Thank u Kingform, reply gue juga udah di postingan sebelumnya....
Wait, ada yang perlu digarisbawahi nih, terinspirasi ama plagiat itu dua hal yang berbeda, ya.
Begitu juga dengan meniru dan menjiplak.
Dalam musik, suara yang terdengar mirip belum tentu sama nadanya, irama yang mirip belum tentu sama notasinya.
Balik ke karakter, gue sih terserah opini publik aja ngeliatnya gimana, dan dari sudut pandang mana.
Yang pasti nih kalo tentang Ryd, ‘rohnya’ ya emang gue hembuskan dari lagunya Edane itu. Segala attitude-nya kayak gambaran di lagu itulah. Anak muda yang( pengennya) rock n’ roll banget….

Dan Ryd bisa jadi dirinya sendiri tuh, nggak ikut2an Lupus yang doyan permen karet.
Gue menggambarkan Ryd dan teman-temannya itu sesuai dengan kondisi sosial terkini, dimana urusan bokep tuh udah jamak banget, dan bukan barang langka.
Lupus juga palingan demen liat kartu BF tuh pada masanya. Cuma, berhubung imejnya tipikal anak manis, jadinya jaim, ngumpet-ngumpet tuh dia…haha!
Btw, soal manga.
Industri disini tuh emang sadis. Para komikus itu bukannya nggak punya gaya sendiri ya, gue yakin tiap seniman punya style sendiri. Tapi, pasar disini emang dikuasai manga. Itu realitanya.
Kalo para komikus bertahan dengan idealismenya yang kaku, serba salah juga jadinya. Mau nggak mau, kompromi dikitlah ama pasar. Karena mungkin itu salah satu solusi sebagian dari mereka untuk tetap survive bertahan hidup.
Lalu kenapa komik nasional belum bisa berkembang pesat?
Karena kebanyakan para kreatornya lagi pada sibuk ngerjain proyek komik dari luar…USA / Jepang, termasuk di proyek film2 kartun yang bisa lo tonton tiap hari Minggu itu.
Dan kalo ngomongin soal pasar, bakal diikuti soal perang.
Mau perang ngelawan komik Jepang / USA ?
Hehehe…Lha wong pasukan lokal lagi pada sibuk bantuin di barisan itu juga kok.
Mungkin analoginya gini, kayak lo berada di atas mesin treadmill. Jadi kalo lo nggak ikutan berlari di atasnya, lo sendiri yang bakalan terpental.
Mudeng ora?