Menurutnya sewaktu pembahasan masalah pembuatan film tersebut, ada dua kisah yang tadinya muncul sebagai calon yang akan diangkat ke film, yaitu Jaka Sembung dan Si Pitung. Namun, akhirnya kisah Jaka Sembung-lah yang akan difilmkan.
"Pertimbangannya adalah Si Pitung itu dari kisah yang dipercaya nyata di masyarakat Betawi. Jadi kalau mau ngebikinnya juga harus pake riset. Sementara, Jaka Sembung adalah cerita fiktif. Jadi bisa kita eksplorasi sebebas mungkin tanpa harus terbebani dengan kejadian faktual dan historikal. " Hanung Bramantyo menjelaskan mengapa Jaka Sembung yang dipilih.
Hanung akan menggarap remake Jaka Sembung ke dalam format animasi. Naskahnya digarap oleh Jojo ( penulis naskah dari Dapur Film –red) dan dirinya juga menggandeng penulis asli Jaka Sembung, Pak Zahir.
"Saya juga menggandeng yang punya cerita Jaka Sembung, Pak Zahir. Dan Jaka Sembung ini akan dibuat dalam bentuk animasi, " papar Hanung.
Permasalahan terbesar dalam membuat animasi adalah cerita dan juga gaya animasinya. Cerita animasi drama bertema keluarga dan dongeng, sudah identik dengan Pixar, Disney ataupun Dreamworks. Sementara dari gaya karakter animasi, negara-negara seperti Jepang, Cina, Amerika Serikat, Perancis, Korea Selatan bahkan Malaysia sudah memiliki gaya tersendiri. Ini pun diakui oleh Hanung.
"Makanya kita ambil tema silat. Supaya olahraga bela diri khas Indonesia ini nggak tersingkirkan. Selama ini kesannya gitu. Kalau tema keluarga, drama, dongeng kan udah identik sama Disney, Pixar. Nah kita ingin beda. Untuk gaya animasi emang harus diakui kita belum punya gaya sendiri. Saya lihat konsep yang udah dibikin untuk Jaka Sembung, saya lihat pengaruh anime dan manga*-nya masih kuat banget, " Hanung menjelaskan lebih jauh.
Hanung mengaku untuk karakter Jaka Sembung, dirinya memakai Agus Kuncoro Adi (Tanda Tanya, Pengejar Angin, Tendangan Dari Langit- red). Menurut Hanung, Agus Kuncoro Adi adalah orang yang tepat untuk karakter Jaka Sembung.
Namun ketika sketsa animasinya dibuat, Hanung melihat pengaruh manga dan anime masih sangat kuat.
"Pas saya lihat, beberapa detailnya okelah. Tapi, kemudian matanya, rambut dan beberapa detail lain jadi terlihat manga banget. Susah juga karena generasi kita saat ini benar-benar terpengaruh oleh manga," Hanung mengungkapkan pendapatnya.
Hanung merasa penting untuk kembali merunut ke belakang sejarah dan budaya gambar yang ada di Indonesia. Itu dilakukan untuk menemukan ciri khas gambar-gambar di Indonesia.
"Kayak film Mulan misalnya. Biarpun itu dibuat oleh Amerika, tapi gambarnya Cina banget. Atau ketika film animasi Pinochio dibuat. Seolah bisa meng-capture kultur Italia. Kalau kita lihat gambar-gambar klasik Cina, kita tau itu gambar buatan Cina tanpa diberikan tulisan. Kita perlu merunut kembali ke belakang mengenai sejarah gambar Indonesia itu kayak apa. Supaya animasinya akan benar-benar menampilkan budaya Indonesia, " tutur Hanung menjelaskan.
Jaka Sembung rencananya akan dibuat Hanung dalam konsep 2 dimensi. Namun, pihak MVP Pictures yang menjadi rekanan Hanung dan Dapur Film meminta film Jaka Sembung dibuat dalam format 3 dimensi.
"Saya inginnya 2 dimensi aja. Tapi Pak Raam ( dari MVP-red) minta 3D. Alasannya akan bisa lebih dijual di pasar internasional," jawab Hanung menjelaskan.
(tz/bc)
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote