Page 1 of 5 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 94

Thread: #IndonesiaTanpaJIL

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137

    #IndonesiaTanpaJIL



    Ditengah munculnya gerakan Indonesia Tanpa FPI, ter
    nyata sekelompok umat Islam yang masih peduli, me
    lancarkan gerakan tandingan, Indonesia Tanpa JIL.

    ---------- Post added at 09:36 PM ---------- Previous post was at 08:59 PM ----------

    JIL Akui Kegagalannya Menyebarkan Paham Liberal
    Selasa (13/12), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI) mengadakan bedah buku Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Mengambil tempat di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bedah buku menghadirkan sejumlah pembicara yang kerap menulis gagasan pemikiran liberalisme Islam. Diantaranya adalah Dawam Rahardjo, Kautsar Azhari Noer, Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Asy Saukanie,dan Zainun Kamal. Tak ketinggalan Ioanes Rakhmat (Kritikus Kristen) didapuk jadi pembicara.

    Pada kesempatan yang dihadiri 300 mahasiswa UIN itu, penggagas JIL, Luthfi Asy Sakunie secara jujur mengatakan bahwa gagasan pembaharuan Islam lewat jalan liberalisme sepanjang ini masih jauh dari harapan. Munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme Islam, baginya, adalah bentuk kegagalan ide “pembaharuan”.

    Senada dengan Luthfi, Ioanes Rakhmat, turut mengamini kenyataan itu. Menurutnya berkembangnya perda-perda Syariat adalah bukti metode pembaharuan Islam yang selama ini disuarakan kawan-kawan Islam Liberal belum ada, “Karena yang ada baru metode penafsiran teks,” katanya.

    Meski berlatar belakang Kristen, ia menegaskan bahwa perjuangan membumikan pemikiran liberalisme Islam tidak boleh surut. Usaha-usaha itu tetap harus berjalan. Karena hanya dengan itu Islam akan maju di Indonesia.

    Oleh karenanya, Ioanes mengusulkan agar Luthfi cs mulai terfikir terjun ke dunia politik. “Kalau kelompok Islam pembaharu tidak terjun ke dunia politik, maka kelompok Islam politik akan bertambah kuat,” tandasnya.

    Usulan tersebut sempat ditolak oleh Zainun Kamal. Tokoh yang kerap menjadi penghulu pernikahan beda agama ini mengatakan politik bukanlah jalan terbaik bagi Islam Liberal.

    Ia berkaca dari partai-partai Islam maupun kelompok Islam saat ini yang hanya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. “Maka itu Ulil Abshar Abdalla dan Zuhairi Misrawi harus cepat taubat dari politik,” sanggahnya.

    Ulil pun angkat suara. “Itu kan partai sektarian yang berbasis agama. Sedangkan saya di partai sekuler. Maka itu kita harus masuk partai sekuler,” pungkas fungsionaris Partai Demokrat itu yang sebelumnya sempat memuji sekularisme Erdogan dan melunaknya Ideologi Ikhwan di Mesir.


    ---------- Post added at 09:46 PM ---------- Previous post was at 09:36 PM ----------

    Gerakan #Indonesia Tanpa JIL Ramai di Media Sosial
    Senin, 20 Februari 2012. Persis usai subuh muncul sebuah gerakan #IndonesiaTanpaJIL (JIL=Jaringan Islam Liberal). Munculnya gerakan ini sontak saja semakin disambut dengan penuh semangat ketika di fanspage gerakan tersebut yang beralamat di http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL tampil sebuah video berdurasi 32 detik yang menampilkan sosok aktor Fauzi Baadilla yang dengan tegasnya mengatakan : “Indonesia Tanpa JIL !”.
    Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim. Hastag #IndonesiaTanpaJIL sampai saat ini terus semakin ramai. Yang menarik adalah dalam waktu 12 jam fanspage gerakan tersebut sudah di-like oleh hampir 2500 orang, tanpa bantuan Likers Engine (boot).
    Pertanyaan yang muncul adalah : Fauzi Baadilla saja berani dengan tegas tanpa khawatir kehilangan pekerjaan dan penggemarnya, lantas kenapa tokoh-tokoh yang sebetulnya menolak JIL masih (jaim) jaga image ?.

  2. #2
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    ini thread berat....

    tapi gw maw komentarin fauzi baadilla nya aza yak

    damn fauzi baadilla, setelah gay bashing sekarang ini, padahal dulu jaman pilem Tentang Dia gw ngefans ama ni aktor, ternyata beda aliran sama sayah~~~

    Menurut desus yang beredar, gerakan ini muncul sebagai titik kulminasi atas tindak-tanduk JIL yang sangat meresahkan umat Muslim.
    bisa berikan contohnya? so far gw ga pernah dengar gerak2 ni jaringan .....

  3. #3
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Reportase Program Agama dan Masyarakat Radio 68 H
    Nasib Homoseksual Dalam Cengkaraman Agama dan Budaya Diskriminatif

    “Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.”
    Meskipun pada 17 mei 1990 organisasi kesehatan dunia (WHO) telah memutuskan bahwa homoseksualitas tidak tergolong suatu penyakit atau gangguan jiwa, namun diskriminasi terhadap kelompok minoritas ini masih kerap terjadi di negeri ini. Dalam bentuknya yang paling ekstrim, diskriminasi terhadap minoritas homoseksual diwujudkan dalam aksi-aksi kekerasan terhadap mereka. Diskriminasi itu misalnya, terlihat dari perda-perda yang mencantumkan homoseksual dalam kategori perbuatan cabul dan pelacuran. Tidak kurang, dalam UU Pornografi yang belum lama disahkan itu, dikatakan bahwa homoseksual sebagai penyimpangan seks. Padahal “fatwa” dari WHO tersebut sudah tercantum pula dalam kitab PPDGJ milik Depkes RI (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis dan Gangguan Jiwa) edisi III tahun 1993. Ini berarti materi UU tersebut tidak merujuk kepada kitab pedoman kesehatan tersebut.

    Menelusuri seluk beluk diskriminasi terhadap kaum homoseksual yang terjadi di Indonesia, Radio KBR 68 H bersama Jaringan Islam Liberal, melalui Program Agama dan Masyarakat pada tanggal 18 Mei 2011 mengangkat sebuah diskusi bertema “Diskriminasi dan Kekerasan Terhadap Warga Negara Karena Orientasi Seksualnya”. Diskusi berlangsung selama satu jam dengan menghadirkan dua narasumber sekaligus, Hartoyo dari Our Voice dan Andi Yentriyani dari Komnas HAM.

    Diskriminasi terhadap kelompok minoritas homoseksual terjadi, dalam analisa Hartoyo, dikarenakan stigma yang mendominasi pola pikir masyarakat terhadap mereka. Ketiadaan pendidikan seks dan pendidikan tentang identitas gender dari pemerintah untuk warganegaranya, dan tidak tersedianya informasi yang benar, membentuk pemahaman yang keliru dalam masyarakat dalam melihat dan memperlakukan kaum homoseksual. Dari persoalan ini, mereka kerap dinilai negatif oleh masyarakat. Mereka dilihat sebagai pendosa, penyebar penyakit atau bahkan pembunuh.

    Sementara Andi mencoba menyoroti persoalan diskriminasi ini dari sudut konstitusi. Dalam pandangan Andi, meskipun secara ideal konstitusi mengakui adanya persamaan setiap warga negara, namun dalam tataran praktis pelaksanaannya kerap kali bertolakbelakang. Ini terjadi, begitu Andi, karena adanya prasangka-prasangka yang berkembang dalam polapikir masyarakat dan membuat orang merasa boleh memperlakukan orang lain secara berbeda. Pembedaan-pembedaan itulah yang belakangan menimbulkan diskriminasi kelompok homoseksual, sekalipun hak bebas dari diskriminasi telah diakui oleh negara.

    Masyarakat kita memang mudah sekali menstigma orang yang berbeda sebagai orang yang “menyimpang”. Padahal menjadi berbeda secara orientasi seksual itu sungguh tidak mudah bagi mereka kelompok LGBT sendiri (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Seperti diakui oleh banyak di antara mereka, usaha untuk menjadi seperti apa yang dimaui lingkungan bukan tidak pernah mereka jalani. Dalam “keberbedaan” nya itu, mereka masih harus berhadapan dengan represi dari lingkungan dan bahkan keluarga terdekat. Hidup mereka dibuat tidak tenang dengan adanya curative right, dipaksa untuk “sembuh” dan “bertaubat”. Masih belum cukup, mereka juga kerapkali dihadapkan dengan kekerasan fisik dan psikologis selama bertahun-tahun untuk kembali “ke jalan yang benar”. Jadi, penderitaan yang mereka alami menjadi berlapis-lapis.

    Pandangan Andi ini diamini oleh Hartoyo sendiri sebagai sosok yang pernah menjalani pengalaman diskriminasi. Seperti diceritakan Hartoyo, dalam hal ini pihak negara sama sekali tidak turun tangan untuk memberi perlindungan. Dan ironisnya, justru aparat negara sendiri yang menjadi pelaku diskriminasi tersebut. Sepertinya, semua jalan untuk mencari keadilan dari diskriminasi bagi kelompok LGBT sudah tertutup. Kalaupun ada, dukungan itu datang dari pihak luar, dan beberapa lembaga seperti Komnas Perempuan. Dengan sepinya dukungan menentang diskriminasi kelompok LGBT, menandakan bahwa masyarakat memilih diam, untuk mengatakan tidak peduli terhadap kasus-kasus diskriminasi.

    Dalam sebuah komentarnya, seorang pendengar diskusi beropini bahwa kelompok LGBT seharusnya sadar diri terhadap lingkungan di mana mereka hidup. Meskipun benar hak bebas dari diskriminasi diakui undang-undang, namun mereka hidup dalam sebuah kultur masyarakat yang sulit sekali menerima perubahan, ditambah lagi dengan pemerintahan negara yang lemah. Pendengar lain, menanggapi bahwa Homoseksualitas sebetulnya budaya Barat yang bertentangan dengan budaya Indonesia sendiri.

    Menanggapi ini, Andi berargumen bahwa sebenarnya ada banyak budaya yang justru tidak dikenali oleh masyarakat kita sendiri. Secara historis-kultural, demikian Andi, Homoseksualitas bukanlah suatu yang asing dari masyarakat kita. Kalau ingin disebut, kita akan menjumpai banyak tradisi asli Indonesia yang bernuansa Homoseksualitas. Pemetak-metakan suatu budaya berdasarkan kategori Timur-Barat, dalam pandangan Andi, membuat sebuah norma menjadi esensialis. Faktanya kekerasan terhadap kaum Homoseksual bukan hanya ada di Timur, tapi juga Barat. Ini sekaligus menolak anggapan bahwa Homoseksualitas merupakan budaya asing yang berasal dari Barat.

    Ke “berbedaan” secara orientasi seksual, bukanlah dasar yang bisa menghalalkan kita untuk melakuan diskriminasi. Perlu ditegaskan ulang, diskriminasi terhadap kaum Homoseksual, bukan hanya terjadi di Indonesia secara khusus, atau dunia Islam secara umum, tapi juga terjadi di dunia Barat sendiri yang sekarang ini mulai belajar membuka diri terhadap minoritas yang memiliki orientasi seksual berbeda. Atas dasar fakta ini, Andi mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat secara terbuka sejarah peradaban dunia, di mana kekerasan dan diskriminasi terhadap mereka yang berbeda bukanlah soal “Timur-Barat” saja, tapi lebih jauh soal kelapangan jiwa dan pola pikir komunitas tersebut untuk menerima mereka yang berbeda.
    Pandangan sinis terhadap kaum Homoseksual, membuat banyak orang mempertanyakan sisi positif kaum Homoseksual, juga memandang miris kepada setiap usaha advokasi yang ditujukan kepada mereka.

    Menjawab ini, Hartoyo menegaskan, bahwa sekalipun berbeda, tapi kaum Homoseksual atau LGBT sejatinya juga manusia yang memiliki perasaan yang sama dengan mereka yang normal. Mereka bukannya tidak mau berusaha menjadi sama dengan orang lain. Bagi Hartoyo, menurut pengalamannya homoseksualitas bukanlah sebuah pilihan, tapi lebih merupakan ketetapan yang ditakdirkan kepada mereka. Karena itu, advokasi kepada kaum Homoseksual sejatinya adalah advokasi kepada kemanusiaan itu sendiri.

    Hartoyo juga menyinggung, bahwa takdir homoseksual bisa saja diterima oleh siapa saja, termasuk mereka yang ada dalam anggota keluarga kita. Membela Homoseksualitas, dengan begitu berarti membela keluarga kita sendiri, membela sesama manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama dihadapan Tuhan.

    Andi menambahkan, jika merujuk kepada tujuan pernikahan, anggapan bahwa homoseksualitas adalah sebuah anomali sejatinya lahir dari pemikiran tentang keharusan adanya pro-creation purpose dalam sebuah hubungan seksual (hubungan seksual untuk mendapat keturunan). Dalam hal ini, Islam dalam pandangan Andi memiliki pandangan yang lebih maju tentang adanya tujuan lain hubungan seksual selain untuk mendapat keturunan, yakni untuk mendapat kesenangan (rekreasi). Seandainya pandangan ini diterima, tentulah dukungan terhadap pernikahan Homoseksual tidak akan lagi menjadi suatu kesulitan.
    Tindakan diskriminatif terhadap kelompok Homoseksual selain ada dalam pelbagai budaya-budaya dunia, juga ditemukan dalam semua tradisi agama-agama, bukan hanya Islam. Ini terjadi, dalam pandangan Andi, ketika tindakan diskriminatif dilakukan atas nama kekelan tradisi atau agama, ia akan menarik banyak orang untuk ikut serta di dalamnya. Demikian, karena agama atau tradisi kerap kali dijadikan ukuran menilai benar-salah, dan ini sangat berbahaya jika telah masuk ke dalam ranah tindakan diskriminasi.

    Andi juga menilai, persoalan diskriminasi terhadap kelompok Homoseksual atau secara umum LGBT merupakan tantangan baru bagi para teolog. Kalau dulu para teolog dihadapkan pada persoalan diskriminasi perbudakan misalnya, di mana seseorang dianggap boleh mendiskriminasi orang lain karena identitasnya, maka diskriminasi terhadap kaum Homoseksual adalah ujian baru bagi para teolog. Ujian ini sengaja diberikan Tuhan untuk mengetahui apakah agama yang mereka agung-agungkan itu masih berkomitmen pada nilai-nilai kemanusiaan, atau justru mereka jadikan alat justifikasi untuk mendiskriminasi manusia lainnya, dan ini berarti sudah keluar dari tujuan awal diturunkannya agama-agama itu sendiri.

    Untuk keluar dari diskriminasi ini, kelompok Homoseksual berharap agar pemerintah lebih ikhlas dalam membela warga negaranya. Mereka juga berharap agar fatwa WHO terkait dengan persoalan Homoseksualitas disosialisasikan kepada masyarakat melalui Depkes. Ini perlu dilakukan demi mengikis stigma-stigma yang masih kuat bercokol dalam pola pikir masyarakat terhadap kaum Homoseksual. Mereka juga berharap agar para ahli dan kelompok professional tidak mencampuradukan antara penafsiran agama mereka yang subjektif dengan bidang studi yang mereka dalami. Mereka harus jujur untuk mengakui dan menerangkan kepada masyarakat bahwa Homoseksual bukanlah suatu penyakit yang bisa menular atau perlu disembuhkan.

    Andi menutup diskusinya dengan mengajukan solusi-solusi berikut untuk menyudahi tindakan diskriminasi terhadap kaum Homoseksual. Pertama, memperbaiki sistem pendidikan dan sosialisasi informasi di masyarakat. Ini dilakukan agar masyarakat terbiasa mengukur sesuatu bukan berdasar dogma yang subjektif, tapi atas standar ilmiah yang objektif. Sosialisasi informasi juga perlu dilakukan untuk memberikan pandangan yang benar tentang Homoseksualitas. Kedua, membuka wawasan terhadap budaya-budaya yang lebih terbuka. Ini dilakukan demi menciptakan perbaikan dan pembenahan dalam komunitas kultur kita. Ketiga, pendewasaan beragama melalui pencerahan dan diskusi-diskusi agar agama tidak lagi dipolitisir untuk kepentingan politik sesaat. Keempat, demokratisasi keluarga. Ini perlu dilakukan agar tidak lagi terjadi pemaksaan terhadap kaum homoseksual yang berakibat pada depresi yang mereka alami dan membunuh jatidiri mereka sendiri.

    “Jihad” untuk membebaskan kaum Homoseksual dari diskriminasi mayoritas bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan agamawan saja, tapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan warga negara secara serentak. Perlu diingat, Homoseksualitas bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan apalagi menular. Sebagaimana ia tidak bisa dipaksakan menjadi Heteroseksual, kaum Heteroseksual juga tidak mungkin bisa direkayasa menjadi Homoseksual.
    sekalian gw kasih link yang program JIL anti-Gay Bashing
    namun berseberangan dengan ajaran Islam

  4. #4
    pelanggan setia choodee's Avatar
    Join Date
    Sep 2011
    Posts
    2,988
    gw anti gay-bashing, berarti gw JIL donk kalo gitu gw cabut deh dari sini

    Spoiler for fyi:
    sebenarnya gw gak pernah melabeli kepercayaan gw aliran apa, yang gw anggap benar dalam hati gw itulah yang gw percaya, dan gw percaya bahwa Tuhan gw Maha pengasih keseluruh umatnya regardless kekurangan umat tersebut. dan berhubung gw yakin di sini topiknya bakal bersebarangan dengan apa yang gw percaya dan tidak mungkin ada titik temu, maka gw say goodbye aja lgsg tapi gw tetap survey dan baca2 kok, ilmu euy, kali gw dapat pencerahan di sini happy discuss.

  5. #5
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    oke, thank you

  6. #6
    Banned
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    https://t.me/pump_upp
    Posts
    2,004
    Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...

  7. #7
    Aliran anti hadits termasuk JIL bukan yak?


    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...
    Bukannya di qur'an ada kebolehan menikahi wanita dari ahli kitab?

  8. #8
    Quote Originally Posted by hajime_saitoh View Post
    Yup kalo FPI meresahkan warga dari segi kekerasan atau anarkis... JIL meresahkan masyarakat dari segi pemikiran2 nyeleneh mereka... salah satu diantaranya ya nikah beda agama...

    Kenapa masyarakat "resah" dengan nikah beda agama? Kalo anda atau masyarakat tidak suka dengan nikah beda agama, ya JANGAN MENIKAH DENGAN SESEORANG YANG BERBEDA AGAMA!! Gampang to!

    Apa JIL dan kawan-kawannya pernah MEMAKSA seorang Muslim untuk menikah beda agama? Saya rasa tidak. So what?

    Kalo ada sepasang kekasih beda agama memutuskan untuk menikah, dan mereka tidak berkeberatan, SO WHAT? Mereka nikah nggak pake duit masyarakat kok.

    Jujur ya: Anggapan JIL "meresahkan masyarakat dengan pemikirannya" itu cuma wujud kecemburuan ideologi saja. Kalo berani, ghazwul fikri dong! Pemikiran LAWAN dengan pemikiran. Minder?

    ---------- Post added at 12:33 AM ---------- Previous post was at 12:28 AM ----------

    Quote Originally Posted by choodee View Post
    ^
    true gw sendiri ga pernah tuh dengar2 dakwah dari JIL, jaman kuliah S1 padahal dakwah islam garis keras sering kedengaran di mana2, baik lewat slebaran atau kumpul grup gitu, tapi ga pernah JIL..... tim marketingnya ga bagus ini
    JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?

    ---------- Post added at 12:35 AM ---------- Previous post was at 12:33 AM ----------

    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    ^ berarti dah bubar sendiri.

    Terus terang, gue sendiri ikut milist JIL dan dah beberapa tahun belakangan ini sepi kek kuburan.
    Sepi bukan karena nggak laku. Tapi pindah media. Sekarang ramenya di twitter (follow @ulil, @assyaukanie, dkk deh). Sama aja kayak AK, dulu kan rame. Tapi pas udah ada FB dan Twitter, pada bedol desa deh semuanya.

    ---------- Post added at 12:48 AM ---------- Previous post was at 12:35 AM ----------

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    kagak
    mereka gagal total... so ?
    Tuduhan yang menarik. Begini: Ini pernah menjadi otokritik di salah satu diskusi JIL (saya hadir). Salah satu peserta memberi kritik terhadap kajian-kajian keagamaan JIL yang terkesan eksklusif dan "berat". Hal ini membuat ide-ide JIL hanya milik segelintir elite intelektual (mahasiswa, dosen dan akademisi umumnya). JIL tidak membumi, tidak masuk ke kampung-kampung seperti "para musuhnya" (Muslim garis keras).

    Hal tersebut membuat orang awam tidak begitu mengenal ide-ide Islam liberal secara utuh. Mereka (orang awam) tahu JIL hanya dari ustad-ustad mereka di Masjid yang memang anti JIL. Jadi, ada ketimpangan opini di sini.

    Makanya, banyak orang awam anti JIL hanya ikut-ikutan karena terpengaruh ustad mereka yang memang anti JIL, bukan karena ideologi. Apalagi dipanas-panasi bahwa JIL itu menghalalkan nikah beda agama. Tentu ini ide yang "nyeleneh" dan "tidak bisa diterima" di --terutama-- masyarakat kelas bawah yang rasa primordialismenya kuat. Padahal, ihwal boleh tidaknya nikah beda agama dalam Islam itu debatable. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Seharusnya sesuatu yang "debatable" jangan dihakimi secara sepihak. Lebih fair kalau dibuka ruang seluas-luasnya untuk dialektika. (Btw: bukankah Rosul menikahi Khadijah yang Kristen? Bukankah Yasser Arafat juga menikahi Suha yang Kristen?)

    Seseorang atau siapapun boleh dan sangat boleh untuk tidak setuju dengan Islam liberal. Tapi, dimohon mampu bersikap secara fair. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Jadi ada diskusi, ada dialektika. Pemikiran tidak bisa dilawan dengan ancaman kekerasan. Diskusi di Utan Kayu, Freedom Institute, Salihara, terbuka untuk umum. Tidak dipungut bayaran pula, alias gratis! So, apa yang salah? Tidak ada! Yang salah itu kalo kumpul-kumpul lantas bergerak ke sana kemari untuk merusak properti orang. Itu yang salah dan harus ditindak tegas secara hukum!!

  9. #9
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Kenapa masyarakat "resah" dengan nikah beda agama? Kalo anda atau masyarakat tidak suka dengan nikah beda agama, ya JANGAN MENIKAH DENGAN SESEORANG YANG BERBEDA AGAMA!! Gampang to!

    Apa JIL dan kawan-kawannya pernah MEMAKSA seorang Muslim untuk menikah beda agama? Saya rasa tidak. So what?

    Kalo ada sepasang kekasih beda agama memutuskan untuk menikah, dan mereka tidak berkeberatan, SO WHAT? Mereka nikah nggak pake duit masyarakat kok.

    Jujur ya: Anggapan JIL "meresahkan masyarakat dengan pemikirannya" itu cuma wujud kecemburuan ideologi saja. Kalo berani, ghazwul fikri dong! Pemikiran LAWAN dengan pemikiran. Minder?
    emangnya ada yang mentungin JIL, Ish?
    Selama ini JIL menang corong, giliran masyarakat
    awam punya corong, mulai deh JIL kalah suara

    JIL itu segmennya kaum intelek. Masjid di kampung-kampung bukan kelasnya. Anda mikir dong, masa mau bahas hermeneutika (misalnya) di masjid-masjid kampung?
    intelek atau sok intelek, Ish?
    itu dua hal yang berbeda...

    Sepi bukan karena nggak laku. Tapi pindah media. Sekarang ramenya di twitter (follow @ulil, @assyaukanie, dkk deh). Sama aja kayak AK, dulu kan rame. Tapi pas udah ada FB dan Twitter, pada bedol desa deh semuanya.
    #IndonesiaTanpaJil juga memanfaatkan Twitter
    dan Facebook...

    Tuduhan yang menarik. Begini: Ini pernah menjadi otokritik di salah satu diskusi JIL (saya hadir). Salah satu peserta memberi kritik terhadap kajian-kajian keagamaan JIL yang terkesan eksklusif dan "berat". Hal ini membuat ide-ide JIL hanya milik segelintir elite intelektual (mahasiswa, dosen dan akademisi umumnya). JIL tidak membumi, tidak masuk ke kampung-kampung seperti "para musuhnya" (Muslim garis keras).

    Hal tersebut membuat orang awam tidak begitu mengenal ide-ide Islam liberal secara utuh. Mereka (orang awam) tahu JIL hanya dari ustad-ustad mereka di Masjid yang memang anti JIL. Jadi, ada ketimpangan opini di sini.

    Makanya, banyak orang awam anti JIL hanya ikut-ikutan karena terpengaruh ustad mereka yang memang anti JIL, bukan karena ideologi. Apalagi dipanas-panasi bahwa JIL itu menghalalkan nikah beda agama. Tentu ini ide yang "nyeleneh" dan "tidak bisa diterima" di --terutama-- masyarakat kelas bawah yang rasa primordialismenya kuat. Padahal, ihwal boleh tidaknya nikah beda agama dalam Islam itu debatable. Ada yang membolehkan, ada juga yang tidak. Seharusnya sesuatu yang "debatable" jangan dihakimi secara sepihak. Lebih fair kalau dibuka ruang seluas-luasnya untuk dialektika. (Btw: bukankah Rosul menikahi Khadijah yang Kristen? Bukankah Yasser Arafat juga menikahi Suha yang Kristen?)

    Seseorang atau siapapun boleh dan sangat boleh untuk tidak setuju dengan Islam liberal. Tapi, dimohon mampu bersikap secara fair. Pemikiran harus dilawan dengan pemikiran. Jadi ada diskusi, ada dialektika. Pemikiran tidak bisa dilawan dengan ancaman kekerasan. Diskusi di Utan Kayu, Freedom Institute, Salihara, terbuka untuk umum. Tidak dipungut bayaran pula, alias gratis! So, apa yang salah? Tidak ada! Yang salah itu kalo kumpul-kumpul lantas bergerak ke sana kemari untuk merusak properti orang. Itu yang salah dan harus ditindak tegas secara hukum!!
    Faktanya, saat ini JIL sudah kalah suara, ketika
    masyarakat awam yang tersadarkan mulai meng
    gunakan media yang sama untuk memerangi JIL


    betewe, saat menikahi Khadijah, Muhammad be
    lum jadi Rasullullah, Ish, jadi belum bisa dicontoh.

    ---------- Post added at 06:18 AM ---------- Previous post was at 06:09 AM ----------

    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Udah pernah ikut diskusi di Utan Kayu? Kalo topiknya pas rame, itu aula teater penuh sesak. Apalagi seri Tadarus Ramadhannya, wah.. rame! Tapi ya itu, segmen JIL memang --otomatis-- terbatas. Yang datang cuma kalangan tertentu saja; Kebanyakan mahasiswa atau kalangan intelektual. Beda dengan Tabligh Akbar, segala tukang becak, pengangguran, dll pada muncul.

    Ibarat musik, wacana Islam yang diketengahkan JIL itu bisa dianggap musik klasik atau jazz. Tidak "easy listening" tapi bukan berarti tidak berkualitas.

    Nah, kalo Majelis Rasulullah, Ustad Jefri, Mamah Dedeh, Aa Gym, dkk ibarat musik ya DANGDUT. Sangat easy listening, sangat populer, dan digemari banyak orang. Tapi ya kajian seringkali kurang berbobot.

    Anda mau buka konser klasik, opera atau jazz di kampung-kampung ya nggak laku. Coba konser dangdut koplo, wah, itu orang tua dan muda pada jejingkrakan semalem suntuk. Dijamin deh!!!
    hahaha....
    manusia sok intelek memang begitu, Ish, ngakunya
    demen Klasik, Opera, atau Jazz...
    padahal begitu dengar musik dangdut, diam-diam
    ikut goyang, minimal goyang jempol


    Apa yang dilakukan Ulil itu biasa-biasa aja kok dalam ranah keilmuan. Kritik dan dekonstruksi agama, hal yang biasa saja. Masalahnya adalah: Masyarakat kita tidak terbiasa melihat agama dihakimi dengan standart-standart ilmiah. Admit it!! Padahal, di kalangan akademisi terutama di barat mah biasa.

    Di kalangan Kristen ada Ioanes Rakhmat. Dia seorang mantan pendeta GKI yang "murtad". Dia pernah mengkoreksi anggapan rekannya, Abd. Moqsith Ghazali, dalam sebuah diskusi di mana Pak Ioanes jadi pembicara. Abd. Moqsith, sebagai moderator, memperkenalkan Ioanes sebagai "seorang teolog". Ioanes mengkoreksinya, "saya bukan teolog, tapi kritikus teologi". "Kritikus teologi", sambungnya, "bertugas mendekonstruksi teologi".

    Di kalangan Kristen, banyak yang memusuhi Ioanes. Tapi umumnya tidak ada yang sampai mengancam fisik. Padahal, Ioanes begitu gamblang mendekonstruksi teologi Kristen. Karena bukunya, "Membedah Soteriologi Salib", Ioanes berurusan dengan petinggi GKI yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Pendeta.

    Ioanes JAUH lebih gahar dalam mendekonstruksi dan mengkritisi agamanya (bekas agamanya), ketimbang siapapun yang dicap "tokoh JIL". Dibandingkan Ioanes, Ulil Abshar itu masih terlalu halus.

    Blognya Ioanes Rakhmat bisa dibaca di sini:
    http://ioanesrakhmat.blogspot.com/
    wakaka...
    berbikini juga biasa dikalangan Barat, juga makan
    babi.. kenapa itu harus loe paksakan untuk dijalan
    kan oleh umat Islam?

    Banyak orang nggak ngerti JIL tapi sudah anti. Ngomongin JIL, yang dicecar selalu "Ulil". Padahal, Hamid Basyaib lebih vulgar ketimbang Ulil. Dalam sebuah wawancara di DW (Deustche Welle), pandangan Hamid sudah mengarah jelas ke Deisme. Secara "teknis", dia sudah keluar dari Islam.

    Segmen wacana-wacana JIL, sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya, memang bukan untuk "orang awam". Ulil, tentu beda dong kelasnya dengan Uje, Mamah Dedeh, Aa Gym dan sejenisnya. Ulil itu kelas akademisi, bukan retoris panggung layaknya ustad-ustad selebriti tersebut.
    sudah kalah suara, Ish... pake ngeles sok Intelek

    Karena MINDER! Tidak berani ghazwul fikri! Mengatakan "JIL tidak laku" cuma sebagai wujud ketakutan dan rendah diri saja. Karena dengan mengatakan seperti itu, dirinya merasa "besar". Yah, sekedar tombo ati karena tidak mampu melawan dengan intelektual.

    Ayo, lawan JIL dengan intelektual!! MAMPU ATAU TIDAK?? Buat paper atau makalah yang menjabarkan sanggahan-sanggahan terhadap ide-ide JIL, upload di sini atau kirim artikelnya ke media massa, MAMPU ATAU TIDAK??
    #IndonesiaTanpaJil, merupakan gerakan kaum awam,
    Ish... dan itu sudah cukup untuk membungkam JIL.

    soal kualitas pemikiran, loe juga jangan kuper dong,
    ada bejibun buku dan makalah yang membongkar
    ngawurnya pemikiran JIL


    Banyak orang-orang JIL itu Doktor, atau minimal S2. Lawan mereka dengan cara intelek. Tulisan dibalas tulisan, artikel dibalas artikel. MAMPU ATAU TIDAK?? Saya yakin, sekelas Fauzi Baadila TIDAK MAMPU menerima tantangan ini. Itulah makanya, saya bisa menuduh "gerakan anti JIL" lebih tampak sebagai wujud KECEMBURUAN INTELEKTUAL SAJA.
    ngakunya intelek, kok loe masih silau ama ijazah?


    JIL memang kelas intelektual. Jelas di grassroot nggak laku. Ibarat musik, mana ada grassroot dengar Jazz atau Klasik? Kalopun ada, JARANG!

    Grassroot ya dangdut, SKA, ST 12, Kangen Band, dan band-band Malaysia.
    hahaha...
    asal jangan begitu dengan musik kampung, jem
    pol loe masih ikut goyang, Ish



    Btw, follow twitter saya: @tingnongtingcer
    Kalau mau difolback, tinggal mention dan bilang dari Kopi Maya.
    ups... loe ngga lagi taruhan dapatin 3000 follo
    wer sebelum jam 12 malam nanti?


  10. #10
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Mungkin INSIST (Adian Husaini, Hamid Zarkasyi, dll) bisa dijadikan tandingan JIL (Ulil, Moqsith, dll).

  11. #11
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    emangnya ada yang mentungin JIL, Ish?
    Selama ini JIL menang corong, giliran masyarakat
    awam punya corong, mulai deh JIL kalah suara
    "Menang corong?" Memangnya corong JIL itu di mana saja? Wacana dan dakwah JIL itu DARI DULU memiliki segmen yang eksklusif (dan ini menjadi otokritik di kalangan JIL sendiri, sudah saya katakan di atas). Kalopun ada artikel yang ditulis di media massa, kebanyakan muncul di Kompas atau Koran Tempo. Nah, kita tahu siapa aja segmen dua media tersebut. Umumnya adalah kelas intelektual menengah ke atas.

    Aneh kalo tiba-tiba ada yang "menuduh" JIL menang corong, dan tiba-tiba pula, diikuti tuduhan: "karena orang awam punya corong" maka JIL kalah suara".

    Emang pernah ada kontestasi seperti itu?

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    intelek atau sok intelek, Ish?
    itu dua hal yang berbeda...
    Tanggapan anda sepertinya tidak bermutu, dangkal. Terdengar seperti "asal kontra" atau "asal kejawab".

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    #IndonesiaTanpaJil juga memanfaatkan Twitter
    dan Facebook....
    So what? Nggak ada argumen babarblas!

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Faktanya, saat ini JIL sudah kalah suara, ketika
    masyarakat awam yang tersadarkan mulai menggunakan media yang sama untuk memerangi JIL....
    "Memerangi JIL?" Bhuakakakaka..... Bagaimana WUJUD memeranginya? Ide dan pemikiran kok diperangi cuma dengan koar-koar dan statment "Indonesia tanpa JIL?"

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    betewe, saat menikahi Khadijah, Muhammad be
    lum jadi Rasullullah, Ish, jadi belum bisa dicontoh.
    Berarti itu suatu tindakan yang tidak terpuji?

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    hahaha....
    manusia sok intelek memang begitu, Ish, ngakunya
    demen Klasik, Opera, atau Jazz...
    padahal begitu dengar musik dangdut, diam-diam
    ikut goyang, minimal goyang jempol .
    Tanggapan yang tidak ada substansinya, tidak bermutu. Wacana JIL memang kenyataannya kelas intelektual menengah ke atas. Yang datang ke situ kebanyakan memang sudah bidangnya. Salah satunya adalah kelompok Mahasiswa UIN. Apa itu sok intelek?

    Misalkan ada orang kuliah Seni, terus ikut diskusi Seni, apa itu "sok intelek?"

    Tuduhan anda itu pointless, dan sepertinya hanya menunjukkan kecemburuan intelektual saja. Toh saya lihat, dari tadi anda belum satupun melontarkan bantahan substansial "kenapa harus anti JIL".

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    berbikini juga biasa dikalangan Barat, juga makan
    babi.. kenapa itu harus loe paksakan untuk dijalan
    kan oleh umat Islam?
    Jadi, umat Islam menolak pendekatan kritis dan dekonstruktif atas agama Islam, begitu? Hahahaha.....

    Kalo ada umat Islam yang tidak suka pendekatan kritis dan dekonstruktif terhadap agama Islam, ya silakan. Oke-oke saja kok. Tapi jika ada umat Islam yang setuju dengan pendekatan kritis dan dekonstruktif terhadap agamanya, anda juga tidak bisa melarang. Adil kan?

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    sudah kalah suara, Ish... pake ngeles sok Intelek ?
    KALAH SUARA?? Memangnya kalo "menang suara" berarti BENAR begitu? Berarti, sesuatu itu BENAR karena "banyak yang menyuarakan" ya, bukan karena argumentasi rasional?? Bandwagon fallacy! (Ternyata kualitas "para anti JIL" cuma segini.)

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    #IndonesiaTanpaJil, merupakan gerakan kaum awam,
    Ish... dan itu sudah cukup untuk membungkam JIL.
    Ya nggak cukuplah! Hahahaha..... Sebuah ide/pemikiran kok dilawan dengan teriakan yang menentang ide tersebut. Nggak nyambung!

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    #soal kualitas pemikiran, loe juga jangan kuper dong,
    ada bejibun buku dan makalah yang membongkar ngawurnya pemikiran JIL .
    Dan ada bejibun buku yang menjawab. Biarlah, pemikiran bertanding di level pemikiran. Buku dilawan buku, ide dilawan ide. Tidak ada masalah sedikitpun ada kritisisasi terhadap pemikiran JIL. Itu bagian dari dialektika. Tapi, apa hubunganya dengan "orang awam" dan aksi menentang JIL yang dangkal itu? Kalo memang mau menentang, ya tulis aja buku atau artikel! Apa anda dulu nggak pernah kuliah? Nggak pernah berkecimpung di ranah akademik?

    Makanya, saya berani bilang: Aksi gerakan anti JIL itu cuma wujud kecemburuan intelektual saja. Dangkal dan tanpa argumen. Masa ide/pemikiran intelektual dilawan pake demo di HI? Banyak orang tidak tahu apa-apa tentang JIL, tapi sudah terprovokasi untuk menentang.

    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    #ngakunya intelek, kok loe masih silau ama ijazah?
    Dalam konteks ini, gelar kesarjanaan itu menunjukkan standart keilmuan. Mereka membicarakan sesuatu yang sudah merupakan bidang mereka. Dalam kerangka bidang tersebut, latar belakang akademik (gelar) penting (meskipun bukan segala-galanya).

    Misalnya ada wacana formalisasi syariat Islam. Wacana ini kan nggak bisa dilihat cuma dari satu perspektif saja (sekedar menurut agama Islam). Tapi bisa dari beragam perspektif. Ada pakar antropologi, pakar fikih, pakar ilmu politik, pakar sejarah, dan seterusnya yang bisa ikut andil memberikan pendapat. Di sinilah nanti terjadi dialektika, dan itulah diskusi.

    Bisa saja para pakar itu salah, tapi "salah"-nya mereka tentu berbeda dengan salahnya orang awam. Dan kesalahan itu akan bisa dikoreksi di forum diskusi. Itu sudah "nature"-nya para akademisi dan kaum intelektual. Dan dari kesalahan itulah, ilmu itu terus berkembang.

    Sikap yang salah itu adalah sikap yang menentang suatu pemikiran, tapi sebagian besarnya cuma koar-koar anti terhadap pemikiran tersebut. Tidak ada diskusi, tidak ada dialektika.

    Makanya saya katakan: Banyak buku yang kontra pendapat dengan JIL itu "natural" dan bagian dari dialektika. Tidak perlu anda "nggumun", karena sebuah pemikiran itu menjadi sempurna dan matang salah satunya karena peran pendapat yang kontra. Lantas kenapa juga kan harus turun ke jalan menolak sebuah pemikiran? Nggak nyambung!!

    ---------- Post added at 09:42 AM ---------- Previous post was at 09:33 AM ----------

    Quote Originally Posted by purba View Post
    Mungkin INSIST (Adian Husaini, Hamid Zarkasyi, dll) bisa dijadikan tandingan JIL (Ulil, Moqsith, dll).
    Adian Husaini yang dokter hewan itu?

    Point saya: Silakan memerangi pemikiran JIL. Itu bagian dari kebebasan berpendapat. Tapi, jangan sampe ada "pembungkaman" atau "ancaman fisik" terhadap siapapun yang dituding Muslim liberal. Karena menjadi Muslim liberal juga bagian dari kebebasan berpendapat, betapapun tidak setujunya anda.

    Silakan, ide dilawan dengan ide. Buku dibalas buku. Artikel dibalas artikel.

    Sejujurnya, saya melihat di thread ini mereka yang "anti JIL" TIDAK BISA/TIDAK MAMPU mengurai kontra opininya dengan baik. Kebanyakan cuma modal koar-koar saja. Kenapa sih? Kalo mereka pernah kuliah kan pasti tahu dan paham bagaimana "nature"-nya kaum intelektual. Boleh saja nggak setuju, tapi uraikan pandangan anda secara argumentatif.

    Sejak era AK sampe KM, kayaknya penyakit para fanatik agama itu sama saja. Saya butuh sparing partner yang bagus. Karena dengan sparing partner yang bagus, saya bisa meningkatkan kadar wawasan saya.

    Kualitas diskusi tidak akan meningkat selama para pesertanya cuma bisa posting sebaris-dua-baris, cuma bisa "ngetroll" opini yang tidak disetujuinya, dan selama cuma bisa copy-paste link tanpa opini pengantar.

  12. #12
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by ishaputra View Post
    Adian Husaini yang dokter hewan itu?
    Nah, respon anda ini tidak berbeda dgn respon para anti-JIL.

    Adian Husaini memang S1 lulusan kedokteran hewan tetapi ketika S3 dia mengambil studi Islam di Malaysia (CMIIW).

    Ada perbedaan mendasar antara INSIST dan JIL dalam mengaji Islam. INSIST berpijak pada keyakinan Quran sbg teks ilahiyah yg memiliki kebenaran absolut. Itu sangat berbeda dgn JIL yg memandang Quran sbg dialektika tuhan dan manusia. Saya masih melihat JIL sebagai orang-orang yg masih takut neraka tetapi tidak mau ketinggalan jaman. JIL berusaha reinterpretasi ajaran Islam sesuai dgn konteks kekinian. Tetapi apakah demikian maksud para pendiri Islam dulu (Muhammad cs)? Atau justru INSIST yg lebih dekat dgn maksud para pendiri Islam tsb?


  13. #13
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    mana nih, jaga dia kan di ak t'masuk barisan p'bela JIL
    mpe bosen gwe liat muka si ulil

  14. #14
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    nti kl gw bahas ahli kitab itu bkn non muslim, jd bahas agama

    udah terusin aja bahas indonesia tanpa JIL

  15. #15
    pelanggan sejati Urzu 7's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    7,940
    So..JIL is gay

  16. #16
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    sayangnya di pasal 29 UUD 45 (udah diamandemen blum ya?) negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, jadi mau ahmadiyah, JIL, FPI, semuanya bebas di Indonesia

  17. #17
    Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya?

  18. #18
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by danalingga View Post
    Pertanyaan gue cuma satu sih: Emang JIL masih exist ya?
    kagak
    mereka gagal total... so ?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  19. #19
    ^ berarti dah bubar sendiri.

    Terus terang, gue sendiri ikut milist JIL dan dah beberapa tahun belakangan ini sepi kek kuburan.

  20. #20
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    jualannya ga laku rupanya
    cuman dpt simpati dari luar negara ya?

Page 1 of 5 123 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •