Quote Originally Posted by Nharura View Post
sebenarnya evil banyak punya ke "eror:-an yang bisa di lihat warga,,

1. Gogon yang langsung tiba2 menstigma bundana adalah evil. Padahal d awal2, Gogon cuek aja loh sama bundana, malah aktif di kokom.
2. Danalingga, yang terkesan "menghindar" untuk berkomunikasi dengan gogon,, makin menandakan besar kemungkinan.
dia sobatan, apalagi alasan memilih bundana adalah korban, di luar logika normal.
3. seharusnya, evil dalam memilih bundana, jangan pake analisa pak ronggo, tapi mencoba menganalisa satu2 tulisan bundana, lalu di beberkan,
ada kejanggalan, yang terlalu ngotot, terus bilang aja, bundana sebagai provokator untuk menggiring warga, baru akhirnya, bilang netral,
dan gak minta untuk dipilih bersama, ada kemungkinan "hati" warga bisa ikut dengan kata2 evil, tapi evil kurang cermat mendakwa bundana.

4. intinya, evil memang "bermain aman", andai aja, evil mau mengorbankan satu evil, untuk dijadikan sasaran warga,, tapi omongan evil salah satunya
ada dipercayai warga.
5. andai sasarannya, bukan memilih warga yang membahayakan, tetapi sasarannya adalah "mengambil hati warga", jadi sebelum memilih warga yang
membahayakan, masing2 pihak menanalisa, siapa2 aja warga murni. Nah, klw keliatan mereka adalah warga murni, mulai deh lakukan PDKT (seperti berkomunikasi
di board), klw sudah dipercayai warga, khan enak "diarahkannya", tapi evil bermain langsung sikat,, bukan bermain licik.
Menurut gue itu diperhatikan (dan ditemukan) karena Gogon dan Gue dah masuk blakclist kokom.
Jadi deh semua komen diperhatikan. Dan gue kan dah ngomong gue nggak pake dasar analisa ronggo. Tetep aja.
Kalo pengalaman dari game terdahulu, hal2 remeh temeh gitu lebih sering dilewatkan.