dgn suami di rumah m'batasi sosialisasi anak dan tdk bs mengkuti kegiatan anak di rumah n sekolah? gmn partnershipnya?
dgn suami di rumah m'batasi sosialisasi anak dan tdk bs mengkuti kegiatan anak di rumah n sekolah? gmn partnershipnya?
Suami bukan sebab tidak adanya sosialisasi. Ada juga kasus anak-anak yg diurus istri di rumah tetapi tetap tidak ada sosialisasi. Ada juga kasus meski suaminya yg di rumah tetapi anak-anak tetap sosialisasi. Seperti ane bilang, ini masalah adat kebiasaan. Kasus2 yg TS angkat adalah anomali yg terjadi di masyarakat. Jika suatu ketika kasus2 tsb menjadi banyak, itu bukan anomali lagi, tetapi sudah menjadi adat kebiasaan baru dari suatu masyarakat.
Dulu, di Indonesia umumnya suami kerja luaran, istri kerja rumahan. Ketika ada istri kerja luaran juga, persepsi masyarakat waktu itu masih melihatnya sebagai keganjilan. Tapi sekarang sudah menjadi hal biasa suami dan istri kerja luaran. Yg masih anomali adalah istri kerja luaran, suami rumahan. Mengapa fenomena tsb terjadi? Tuntutan zaman. Rumah tangga perlu ongkos. Ketika istri yg bisa memenuhi ongkos tsb, sementara suami tidak, ya sang suami kerja rumahan: cuci piring, nganter anak, ngepel lantai, jemur pakaian, dlsb. Jadi perannya menjadi fleksibel, yg penting rumah tangganya dulu selamat.
Kalo harus mengikuti harga diri misalnya. Suatu ketika sang suami tidak bisa kerja luaran dan istri harus tetap di rumah, apa anak2nya mau dikasih makan cah batu lada hitam atau kayu goreng mentega?
![]()