Bersalah

    Suatu hari, saya berkesempatan sama wali kelasnya Naomi mesti ngurusin sesuatunya sampe nembus jam 4 sore. Saya gak ngajak Naomi, karena pasti akan menganggu jalannya urusan meski beberapa wali murid yang mendampingi si ibu wali kelas bawa anak-anak mereka. Kemudian si ibu guru pun bertanya ke saya kenapa Naomi nggak diajak, saya jelaskan dan kemudian si ibu guru melontarkan sebuah kalimat.

    "Saya sebenarnya merasa bersalah kadang sama anak-anak, saya sibuk mendidik anak orang lain, tetapi anak-anak sendiri saya titipkan ke orang lain untuk diasuh."

    Saat itu saya cuma tersenyum menanggapinya, cuma bisa jawab, "Ibu punya kelebihan memotivasi anak-anak untuk jadi lebih baik, ada ilmu yang harus ibu bagi sama generasi ini."

    Meski saya terus terusik dengan omongan beliau...

    Kemudian saya baca buku "Habibie dan Ainun" ada juga pada satu babnya, Ibu Ainun memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai dokter anak di sebuah rumah sakit di jerman, karena beliau merasa bersalah saat anaknya sakit dia malah "harus" mengurus anak orang lain yang sedang sakit di rumah sakit.

    Saya kemudian berpikir, apakah memang kodrati seorang ibu agak merasa bersalah kepada anak-anaknya ketika memutuskan bekerja di sektor publik dengan jam kerja padat?

    Saya pernah beberapa kali kerja dengan jadwal kerja tetap 9 to 5 saat Naomi TK A, rasanya memang bingung semua, apalagi menitipkan anak-anak ke kakek neneknya yang lumayan memanjakan anak-anak. Kemudian saya memutuskan kerja seperti sekarang saja, paling tidak waktu2 kerja saya masih bisa disesuaikan dengan kebersamaan saya dengan anak-anak...

    Tidak, saya tidak sedang menghujat perempuan yang memilih tetap berkarir karena toh masing-masing orang punya pertimbangan. Tetapi melihat dua perempuan yang menurut saya, mereka mampu bekerja dan smart, melontarkan omongan seperti itu, membuat saya merenung...itu saja

  2. #2
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Hal ini pernah jadi topik di Oprah... waktu itu tampil dua narasumber, satunya ibu rumah tangga, satunya wanita karir. Keduanya memiliki anak yang sehat lahir batin dan berprestasi....

    kesimpulannya, kedua jalan bisa menghasilkan anak-anak yang bahagia, tapi either way, you win some, you lose some... tergantung kita cenderung ke yang mana. Yang wanita karir kehilangan saat-saat ketika anaknya berdiri untuk pertama kalinya, tumbuh gigi pertama, dsb ... si Ibu rumah tangga kehilangan excitement ketika menang tender dan kesempatan kuliah lagi...

    Istri saya adalah contoh perempuan yang resign... tapi sesudah saya challenge habis-habisan, jangan sampai resign karena rasa bersalah. Akhirnya memang tetap resign, tetapi setelah menimbang untung rugi dari berbagai kemungkinan...
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  3. #3
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    alhamdulilah saya termasuk beruntung, bekerja tapi saat anak masih kecil2 gini dapat dispensasi ga harus masuk (tapi tetap dapat gaji).
    aku yang pertama melihat tumbuh kembang anak yang baru. masih aku yang menyiapkan mpasi ny. aku yang pertama ngasih makanan dede. walau pas kuliah aku tetap menitipkan ke orang lain, tapi ayahnya kerja dari rumah ikut mengawasi.

    seperti yang om alip bilang, ada untung ruginya. saya awal2 menikah sudah diskusi panjang sama suami soal perempuan/istri bekerja.
    suamiku sangat mendorong untukku tetap bekerja. minimal part time.
    saat punya anak pun dipertimbangkan kembali.
    tiap perempuan punya latar belakang yang beda ya, kebutuhannya pun beda.

    mengamati diriku yang sempat ga kerja semenjak anak pertama lahir sampai anak umur 1,5 tahun, suamiku makin mantap mendorong aku bekerja. terutama bekerja di luar. hidupku ga berimbang kalau di rumah terus, stres tinggi dan malah efeknya negatif ke anak dan keluarga.
    tapi tentu tiap orang beda, aku sangat bisa memaklumi orang yang memilih full di rumah, tapi ya gitu, jangan hakim orang lain yang punya pilihan berbeda.

    jadi bagiku bekerja ga sekedar urusan perut, perempuan juga punya kebutuhan diakui eksistensinya, menyiarkan ilmu, membuat hidupnya seimbang
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  4. #4
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    ^saya kan udah bilang, gak menghakimi...saya cuma merenung pada perkataan dua perempuan itu, wali kelas Naomi dan almarhum ibu ainun...meski menurut saya sayang sekali bu ainun lebih memilih berdiri di belakang pak habibie padahal ilmunya pasti bagus untuk menyembuhkan anak-anak sebagai spesialisasi kedokterannya

    Saya cuma terpaku sama perkataan wali kelas Naomi yang merasa bersalah kadang sama anaknya, padahal beliau sharing ilmu dan ahklak untuk generasi kecil saya dan teman-temannya, tetapi merasa tidak sepenuhnya mengasuh anaknya sendiri

    Itu aja...gak ada penghakiman

  5. #5
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    iya bun aku tahu bundana ga sedang menghakimi siapapun. saya bicara untuk kondisi yang lain, pernah ada yang merasa perlu menghina pilihan orang lain untuk mendamaikan hatinya atas pilihan dia.
    dalam hal ini dia memilih menghina ibu bekerja karena sepertinya dia ga pede dengan pilihan dia jadi irt full time.

    nah itu bu ainun dan bu guru naomi mungkin jiwanya ada di sana. ketenangan dia saat di rumah dan itu pilihan dia. itu pilihan bagus karena ga ada yang salah dengan pilihan itu.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •