@chan: sabar bu....sabar....
waduh om, bergaul tanpa mahram sekarang tanpa keluar rumah juga bisa...nah ini kita bergaul di fordis...blum lagi kalau ada webcam, YM, ICQ, Skype, BBM...buanyaaaaaaaaaaaaaaaaak, bergaul tanpa melibatkan mahram dan bisa merusak rumah tangga tanpa si istri perlu melangkah keluar rumah.siapa bilang sih wanita tidak memiliki kegiatan.. ada kok tapi antar ibu2 bukan dicampur dengan laki2 itu dalam islam, ya karena negara kita dasarnya sih sebenernya liberal so ya udah pola pikir kita selama ini ya mindset liberal, makanya gak heran malah orang Islam sendiri yang keliatannya lebih takut terhadap penerapan hukum islam itu sendiri...
dan memang bagi kaum muslimin dunia itu ibarat penjara Bundana....
lha kalo pake contoh sampe istrinya memasukkan pria lain tanpa ijin suaminya itu berarti khan emang istrinya yang gak mau nurutin apa kata suaminya..
Karena itu saya bilang, pilihan anda apa? Memenjara istri anda sampai batas dimana pada akhirnya dia jenuh dan "meninggalkan" anda, atau anda bisa berbagi dan membuat istri anda mengerti untuk bisa mengaktualisasi dirinya sebagai manusia?
Sebenernya titik berat saya adalah komentar anda tentang istri banyak maunya dan suami yang anda bilang tidak bisa mendidik istri sampai banyak maunya.
Ketika saya giring, istri banyak maunya kayak gimana...sebenernya anda masih memaparkan hal2 cetek dalam rumah tangga tapi gawat kalau gak segera diselesaikan, ekonomi, materi.
Anda memaparkan istri kudu ngerti kemampuan suami yang cuma segitu thok ngasihnya. Istilah kata, suami cuma bsia ngasih 50rebu sehari, ya harus bisa buat bayar listrik, makan, bayar sekolah anak, bayar air, iuran ini itu bla bla...well, seharusnya, seperti kata suami saya, suami istri sama2 berhitung, kebutuhan rumah tangga mereka yang sesungguhnya seberapa sih, dan kalau memang sudah ada kesepakatan suami yang keluar mencari nafkah berarti suami kudu bisa memenuhi target segala kebutuhan itu terpenuhi. Kalau suami merasa tak sanggup, mestinya istrinya diajak berpikir gimana caranya memenuhi kebutuhan itu.
Hari ini kebutuhan primer bukan lagi sandang, pangan, papan. Pendidikan, transportasi dan saving sudah masuk kebutuhan primer dan urgent. Jadi itu harus dipikirkan berdua, kalau kemudian istri minta ijin untuk keluar rumah, bekerja, mestinya sih didukung.
Saya paling eneg dengan pernyataan, "kerja boleh, tapi jangan lupakan tugas2 rumah tangganya."
Memangnya tugas rumah tangga istri apa sih?
Bersih2 rumah? emang suami gak punya tanggung jawab buat bersih2 rumah?
Mendidik dan mengasuh anak? Enak bener, bikinnya bareng2, ngurusnya ogah
Masak? Haduh, suami saya suka gentian masak tuh sama saya, dan buat blio gak masalah tuh.
Trusssssssssssssss...dimane tugas rumah tangga itu yang kudu dipegang istri?
Itu yang mau saya bilang, dimana letak banyak maunya?
saya juga punya contoh, diri saya sendirisaya kasih contoh aja dah... istri saya.. dia ibu RT, pernah minggu lalu dia minta ijin keluar makan bareng ama temen2 SMAnya, saya kasih ijin dia asalkan dia ditemin mahromnya, karena dia kumpul juga ada temen SMAnya yang laki2... en dia mengerti dia gak jadi pergi karena dia gak ada mahromnya yang bisa nemenin... dia mengerti karena dia juga mengerti agama.. gitu lho... sejak kapan Islam menghalangi wanita untuk bergaul???
saya IRT fulltime, karena itu pilihan saya dan hasil diskusi panjang antara saya dan suami (sebelum2nya saya pun sempat bekerja meski part time dan itu atas ijin suami dan suami sama saya kerja sama ngurus rumah tangga kami), suami saat ini kerja di kalimantan dengan jadwal cuti setiap dua bulan sekali. Di rumah saya ada dua anak, satu menjelang 6 tahun yang satu batita, plus bapak saya yang kondisi fisiknya tidak sehat 100%.
Saya terpaksa jadi operasional di rumah, pergi ke pasar, ke apotek, kemana2 dah, alias tukang ojek anak2 juga...harus ditemani sama mahram? Mahram saya tinggal bapak yang gak kuat saya ajak angin2an naik motor, tuh. Ajak anak2 saya? Kalau pas malem2 mesti ke apotek, kasian dong mereka kena angin malam...Jadi gimana? Padahal bapak saya mendadak kehabisan obatnya? Saya suruh orang lain? Dia masuk rumah juga bukan mahram saya...emang orang lain gak ada kerjaan apa?
Sometimes kita harus open mind...kenapa ketika perempuan dengan pemikiran seperti saya langsung dicap liberal dan kebanyakan kemakan propaganda Barat? Aduh, saya kan juga baca2 bukunya Ali Syari'ati.
Wah chan, kalau contoh di atas, dikau gak boleh kerja tuh, kan kerjaan dikau bareng makhluk laki2 bukan mahram, kemaren kopdar sama cupine juga gak boleh tuh mestinya![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote