Kenapa masyarakat "resah" dengan nikah beda agama? Kalo anda atau masyarakat tidak suka dengan nikah beda agama, ya JANGAN MENIKAH DENGAN SESEORANG YANG BERBEDA AGAMA!! Gampang to!
Apa JIL dan kawan-kawannya pernah MEMAKSA seorang Muslim untuk menikah beda agama? Saya rasa tidak. So what?
Kalo ada sepasang kekasih beda agama memutuskan untuk menikah, dan mereka tidak berkeberatan, SO WHAT? Mereka nikah nggak pake duit masyarakat kok.
Jujur ya: Anggapan JIL "meresahkan masyarakat dengan pemikirannya" itu cuma wujud kecemburuan ideologi saja. Kalo berani, ghazwul fikri dong! Pemikiran LAWAN dengan pemikiran. Minder?
---------- Post added at 12:33 AM ---------- Previous post was at 12:28 AM ----------
JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?
---------- Post added at 12:35 AM ---------- Previous post was at 12:33 AM ----------
Sepi bukan karena nggak laku. Tapi pindah media. Sekarang ramenya di twitter (follow @ulil, @assyaukanie, dkk deh). Sama aja kayak AK, dulu kan rame. Tapi pas udah ada FB dan Twitter, pada bedol desa deh semuanya.
---------- Post added at 12:48 AM ---------- Previous post was at 12:35 AM ----------
Tuduhan yang menarik. Begini: Ini pernah menjadi otokritik di salah satu diskusi JIL (saya hadir). Salah satu peserta memberi kritik terhadap kajian-kajian keagamaan JIL yang terkesan eksklusif dan "berat". Hal ini membuat ide-ide JIL hanya milik segelintir elite intelektual (mahasiswa, dosen dan akademisi umumnya). JIL tidak membumi, tidak masuk ke kampung-kampung seperti "para musuhnya" (Muslim garis keras).
Hal tersebut membuat orang awam tidak begitu mengenal ide-ide Islam liberal secara utuh. Mereka (orang awam) tahu JIL hanya dari ustad-ustad mereka di Masjid yang memang anti JIL. Jadi, ada ketimpangan opini di sini.
Makanya, banyak orang awam anti JIL hanya ikut-ikutan karena terpengaruh ustad mereka yang memang anti JIL, bukan karena ideologi. Apalagi dipanas-panasi bahwa JIL itu menghalalkan nikah beda agama. Tentu ini ide yang "nyeleneh" dan "tidak bisa diterima" di --terutama-- masyarakat kelas bawah yang rasa primordialismenya kuat. Padahal, ihwal boleh tidaknya nikah beda agama dalam Islam itu debatable. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Seharusnya sesuatu yang "debatable" jangan dihakimi secara sepihak. Lebih fair kalau dibuka ruang seluas-luasnya untuk dialektika. (Btw: bukankah Rosul menikahi Khadijah yang Kristen? Bukankah Yasser Arafat juga menikahi Suha yang Kristen?)
Seseorang atau siapapun boleh dan sangat boleh untuk tidak setuju dengan Islam liberal. Tapi, dimohon mampu bersikap secara fair. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Jadi ada diskusi, ada dialektika. Pemikiran tidak bisa dilawan dengan ancaman kekerasan. Diskusi di Utan Kayu, Freedom Institute, Salihara, terbuka untuk umum. Tidak dipungut bayaran pula, alias gratis! So, apa yang salah? Tidak ada! Yang salah itu kalo kumpul-kumpul lantas bergerak ke sana kemari untuk merusak properti orang. Itu yang salah dan harus ditindak tegas secara hukum!!
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)







Reply With Quote