kayak orang bali ya? kalau keluar dari agama keluarga dan adat maka dia tidak dianggap warga desa adat
kayak orang bali ya? kalau keluar dari agama keluarga dan adat maka dia tidak dianggap warga desa adat
hahaha....
kalau orang ngontrak dirumah gw, lalu dia bikin ke
lakuan yang gw ngga suka, mana ada hukum yang
melarang gw membatalkan kontrak.
Apalagi orang yang cuma numpang di rumah milik
Suku
tapi di Minangkabau ngga ada usir-usiran, kecuali
dia reseh saja ngerecokin orang lain![]()
Nah, "kelakuan yang tidak disukai" itu apa? Dia pake baju upin-ipin, dan anda nggak suka, apa bisa anda batalkan kontrak sepihak karena itu?
Itulah bung, pendapat saya, hukum positif TIDAK BISA berangkat dari perkara "suka-nggak-suka". Karena kalau begitu, nanti siapapun bisa nuntut seseorang hanya karena pake kaos upin-ipin.
Hukum positif, sepemahaman saya, mengatur sesuatu yang bersifat: Jelas terukur, jelas definisinya, dan jelas batasannya. Jadi bersifat objektif, dan bisa berlaku dan mengikat semua orang.
Misalkan ada aturan: "Orang miskin berhak dapat BLT". Nah yang perlu diperhatikan: Ukuran dan batasan MISKIN itu apa? Kalo cuman berdasarkan perasaan, ya subjektif.
Kalo melihat orang-orang kaya, sejujurnya saya merasa miskin. Nggak punya ini, nggak punya itu. Tapi begitu melihat gembel-gembel di jalan, saya merasa makmur sekali. Relatif kan? Makanya, harus diperjelas ukuran dan batasannya.
Dalam hal ini untuk "miskin" ukurannya kan harta materi. Jadi kalo "miskin akhlak" nggak terhitung miskin di sini. Terus, batasannya? Misalkan "orang yang terkategori miskin adalah orang yang berpenghasilan kurang dari 20 ribu perhari (atau sesuai standart yang disepakati). Itu namanya batasan. Jadi tinggal nilai saja sendiri, apakah penghasilan anda lebih atau kurang dari 20 ribu perhari dan anda bisa tahu anda terkategori miskin atau tidak.
---------- Post added at 01:03 AM ---------- Previous post was at 01:00 AM ----------
Jujur sejujur-jujurnya yah, emang ada gitu jaman sekarang yang "tinggal di rumah MILIK SUKU?" Ada juga tinggal di rumah mertua, di rumah sodara, atau di rumah tetangga. Kalo "di rumah milik suku?"
Edan... aneh banget yak nilai-nilai pedalaman? Jujur, lepas dari kasus Aan di thread ini, saya bener-bener "nggumun" dengan frase "tinggal di rumah milik suku".