Dua hari terakhir time line saya di twitter penuh dengan satu hashtag #RapeIsNot4Joke. Anda, para penyimak media, atau jejaring media sosial tentu tahu perkaranya.
Saya tidak menonton aksi Olga. Sory to say, saya harus mengaku bukan penggemar beliau. Dan sudah lebih setahun saya berhenti memirsa acara tv lokal. Tapi dari beberapa berita media, tampak cukup jelas bagaimana kejadian sebenarnya.
Dalam satu acara, Olga berdandan ala Mayat, dan saat ditanya, "meninggalnya kenapa" ia menjawab..
"Sepele.. Diperkosa Supir angkot."
Seloroh yg kemudian menimbulkan gerr tawa para penonton studio yg konon serentak melakukan tepuk pramuka.
Tapi ternyata tidak semua masyarakat bisa menerima joke itu dengan tepuk pramuka. Bahkan sebagian yg saya baca di jejaring twitter malah menjadikan tepuk pramukanya sebagai bagian dari fenomena yang menyedihkan.
Di blow up di jejaring twitter, Olga menjadi pesakitan. Ucapannya dianggap tidak mencerminkan empati pada korban pemerkosaan, atau bahkan lebih lagi : dianggap melecehkan korban pemerkosaan.
Satu opini misalnya mengatakan : Korban pemerkosaan seperti diperkosa kembali saat mendengar ucapan Olga.
Bola bergulir makin panas, media online berebut menjadikannya kepala berita, dan akhirnya Olga dilaporkan ke Komisi Penyiaran.
*** Saya bukan pemerkosa, tidak berniat utk menjadi seperti itu, dan pula tidak pernah diperkosa secara fisik. Tapi terus terang, kasus seperti ini memperkosa kadar intelektual dan pemahaman moral saya.
Ini masyarakat masih saja terlalu dibimbing utk terus menerus mengedepankan sensitifitas yang berlebihan terhadap joke, dan bukan dididik utk mengambil pesan di dalamnya.
Ucapan Olga saya yakin bukan berangkat dari duburnya. Tidak. Seberapapun tingkat pendidikan atau apapun yang didalikan orang padanya, saya yakin informasi "pemerkosaan di angkot" itu ia peroleh dari media.
Artinya, itu memang fakta yang terjadi. Dan kita tahu sama tahu, bahwa faktanya memang begitu. Bahkan lebih miris lagi, karena pemerkosaan di angkot ternyata terjadi sampai berulang kali.
Di angkot? Hellllloooooooo? Bukan dalem gudang, bukan di motel noban-go sejam, bukan di kelab malam, tapi di angkot? Dan berulang kali terjadi?
Seorang Olga pun saya kira membaca berita-berita spt itu akan merasa shock yang sama. Akan terbersit pikiran yang sama. "Gila banget sih sampe diperkosa di angkot? Emang ga ada orang liat? Emang orang cuek aja?"
Angkot adalah sarana kendaraan yang akrab dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Akibatnya identitas angkot rata-rata sangat jelas. Ada nomer trayek, dan trayeknya pun jelas. Lingkungan supir angkot pun rata-rata komunitasnya bisa terbaca/ditelusuri dengan mudah. Mau supir kadal atau komodo sekalipun (supir cadangan), dalam lingkungan supir angkot orangnya ga jauh-jauh amat.
Artinya, kejadian pemerkosaan di angkot sampai bisa jadi modus yg berulang-ulang (walau kemungkinan besar dilakukan org yg berbeda), secara logis merupakan fenomena yang menyedihkan. Ada faktor abai yg begitu besar dari masyarakat dan penegak hukum ketika kasus seperti itu berulang-ulang bisa terjadi.
In short, fenomena di masyarakat itu justru persis seperti yang disampaikan olga : pemerkosaan ini faktanya memang seperti dianggap sepele.
Karena tidak ditangani serius. Penegak hukum pun seperti santai saja. Bahkan kalau ada yang sampai masuk pengadilan pun, brengseknya seringkali kemudian hanya dijatuhi hukuman ala kadarnya.
Pemerkosaan masih dianggap sepele, dan itu mungkin justru fakta yang sebenarnya.
Berangkat dari pemahaman itu, maka Joke yang dilontarkan Olga bisa jadi membawa pesan penting yang menampar masyarakat, kita, dan penegakan hukum di negara.
Melecehkan korban? Saya pribadi tidak melihatnya demikian. Karena bentuk pelecehan tendensinya akan terasa jika memang Olga mengolok-olok korban pemerkosaan. Banyak kata bisa saya contohkan, namun tentu itu hanya membuat hobby anda melempar jumroh terlampiaskan.
Yang jelas, ini lagi-lagi kasus menyedihkan. Masyarakat, apalagi pengguna sosial media yang semestinya berpendidikan, ternyata tetap tidak mau menggunakan kecerdasannya utk mau memahami dan menangkap pesan dalam sebuah joke, tapi lebih mengedepankan sensitifitas yang berlebihan.
Olga bukan seorang stand up comedy-an, dan memang tidak sedang berstand up ria. Tapi kata-katanya bagi saya adalah punchline yang menyentil isu sensitif di masyarakat dan menamparkannya ke wajah kita.
Ia mungkin tidak menyadarinya, mungkin tidak merencanakannya. Tapi itu bukan alasan utk menjadikan jokenya sebagai bahan hujatan. Seperti orang yang belajar nilai filosofis dari semut, belalang, atau bahkan cacing tanah, maka yang "smart" justru yang bisa mengambil pesan. Yang smart jelas bukan semut dan belalang. Dan sebaliknya, yang sekadar jijik melihat semut beriringan membawa bangkai, justru mereka yang tidak mau menggunakan akal dan kecerdasan.
Kasus Olga ini sekali lagi membuktikan. Mengajak masyarakat untuk menggunakan kecerdasan itu nggak gampang. Bahkan sebagian orang yang akrab dengan dunia standup comedy pun masih terhanyut dengan arus gelombang protes tanpa melihat dari sisi yang lain. Hanya karena dia bukan comic maka jokenya pasti nggak smart? Saya yakin tidak. Saya yakin anda juga akan mengatakan : tidak.
So, jika anda merasa cerdas, maka gunakan kecerdasan anda. Kalau tidak, maka kita akan sepakat pada tiga kata yang selalu saya ungkapkan :
Sad but true.
Sentaby, DBaonk