-
Di Ujung Mimpi (Cerpen)
Nuri tersentak kaget, amplop berwarna merah jambu. Terselip rapi, dibawah laci tempat duduknya. Dengan sedikit hati-hati, ia mengambilnya. Seraya memperhatikan dari mana asal pengirim si empu-nya surat. Nuri mengernyitkan dahinya, apa ga salah liat nich…Nihil nama pengirim..weleh-weleh!-Pikirnya kemudian.
Buat Sesosok Bidadari yang menghiasi setiap relung hatiku, Nurina Dewi
Sedikit tersenyum aneh, gadis manis yang mempunyai dua lesung pipit dipipi putihnya itu , membaca tulisan yang diukir indah oleh seseorang. Sepucuk surat yang ia dapati saat dia memasuki kelasnya. Pagi yang membuat perasaannya aneh, bukannya kenapa-kenapa. Tapi, ini pasti lelucon yang gila—dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ataupun kutuan. Dia pun manyun sesaat. Sengaja, dia datang sedikit awal pagi ini karena kebetulan dia piket hari ini. Sekolahnya masih berhawa dingin, sepi dari penghuni sekolah. Sambil mengamati sekitarnya, ia pun memberanikan diri membuka surat merah jambu itu.
Nuri…
Aku ingin mencintaimu seperti matahari yang tak pernah ingkar bersinar dipagi hari
Aku ingin mencintaimu seperti bintang yang menjadikan malammu indah
Gadis manis itu mengetuk-ngetuk giginya sedikit aneh, dimasukkannya kembali surat berwarna merah jambu itu—Kaya ga ada kerjaan aja, ini pasti kerjaannya Haris, Dasar cowok gak tahu malu—katanya mencak-mencak didalam hati.
Haris adalah mantan pacarnya setahun yang lalu, mereka putus karena Haris diam-diam menyakiti hati Nurina dengan menduakan cintanya. Kini setelah 3 bulan berlalu, cowok berparas putih itu mulai mengejar-ngejar pacar yang telah dikhianatinya tersebut. Katanya, dia menyesal karena dia baru sadar kalau cinta sejatinya itu sebenarnya adalah Nurina. Janji pun mulai berbusa-busa, dari telepon basa-basi setiap hari, sampai sikapnya yang super perhatian dengan gadis berlesung pipit itu.
Digumpal-gumpalnya dengan kesal, amplop yang berisi surat merah jambu itu. Mulutnya mulai komat-kamit tidak karuan, menyebut kata-kata aneh sambil terus meremas-remas surat tersebut.
“Pagi, Nuri…Looh?, what happen atuh…suratnya kok digumpal-gumpal, ga sekalian dimakan aja, marah kok ama surat,hehe†Tatang Suratang, sahabat gokilnya itu sudah nyengir kuda didepan meja Nurina. Nuri hanya cemberut, mendengar candaan Tatang, yang asli ga lucu sama sekali. Pikir Nuri dipagi berhawa embun itu.
“Nich…†Katanya sambil mengulurkan surat yang kumal dari remasan tangannya.
Tatang pun memanjangkan lehernya untuk menjangkau surat tersebut. Sambil berpikir panjang, cowok berambut cepak dengan mata coklatnya ini hanya memamerkan giginya yang putih, cengiran model begini nich, yang paling ngebetein Nuri. Iih..?!
“ Penggemar baru nich, Non..cieee…udah dapat pengganti Haris rupanya†Katanya masih tersenyum lebar. Nurina masih cemberut, pipi nya yang sehalus kapas itu ditembemkan, membuat Tatang gemas melihatnya. Kini senyum yang sedari tadi diperlebar oleh cowok itu, mulai dirapatkannya perlahan. Tatang pun hanya tersenyum tipis.
(.........)
Tags for this Thread
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules