Page 3 of 3 FirstFirst 123
Results 41 to 47 of 47

Thread: Selamatan, tasmiyahan, yasinan.

  1. #41
    @ul.malik

    selamatan: sebenarnya sbg ungkapan rasa sukur, biasanya pake kendurian
    dijawa umumnya kok dikaitkan dng peringatan kematian seseorang yak?

    tasmiyahan: sama jg sbg ungkapan rasa sukur, tapi konteksnya lebih ke momen kelahiran

    yasinan: ini gw jg rada gak mudeng maksudnya, yng jelas kumpul baca yasin, trus makan2
    anehnya lagi, knp surat yasin selalu dikaitkan dng kematian/peringatan kematian?


    nah, klo ditanyaken bedanya
    bedanya adalah momentumnya
    kesamaannya, kumpul n hepi ending (makan bersama)




    note:
    untuk peserta ditopik ini mohon tertib
    biasakan fokus ke materi bahasan
    tdk mengarah ke individu, baik secara langsung
    maupun tidak langsung (sindir2 dsbnya)
    Last edited by pasingsingan; 02-03-2012 at 07:23 AM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  2. #42
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    nggeh, mbah

    minta maaf kl jd suka sedikit "buas", apalagi mangsanya jg suka memancing tapi ga mau open mind

  3. #43
    Pakar Memematika Ray Surya's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    4,449
    waduh, om hajime kok keluar dari KM.
    sabar lah, boss. balik lagi sini...

    btw, selametan itu intinya berdo'a minta pada Tuhan agar sukses & selamat, soal suguhannya tumpeng atau roti tawar itu bukan masalah, kan sekedar buat suguhan, malah klo ngundang anak yatim, bisa jadi sedekah ngasih makan. soal baju mau pakai kebaya atau kaos atau batik, juga gak masalah. bukannya berdo'a & menyuguh tamu itu ada ajarannya?

    klo yasinan, itu baca surat yasin, bisa sendiri atau dgn orang lain, baca yasin kan juga dapat pahala.
    yasin juga ada khasiatnya, itu juga suatu metode do'a yg diharapkan di dalam hati, bila baca yasin minta agar dapat pahala & khasiatnya.

    klo syukuran, orang memang diperintahkan utk pandai bersyukur. bersyukur melalui hati, lisan & perbuatan.
    bikin acara syukuran, dgn berdo'a & ngasih makan anak yatim juga bagus. itu termasuk perbuatan syukur.
    semakin pinter bersyukur, maka akan ditambah ni'mat.

    klo 'aqiqoh, udah ada dalilnya dgn jelas, buka aja google
    1. dilakukan pas hari ketujuh setelah bayi lahir. bayi dikasih nama juga pas hari tsb (tasmiyah).
    2. utk bayi laki pakai 2 kambing, klo bayi cewe pakai 1 kambing
    3. disembelih & dimasak sekalian, trus dimakan orang2
    4. rambut dicukur, gak perlu disilet sampai plontos. trus dikira2 bobot rambut dari keseluruhan kepala tsb dibandingkan dgn bobot perak, trus perak tsb diamalkan. (bisa bentuk duit asal senilai dgn bobot perak tsb) boleh dilebihkan nilai perak/uangnya, drpd kurang.

    tasmiyah: pemberian nama utk anak
    R*y Sury* Ditunjuk Presiden SBY Jadi Menpora

  4. #44
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    /\
    like this

    10chars

    ---------- Post added at 02:12 AM ---------- Previous post was at 02:09 AM ----------

    fyi, 2 anak sy gak pk tasmiyahan, makanya kagak ngarti, mrk jg ga ada yg potong rambut. cm aqiqah pd udah usia 1,5 thn

  5. #45
    Pakar Memematika Ray Surya's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    4,449
    klo soal suguhan, kenapa pakai tumpeng, bubur merah putih, nasi kuning
    itu jawaban sama dgn, knp Idul Fitri pakai suguhan ketupat & opor. padahal Nabi gak makan ketupat & opor pas lebaran.
    itu bisa buat nambah suasana, kenikmatan, dan ada maksud do'anya.
    misal: ketupat adalah lambang do'a tentang kerukunan, jalinan antar manusia. dilambangkan dgn jalinan daun kelapa.
    & ente ente pasti seneng klo ada makanan2 khas yg begituan, suasananya di hati dapat banget
    R*y Sury* Ditunjuk Presiden SBY Jadi Menpora

  6. #46
    Barista Nharura's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Di Hatimu
    Posts
    5,072
    sebenarnya,, selamatan, tasmiyahan, yasinan, baca doa kalau keluarga naik haji itu dilakukan untuk mempererat silahturahmi
    dari silahturahmi menjadi Doa di masing-masing orang untuk penyelenggara acara...

    Apapun itu,, pikirankanlah secara positif, jika tidak merugikan, dan membawa kebaikan banyak orang
    gak ada salahnya dilakukan, karena sesuatu perbuatan di nilai dari niatnya

    *Hajime : Jangan mundur dong, kalau istirahat juga boleh.. tapi nanti balik lagi,
    beda pendapat itu pastilah, karena gak semua orang, harus mengikuti cara pandang kita.
    Karena masing-masing orang, khan beda berpikirnya, belum tentu baik bagi kita, Baik menurut orang lain dan baik menurut Allah.
    Jadi calm down, Pak ronggo, emang gitu.. aslinya mah orangnya baik, jangan diambil di hati ya,
    diskusi ini, bikin yang lain bertukar informasi, bukan bertukar esmosi,,hehe...^_^
    ditunggu kehadirannya lagi ya^_^
    Penulis Sastra, Penyayang Hewan, PNS biasa

    "Sedekah Aja "

    Sastra - > Dear Diary Inspirasi

    Kucing - > Semua Tentang Kucing

    PNS - > Sukses Mengabdi Pada Negara

  7. #47
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    Yo weiss... seperti yang sudah saya katakan sebelumnya... silahkan saudara2 disini melakukan apa yang saudara2 anggap benar (bukan apa yang dianngap Rasulullah Shallollohu 'alaihi wa sallam benar) toh apa yang kita kerjakan akan kembali kepada masing2 kita... mau mengikuti perintah Rasul atau malah membuat sesuatu yang baru dalam hal ibadah ya silahkan..... tugas saya cuman mengingatkan itu saja... sekian wassalam
    Pak Haji sebetulnya menurut saya ,ini adalah masalah "image" yg muncul ketika kita bersirobok dg ungkapan "slametan, tasmiyahan , yasinan ". Dan ini sangat terkait dg "referensi" yg ada pada masing masing orang /peserta diskusi. Maka komentar mereka macam macam pak haji.
    Karena yg disebut :"slametan , tasmiyahan , yasinan" itu tidak ada "bakuannya" , manual bagaimana melaksanakannya , semua hanya berdasarkan kebiasaan saja , rujukannya tidak ada , sebagaimana tuntunan sholat dhuhur itu bagaimana , melakukan akad nikah itu bagaimana, wudhu' itu bagaimana dll dll. Karena memang tidak ada tuntunan agamanya.

    Jadi tidak heran kalau spt bung Ronggo sampaikan (sya juga sependapat) kegiatan itu masuk kategori "budaya" adat dari suatu komunitas yg sangat mungkin diwarnai olehi berbagai prkatek adat yg ada yg pernah "singgah" dalam komunitas itu,

    Kalau dikaitkan dg "ibadah" memang ini yg harus hati hati , sebab masalah muamalahpun bila diniatkan karena Allah , maka itu akan bernilai ibadah. Rasanya pak Haji sangat faham mengenai hal ini. Kita tahu bahwa bagaimana "cepatnya" masalah muamalah ini berubah ,--sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial masyarakat dan tehnologi-- sementara syariah yg ada , itu disampaikan untuk bisa difahami oleh umat dg strata pemahaman sa'at itu , sehingga perlu pendekatan pendekatan ulang dengan berbagai telaah ilmu lain untuk penerapannya .
    Contoh sederhana bagaimana berkembangnya product product pembeayaan keuangan , transaksi dagang , komunikasi dan transportasi baik data maupun barang , komunikasi antar umat , politik , kenegaraan , hubungan keluarga , penanganan kemiskinan , penanganan/pengelolaan zakat ,penanganan hewan/daging qurban , dll dll dll dll.

    Mungkin disini ada perbedaan dalam memandang "ibadah" yg satu ini , apakah ini terkena kriteria sebagai "bid'ah" ?
    Berbeda kiranya bila kita bicara mengenai "ibadah yg vertikal" (ibadah mahdoh). Dimana nabi adalah merupakan satu satunya manusia yg berhubungan dengan sang Khalik yg memberikan tuntunan bagaimana harus sholat , puasa , dan ibadah lain yg vertikal.
    Setelah nabi wafat ,tidak ada lagi turun ayat untuk merubah tatacara itu , tidak ada nabi lagi yg diturunkan yg membawa risalah baru/syariat baru , maka ibadah mahdoh ini sangat jelas tidak akan berubah. Maka acuannya hanyalah contoh nabi Muhammad (tentu saja Al Qur'an). Adalah wajar --menurut saya-- saya setuju tidak ada ruang untuk menambah atau mengurangi nya .

    Saya sependapat mungkin memang perlu diwaspadai , side effect masalah muamalah ini , jangan sampai suatu amalan yg bersifat "adat istiadat yg dianggap baik" (tidak masuk kriteria larangan agama ) , berubah menjadi seolah olah syariat agama , ajaran agama , berkriteria wajib , ini memang perlu dicegah , diluruskan ! Rasanya ini yg diperjuangkan oleh Kyai Muhammad Dahlan dan pencerah pencerah lain yg berhadapan dengan praktek preaktek keagamaan (Islam) yg sudah demikian campur baur dengan adat istiadat.

    Nah memang jadi penting untuk memperjelas apa yg dimaksud dg amalan/kegiatan itu semua , jangan sampai hanya "image" yg kita jadikan dasar .!

    Salaam pak Haji .
    ADEM_AYEM_TENTREM

Page 3 of 3 FirstFirst 123

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •