-
Chief Cook

Membaca lagi bukunya SDD, Novel Hujan Bulan Juni ini mengkisahkan cerita cinta Sarwono dan Pingkan. Ternyata memang dirasa tempo dalam kisah ini begitu lambat, membacanya pun serasa selangkah demi selangkah. Padahal kisahnya sederhana, bukan seperti kisah Novel fiksi fantasi. Mungkin karena yang menulis sudah sepuh jadi katakatanya pun serasa tua atau zadul. Kata Zadul berulang kali disemat dalam buku ini. Bisa kamu bayangkan beliau tidak menggunakan kata jadul seperti kebanyakan orang, jaman dulu tetapi Zaman dulu. Begitu EYD. Entah kenapa saya agak kecewa, bukunya terasa kurang puitik. Mungkin efek puisi Hujan Bulan Juni yang sudah sangat tenar itu membuat harapan orang begitu tinggi pada Novel ini.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules