-
di financial model sebelum kerjasama harus positif/untung, maka itu ada kerjasama.
tapi keuntungan itu biasanya didapat PDAM dengan skema eskalasi tarif setiap 2 tahun
Sepertinya di skema awal, tidak ada rencana peningkatan kapasitas, karena jika diketahui
ada rencana pembuatan WTP, nilai investasinya berubah.
Padahal riskan memasukan asumsi eskalasi tarif dalam financial forecast, karena eskalasi
tarif itu keputusan politik kepala daerah dan harus disetujui DPRD, jika ditolak dan gagal naik,
seperti kasus PDAM Jaya, otomatis akan merugi. Harusnya dulu di awal buat model dengan
skenario konservatif, zero inflation cost & tariff escalation.
Dari cerita diatas, pembangunan WTP dan jalur distribusi dilakukan terpisah diluar skema
Palyja dan Aetra. Salah, karena di saat masa kerjasama dengan Aetra belum selesai, sudah
membuat kerjasama pembangunan WTP baru dengan Bank Dunia
Last edited by itsreza; 24-01-2012 at 02:03 AM.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules