ya ampun, situh sendiri gak baca dengan baik artikelnya ya? itu sih bukan jurnal sains, tapi penafsiran sains. nyomot tulisan orang sana-sini, lalu diklaim untuk membuktikan penafsiran si penulis. bukan hasil penelitian dia sendiri, cuma nyomot2 penelitian yg lain--ambil yg dirasa perlu, pura2 gak tau dg sisanya. mining quote dimana-mana.
buka wiki utk portal evolusi. ada tuh sejambreng tulisan menganai "evidences for evolution"
saya tidak membantah, saya hanya menguji kevalidan asumsi banjir maha besar 4500 tahun lalu. sejauh ini hanya spekulasi tanpa bukti empiris
dan penyebaran manusia jutaan tahun tiu gak melulu dari fosil manusianya saja. berbagai artefak seperti peralatan purba dan lukisan dinding menjadi bukti tak terbantahkan bahwa penyebaran manusia sudah sangat-sangat lama. gak tau deh kalau ada kelalawar bisa ngegambar di gua.
klaim dan teori tanpa bukti.
karang itu bukan sekedar spesies lho, sebuah keluarga amat besar dari filum porifera dan sebagian echinodermata. tingkatan filum jauh di atas spesies.
ya ampun, jadi situh nganggap semua serangga satu spesies? begitu juga kumbang? kumbang dan serangga merupakan geng dg anggota spesies paling banyak di seluruh dunia hewan. buka wiki. serius, situh sangat membutuhkannya untuk membedakan antara spesies dan subspesies.
ilmuwan dan sejarawan modern sudah mempertimbangkan hal tersebut. makanya disiplin sains tsb bertalian erat dg arkeologi, paleontologi, dll. juga dikroscek dg sumber lain. memangnya cuma satu sumber doang yg digunain?
tau berapa tebal es kutub? ada bukti yg menyatakan bahwa sejak zaman sejarah dimulai, es kutub pernah mencair seluruhnya?
interpretasi tsb tentu saja menggunakan asumsi dan teori, tapi asumsinya kokoh, bisa dipertanggungjawabkan, bisa diuji dg lintas sains. nah, sekarang dimana bukti empiris asumsi situh? jangan karena situh gak ngerti benar asumsi yg orang gunain, lantas dibilang asumsi tsb salah. ketidakmengertian tidak berarti kesalahan.
asumsi situh skrg gmn?