Results 1 to 20 of 94

Thread: #IndonesiaTanpaJIL

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Berarti ketika JIL sedang menelaah Quran secara ilmiah, mereka bukan muslim?
    apa hubungannya antara obyek kajian dengan kepercayaan pengkajinya?
    klo seorang yng ente label orientalis aja boleh suka2 mengkaji kitab suci agama
    mengapa muslim atau kristiani atau buddhis misalnya, ketika mengkaji kitab sucinya secara ilmiah
    ostosmastis kehilangan kepercayaannya?, apa dasar ente mendiskriminasi mereka dng orientalis?

    Predikat muslim mengikat seseorang utk memperlakukan Quran sbg teks luar biasa karena Quran merupakan bagian keimanan dari seorang muslim. Mungkin analoginya kurang lebih begini. Muhammad adalah ayah dari Fatimah. Apakah mungkin Fatimah melayani Muhammad sbg suaminya? (diperjelas: hubungan syeiks) busyet dah... s.e.x aja disensor
    iki maksudnya apa?
    bikin analogi kok tendensius, kesannya sekedar pengen olok2
    klo gitu apa bedanya ente dng ishaputra?
    persoalan spt apa yng pas dianalogikan dng anak perempuan ente
    melayani ente layaknya suami misalnya.


    Dari sudut pandang nonmuslim, boleh saja JIL mendekonstruksi aqidah Islam agar sesuai dengan keinginan mereka. Tetapi dari sudut pandang muslim itu sendiri, apakah mungkin?
    kenapa enggak?
    emangnya cuman kelompok JIL yng spt itu?
    coba baca sejarah pemikir2 islam lebih banyak lagi

    Buat ane apa yg dilakukan JIL agak aneh. Mereka membela diri dgn mengatakan bahwa mereka mendekonstruksi hubungan sesama manusia, bukan hubungan dgn tuhan. Tetapi memperlakukan Quran sebagai teks biasa sudah menunjukkan bahwa mereka juga mendekonstruksi hubungan dgn tuhan.

    maksud ente buat yng ngaku ateis aja dah merasa aneh, apalagi buat muslim gitu?
    emangnya pemikiran setiap muslim harus = yng ente kira?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  2. #2
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    apa hubungannya antara obyek kajian dengan kepercayaan pengkajinya?
    klo seorang yng ente label orientalis aja boleh suka2 mengkaji kitab suci agama
    mengapa muslim atau kristiani atau buddhis misalnya, ketika mengkaji kitab sucinya secara ilmiah
    ostosmastis kehilangan kepercayaannya?, apa dasar ente mendiskriminasi mereka dng orientalis?
    Tidak usah diperluas ke umat kristen, buddha, dll, fokus saja dulu ke muslim. Ente kan muslim? Apa posisi Quran bagi ente? Firman tuhan (Allah swt) kan? Dengan begitu, apakah posisi Quran sama dengan koran Pos Kota misalnya? Tentu beda. Ente tidak akan pernah menyalahkan satu pernyataan pun dalam Quran, tapi ente bisa dengan mudah menyalahkan suatu pernyataan dalam koran Pos Kota.

    Seandainya ente menyalahkan satu pernyataan saja dlm Quran, berarti ente tidak lagi beriman bahwa Quran adalah firman tuhan, karena yg namanya firman tuhan, tentu tidak akan pernah salah. Jadi tidak ada yg namanya kajian ilmiah dari seorang muslim pada Quran. Segala sesuatu yg dikaji secara ilmiah, maka suatu ketika harus bersedia utk disalahkan. Bagaimana dgn Quran? Bagi seorang muslim, Quran tidak akan pernah salah.

    Lain halnya dgn nonmuslim. Mereka tidak terikat dgn keimanan bahwa Quran sbg firman tuhan. Dengan begitu tidak ada kendala utk mengaji Quran secara ilmiah. Artinya posisi Quran sepadan dgn koran Pos Kota. Dlm pengertian, suatu ketika Quran pun dapat disalahkan seperti halnya koran Pos Kota. Tidak ada kontradiksi metodologi ketika nonmuslim mengaji Quran secara ilmiah.

    iki maksudnya apa?
    bikin analogi kok tendensius, kesannya sekedar pengen olok2
    klo gitu apa bedanya ente dng ishaputra?
    persoalan spt apa yng pas dianalogikan dng anak perempuan ente
    melayani ente layaknya suami misalnya.
    Ane ambil Muhammad dan Fatimah supaya jelas saja. Bisa saja analoginya antara ane dan anak perempuan ane, tapi itu tidak akan menarik perhatian. Itu juga bukan olok-olok. Beda dgn ishaputra. Dia meremehkan orang-orang INSIST dgn mempertanyakan latar belakang mereka sbg pengaji agama. Bukan begitu caranya diskusi yg intelek. Padahal ada juga muslim yg disegani kalangan JIL yg berlatar belakang sarjana teknik (ane lupa nama muslim tsb).

    Muslim dan Quran seperti Fatimah dan Muhammad, suatu relasi yg mutlak, tidak bisa relatif. Muslim adalah mereka yg mengimani Quran sbg firman tuhan. Ketika mereka memperlakukan Quran seperti koran Pos Kota, maka mereka bukan muslim. Demikian juga dgn Fatimah adalah anak Muhammad. Ketika Fatimah melayani Muhammad sbg suami, maka Fatimah bukan anak Muhammad.

    kenapa enggak?
    emangnya cuman kelompok JIL yng spt itu?
    coba baca sejarah pemikir2 islam lebih banyak lagi
    Lha topik ini kan lagi ngebahas JIL, ya fokus saja pada JIL. Jika ada pemikir-pemikir muslim di masa lalu yg seperti JIL, ya penilaian ane sama saja bahwa pemikir-pemikir tsb memiliki metodologi kontradiktif.

    Sejauh ini ane menilai INSIST konsisten dlm mengaji agama. Dalam metodologi mereka, Quran punya posisi spesial, tidak sama dgn koran Pos Kota. Mengapa ane bilang mereka konsisten? Karena sejauh yg ane tahu para founding father Islam tidak ada yg memperlakukan Quran sbg teks biasa.

    JIL harus menunjukkan bahwa ada founding father yg sempat memperlakukan Quran sbg teks biasa, maka metodologi mereka pun tidak lagi kontradiktif dan bahkan mendapatkan legitimasi sejarah.

    Analoginya begini. Para founding father mendirikan Indonesia dgn dasar Pancasila. Jika sekarang ada yg mau mengubahnya menjadi bukan Pancasila, maka negaranya sudah bukan Indonesia lagi.

    maksud ente buat yng ngaku ateis aja dah merasa aneh, apalagi buat muslim gitu?
    emangnya pemikiran setiap muslim harus = yng ente kira?
    Lha kalo beda, apa pikiran ente?

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •