yep. mereka gak pernah baca. mereka cuma menjadikan referensi "katanya". Sehingga terjadi banyak misinterpretasi. ketika dikejar bagaimana kesalahfahaman ini muncul--dengan menanyakan drmn sumber kesalahfahaman ini muncul, lalu ngeles kalo org2 disini cuma main debat kata-kata.
Padahal org2 disini cuma butuh verifikasi. Lha, kalau mau diskusi dg menyebutkan sumber yg gak bisa diverifikasi, bagaimana itu bisa disebut diskusi yg ilmiah?
tepat. sains hanya berbicara fakta dan eksperimen untuk mengerti bagaimana "hukum alam" bekerja. jika kemudian ada yg bertanya "siapa yang menciptakan hukum alam" ini, itu udah bukan masuk wilayah sains.
Sama halnya dengan teori-teori ilmiah lain, dan sains pada umumnya, teori evolusi tidak membicarakan Tuhan. Mengapa? Karena tidak ada cara ilmiah untuk membuktikan keterlibatan Tuhan dalam hal ini. Teori evolusi tidak membantah, tidak juga membenarkan keberadaan Tuhan. Apa yang dibantah oleh teori evolusi adalah bahwa makhluk hidup tercipta secara langsung, dalam wujud mereka hari ini.
Evolusionis bukanlah hanya bagi mereka yang menolak keberadaan Tuhan, mereka hanya orang-orang yang mencoba mencari jawaban ilmiah mengenai asal-usul keanekaragaman makhluk hidup. Tidak ada masalah apakah mereka atheis, theis, ataupun agnostik, karena sains menggunakan pandangan naturalis, bukan pandangan filosofis agama tertentu semata. Seorang ilmuwan memisahkan antara sains dan agama, mereka tidak membahas agama dari sudit pandang mereka sebagai ilmuwan. Seorang ilmuwan menggunakan pandangan naturalisme dalam pekerjaan mereka, dan dalam hidup sehari-hari mereka bisa menggunakan panangan filosofis agama mereka.
Dan teori evolusi ini telah diakui sebagai teori ilmiah, bahkan menjadi salah satu bagian dari cabang biologi, yakni biologi evolusioner. Teori ini didukung oleh berbagai bidang lain, bahkan yang belum ada di masa Darwin. Berbeda dengan klaim Harun Yahya, kenyataannya adalah berbagai bidang ilmu lain seperti paleontologi, biokimia atau genetika justru mendukung teori evolusi. Teori evolusi tidak menemui ajal seperti klaimnya, melainkan justru semakin kukuh dan semakin mampu menjelaskan berbagai pertanyaan mengenai makhluk hidup, meski tentu saja masih amat banyak pertanyaan yang harus dijawab. Bertolak belakang dengan 'teori penciptaan', yang hingga hari ini masih dianggap sebagai pseudo sains.
Usaha untuk membuktikan proses evolusi secara langsung tentu saja merupakan hal yang amat sulit, terlebih karena umumnya proses perubahan ini bersifat berangsur dan memakan waktu panjang. Namun dalam bentuk lain, ilmuwan telah membuat molekul yang meniru bentuk kehidupan, yang memiliki kemampuan untuk menyalin (menggandakan) diri sendiri, dan mampu berevolusi (http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/217054.stm ).
Satu hal yang tidak dibahas Harun Yahya adalah bentuk kehidupan awal amatlah berbeda dengan bentuk kehidupan paling sederhana yang kita kenal sekarang. Bahkan makhluk hidup bersel satu awal pun tidaklah harus sekompleks amuba atau makhluk bersel satu lainnya. Dan proses abiogenesis (yang dibahas dalam teori abiogenesis modern – bukan teori evolusi!) tidaklah secara langsung membentuk makhluk besel satu, melainkan molekul sederhana seperti RNA.
Dan bicara soal kompleksitas DNA, kenyataannya adalah bahwa tidak semua bagian dari DNA itu yang berguna untuk menyandi protein. Bukan hal aneh jika sebagian besar dari untaian DNA terdiri dari apa yang disebut ‘junk DNA’. Seberapa kecil genom yang masih bisa menjalankan fungsinya dalam kehidupan? Saat ini bakteri bernama ilmiah Carsonella ruddii adalah pemegang rekor dengan 159,662 huruf (base pair/pasangan basa), dan hanya 182 gen penyandi protein. Ini berbeda amat jauh dengan manusia, yang memiliki sekitar 3 juta pasangan basa. Ini menunjukkan hanya sebagian kecil dari bagian molekul yang diperlukan untuk membentuk kehidupan.
Lalu, kenapa ‘teori’ penciptaan tidak diterima? Sederhana saja, karena ‘teori’ penciptaan tidak ilmiah dan tidak memberi penjelasan ilmiah apapun. Itu bahkan tak bisa dikatakan sebuah ‘teori’, namun lebih cocok dikatakan opini. Opini penciptaan tidak didasari fakta dan bukti ilmiah, melainkan semata bergantung pada iman. 'Tuhan menciptakannya' bukanlah satu penjelasan yang bisa diterima secara ilmiah. Sementara sains tidak berbicara tentang kepercayaan, tapi pengujian dan pembuktian.
Mengenai Fosil dan Mengapa Tidak Ditemukan Manusia Bertangan Sembilan atau "Spesies Setengah Katak Setengah Ikan"
Agar terjadi pemfosilan, dibutuhkan kondisi yang sangat spesial, misalnya:
- tubuh organisme yang mati harus terkubur dengan cepat setelah waktu kematian, sebelum keburu terurai secara biologis, fisik, atau kimiawi.
- kondisi lingkungan sebaiknya tidak mengandung oksigen, misalnya di rawa, lumpur, atau di dasar laut.
- tidak ada banyak energi, misalnya tidak banyak pergerakan angin atau arus air.
- organisme tersebut memiliki bagian tubuh yang keras (sebenarnya bagian tubuh lunak juga bisa jadi fosil, tapi probabilitasnya lebih kecil). Jamur misalnya. Fosil jamur merupakan salah satu barang terlangka di dunia sains.
- ada mineral yang mengisi pori-pori tubuh organisme yang sebelumnya diisi oleh gas, cairan, atau material lain seperti tulang yang terkristalisasi.
- dll dsb (bisa googling sendiri)
Intinya, probabilitas bagi suatu makhluk hidup untuk menjadi fosil itu sangat-sangat kecil. Menurut perkiraan ahli paleontologi, jumlah spesies yang terfosilkan saat ini hanya 1/5.000 dari total spesies yang hidup di muka bumi.
DI majalah NG edisi spesial "Earth Report", katanya diperkirakan jumlah manusia yang pernah hidup di muka Bumi mencapai 100 milyar orang. Tapi berapa banyak sih fosil manusia yang kita dapatkan? Itu baru dari 1 spesies loh.
Itulah alasan kenapa orang menganggap fosil sebagai "harta karun".
Dengan kondisi seperti ini, rasanya kurang pas untuk bilang bahwa "dengan tidak ditemukannya fosil spesies A, maka bisa disimpulkan bahwa spesies A tidak pernah ada". Jika begini pola pikirnya, lalu bagaimana dengan nasib 4.999/5.000 x jumlah spesies yang pernah hidup di muka bumi? Apa boleh kita katakan bahwa mereka tidak pernah hidup karena fosilnya ga ada?
Dan evolusi TIDAK BEKERJA SECARA LINIER. Memangnya evolusi bekrja dg cara: amuba sel satu karena kesepian pengen jadi makhluk hidup sel banyak, katakanlah ubur-ubur. lalu karena gak punya sisik bagus, jadi ikan. terus jadi katak jadi kadal jadi koala jadi simpanse lalu jadi manusia. Karena manusia "makhluk kompleks dan sempurna" maka semua hewan lainnya mesti menjadi manusia, begitu? Dan selama proses transisi itu diciptakanlah makhluk-makhluk sejenis manusia bertangan delapan yg karena gagal lalu punah, atau diciptakan makhluk seperti putri duyung, setengah ikan setengah manusia. Semua orang yg meyakini hal ini cuma 2 kemungkinan: mereka gak pernah baca buku apapun yg bernama "buku sains" kecuali buku mitologi/dongeng. dan kedua, orang yang terkena propaganda HY tanpa mau membaca buku evolusi dg benar.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




dan bukan copy paste tuh, itu tulisan mereka tanpa quote
Reply With Quote