Karena penelitian usia dengan teknik radiometri itu belum reliable, artinya science belum menemukan teknik pengukuran usia bumi yg cukup baik,
jadi saat ini tidak usah dipaksakan menjadi usia sekian atau sekian hanya untuk mendukung teori2 yg belum ada buktinya.

Teori Evolusi beranggapan bahwa mahluk hidup berkembang menjadi beraneka ragam dengan cara mengembangkan design2 genetika yg baru.

Tapi sayangnya penelitian DNA tidak menemukan hal tersebut, yang terbukti di laboratorium adalah pengurangan variasi2 genetik yg terus menerus (atau pertukaran kode genetik dengan mahluk lain, kode2 tsb sudah ada dari awalnya).

Mahluk hidup tidak punya mekanisme mengubah DNA nya sendiri dan merancang-rancang fungsi2 tubuh yg baru.
Maka ikan tidak akan berevolusi menjadi mahluk darat, bajing loncat tidak akan berevolusi menjadi burung, mahluk hidup tidak akan berubah menjadi apapun kecuali sudah ada rancangan genetik dalam "perpustakaan" genetisnya atau bertukar kode dengan mahluk lainnya.

Dari sini kita tahu bahwa berapapun usia bumi tidak akan mengubah apa-apa karena tidak ada mekanisme evolusi dalam dunia genetika.

USIA BUMI adalah satu2nya benteng terakhir yg dianggap bisa menjadi jawaban logis terhadap teori evolusi.

Teori Evolusi = Mutasi x Chance x Usia Bumi

Karena Mutasi jarang terjadi dan Chance terjadinya sebuah program DNA yg baru dan berfungsi adalah sangat kecil maka terpaksa Usia Bumi harus "dibuat" sebesar2nya.

Namun penelitian di laboratorium molekular menunjukkan bahwa CHANCE terjadinya program DNA baru yg lebih canggih = 0
maka usia bumi tidak lagi menjadi significant untuk dipakai sebagai pembela teori evolusi.

Mutations cannot generate new
genetic information; so they cannot be used to explain how evolution
has proceeded from a cell with less information than is present
in modern cells.