Kembali lagi kepembahasan ini...

Sudah berapa kali saya katakan bahwa budaya science tidak selalu selaras dengan kebenaran.
Dulu dunia science cukup jujur, sebuah hipotesa diuji dan dicari bukti2 empirisnya, kalau sudah terbukti kebenarannya baru diterima.

Tapi sejak adanya Teori Evolusi, dunia science tidak hanya didasari atas scientific Research, sebuah hipotesa bisa diangkat menjadi teori ilmiah hanya dengan dukungan banyak orang meskipun tanpa bukti ilmiah.

Maka wajar perdebatan di bidang ini makin panas karena Teori Evolusi telah menduduki posisi yang tidak seharusnya.

---------- Post added at 12:47 PM ---------- Previous post was at 12:38 PM ----------

Saya singgung sedkit mengenai pengukuran empiris.

Kalau kita mengukur temperatur sebuah benda dengan termometer yang akurat, maka kita akan menemukan sebuah angka yang sama bagi setiap peneliti.
Namun bila kita hanya mendasari penelitian atas dasar perasaan, maka peneliti yang satu bisa mengatakan benda tersebut hangat, peneliti yang lain mengatakan benda tersebut panas dst.

Hipotesa darwin masih berupa pengamatan pribadi, menurutnya 2 species yang dia amati adalah mirip.
Menurutnya kemiripan tersebut pasti karena keduanya memiliki nenek moyang yang sama.

Ini adalah pengamatan pribadi dari seorang peneliti, yang jauh dari bukti Empiris.

Kalau mau dipastikan scara empiris, maka perubahan antar species itu harus benar2 diamati, direkam, dicatat atau diukur sehingga bisa diperoleh data akurat yg tidak bias antar peneliti.