Ditengah munculnya gerakan Indonesia Tanpa FPI, ter
nyata sekelompok umat Islam yang masih peduli, me
lancarkan gerakan tandingan, Indonesia Tanpa JIL.

---------- Post added at 09:36 PM ---------- Previous post was at 08:59 PM ----------

JIL Akui Kegagalannya Menyebarkan Paham Liberal
Selasa (13/12), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) mengadakan bedah buku Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mengambil tempat di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bedah buku menghadirkan sejumlah pembicara yang kerap menulis gagasan pemikiran liberalisme Islam. Diantaranya adalah Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asy Saukanie,dan Zainun Kamal. Tak ketinggalan Ioanes Rakhmat (Kritikus Kristen) didapuk jadi pembicara.

Pada kesempatan yang dihadiri 300 mahasiswa UIN itu, penggagas JIL, Luthfi Asy Sakunie secara jujur mengatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam lewat jalan liberalisme sepanjang ini masih jauh dari harapan. Munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme Islam, baginya, adalah bentuk kegagalan ide “pembaharuan”.

Senada dengan Luthfi, Ioanes Rakhmat, turut mengamini kenyataan itu. Menurutnya berkembangnya perda-perda Syariat adalah bukti metode pembaharuan Islam yang selama ini disuarakan kawan-kawan Islam Liberal belum ada, “Karena yang ada baru metode penafsiran teks,” katanya.

Meski berlatar belakang Kristen, ia menegaskan bahwa perjuangan membumikan pemikiran liberalisme Islam tidak boleh surut. Usaha-usaha itu tetap harus berjalan. Karena hanya dengan itu Islam akan maju di Indonesia.

Oleh karenanya, Ioanes mengusulkan agar Luthfi cs mulai terfikir terjun ke dunia politik. “Kalau kelompok Islam pembaharu tidak terjun ke dunia politik, maka kelompok Islam politik akan bertambah kuat,” tandasnya.

Usulan tersebut sempat ditolak oleh Zainun Kamal. Tokoh yang kerap menjadi penghulu pernikahan beda agama ini mengatakan politik bukanlah jalan terbaik bagi Islam Liberal.

Ia berkaca dari partai-partai Islam maupun kelompok Islam saat ini yang hanya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. “Maka itu Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi harus cepat taubat dari politik,” sanggahnya.

Ulil pun angkat suara. “Itu kan partai sektarian yang berbasis agama. Sedangkan saya di partai sekuler. Maka itu kita harus masuk partai sekuler,” pungkas fungsionaris Partai Demokrat itu yang sebelumnya sempat memuji sekularisme Erdogan dan melunaknya Ideologi Ikhwan di Mesir.


---------- Post added at 09:46 PM ---------- Previous post was at 09:36 PM ----------

Gerakan #Indonesia Tanpa JIL Ramai di Media Sosial
Senin, 20 Februari 2012. Persis usai subuh muncul sebuah gerakan #IndonesiaTanpaJIL (JIL=Jaringan Islam Liberal). Munculnya gerakan ini sontak saja semakin disambut dengan penuh semangat ketika di fanspage gerakan tersebut yang beralamat di http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL tampil sebuah video berdurasi 32 detik yang menampilkan sosok aktor Fauzi Baadilla yang dengan tegasnya mengatakan : “Indonesia Tanpa JIL !”.
Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim. Hastag #IndonesiaTanpaJIL sampai saat ini terus semakin ramai. Yang menarik adalah dalam waktu 12 jam fanspage gerakan tersebut sudah di-like oleh hampir 2500 orang, tanpa bantuan Likers Engine (boot).
Pertanyaan yang muncul adalah : Fauzi Baadilla saja berani dengan tegas tanpa khawatir kehilangan pekerjaan dan penggemarnya, lantas kenapa tokoh-tokoh yang sebetulnya menolak JIL masih (jaim) jaga image ?.