Sebagian besar orang sudah mengenal beras Belanda, biji-bijian yang baik bagi kesehatan jantung. Sering kali ditemui dalam sup dan rebus-rebusan atau dimakan sebagai sereal masak, namun butiran biji-bijian lezat ini menawarkan lebih banyak lagi kegunaan.
Saya merasa senang saat suami saya membuatkan tiga tempat penyimpanan barley yang terbuat dari logam di rumah kami di Dakota Utara beberapa tahun yang lalu. Setiap tempat penyimpanan berisikan 3.500 gantang dari butiran biji-bijian tertua di bumi.
Beberapa orang menyebutnya “groats.” Apapun sebutannya, barley masih saja dianggap salah satu dari lima biji-bijian sereal terbaik di dunia. Namun penggunaan barley sebagai makanan manusia terhitung hanya 10% saja, sepertiga digunakan untuk membuat minuman beragi (bir), dan sebagian besar digunakan sebagai makanan ternak.
Sungguh disayangkan. Biji-bijian serbaguna ini sebenarnya bisa digunakan untuk membuat resep lezat yang utamanya menggunakan bahan baku beras. Barley juga merupakan bahan utama dalam pembuatan bumbu miso yang populer di Jepang, sering disajikan di restaurant-restauran sebagai sup miso.
Biji-bijian ini cocok ditanam pada musim dingin dan musim semi. Ia tumbuh dengan subur di daerah beriklim sedang pada musim semi dan memiliki 90-hari panen. Barley juga tumbuh di daerah sub-artik, seperti di Alaska atau Norwegia, di mana musim panen lebih pendek. Karena biji-bijian itu mempunyai daya tahan yang baik terhadap panas, maka ia tumbuh dengan sangat mudah di daerah gurun, seperti di Afrika Utara.
Pendapat-pendapat yang berkaitan dengan umur dan asal mula barley berbeda-beda. Beberapa sarjana menyatakan berasal dari Mesir sekitar 5.000 tahun yang lalu, sedang sumber lain berpendapat bahwa rerumputan itu ditemukan di China sekitar 2.000 tahun SM. Para arkeolog menarik kesimpulan berdasarkan ukiran pada tembikar dan artefak lainnya.
Darimanapun asal mulanya, saya suka memasak dan memanggangnya. Cita rasa dari masakan yang menggunakan barley sangatlah lezat dan alami, dibandingkan dengan beras putih lunak yang hanya memiliki kandungan nutrisi yang minim.
Kandungan pati dalam barley sedikit, sehingga hasil panggangan kurang bisa mengembang. Maka bila memanggang menggunakan tepung barley, untuk menghasilkan produk yang agak lembut, tambahkan sedikit tepung terigu/ gandum.
Banyak juru masak handal yang menganjurkan biji-bijian ini sebagai pilihan makanan yang baik bagi pencernaan disamping nasi. Tambahan informasi dapat diperoleh dalam buku “The Art of Cookery in the Middle Ages” terbitan Boydell Press, halaman 187-188.
Selama Perang Dunia II di Jerman, saya mengonsumsi barley dengan berbagai cara penyajian: berupa roti, kue kering, bubur, sup, masakan rebusan, pilafs, dan sebagai cuka barley dalam saos salad. Karena kita tidak memiliki kopi, kita memanggang barley di sebuah panci penggorengan di atas kompor dan menumbuk biji-bijian itu menjadi bubuk sebagai gantinya kopi. Beberapa pasar di Amerika masih menjual Postum, yaitu bubuk instant minuman barley, meniru kopi bubuk instan.
Jenis barley mutiara/ Pearl Barley adalah yang paling mudah dimasak. Jenis lainnya, pressed barley barley yang di-press, berbentuk flake (serpihan seperti sereal), lebih menyerupai serpihan oatmeal.
Beberapa bumbu dan tanaman herbal yang cocok dicampurkan dengan barley adalah kayu manis, bawang putih, tanaman marjoram, peterseli dan bumbu campuran Itali. Tepung barley dapat membuat kue panggangan punya tekstur seperti halnya kue yang lain, namun perlu dicampur dengan tepung serbaguna untuk roti beragi.
Yang terbaik adalah menggunakan ¼ gelas tepung barley ditambahkan ¾ gelas tepung serbaguna untuk menggantikan 1 gelas tepung serbaguna untuk resep beragi. Satu gelas beras Belanda mentah sama dengan 3-1/2 hingga 4 gelas barley masak dan dapat disajikan untuk 6 porsi, tergantung jenis masakannya.
Barley mengandung karbohidrat tinggi dan juga memiliki kandungan protein, kalsium, dan fosfor yang sedang serta mengandung sedikit vitamin B. Ternak yang diberi makan barley membuat dagingnya terasa lebih lezat, ia dapat menghasilkan lemak padat pada daging yang kurus yang disebabkan oleh kandungan nutrisi biji-bijian itu.
Sebelum cocok untuk dikonsumsi oleh manusia, barley yang dipanen harus diolah menjadi beras belanda, artinya biji-bijian itu digosok beberapa kali dengan alat penggosok. Setiap kali putaran dari mesin saat menggosok atau menyelep disebut “pearling,” dan diperlukan empat kali putaran sebelum siap. Dalam bentuk tepung, ia dapat dipakai pada makanan bayi, sereal untuk sarapan, atau dicampur dengan tepung terigu untuk dipanggang. (Christina Riveland/The Epoch Times/mer)