-
Tak peduli apapun alasannya apa, penyebab utamanya cuma satu: virus stripping alias kejar setoran. Tak perlu sungkan menyebutkan bahwa secara segi kecerdasan para pemain sinetron itu berada di bawah standar yang diperlukan untuk msuk SD--jika mereka sedikit saja memilikinya, mereka gak akan jadi pemain sinetron. Dengan tingkat kecerdasan yang jika diukur dengan termometer kepintaran akan sama dengan skala titik beku air, maka para pemain ini GAK AKAN BISA menghafal naskah.
Akan perlu waktu yang sangat lama sampai-sampai ditakutkan dajjal keburu datang ke bumi agar si pemain hafal dengan benar naskah setebal 50 halaman padahal sinetron2 semacam ini harus tayang 10x dalam SATU HARI. Apa akal? Voila, diciptakan dubbing! Dengan tingkat efisiensi yg mengalahkan produktifitas produksi krabby patty, para pemain tidak perlu menghapal naskah untuk film sinetron yg berdurasi 2 jam. Dengan cukup memasang tampang bod*h (sebenarnya gak perlu sih, udah alami), dan hanya mengerak-gerakan bibir maka naskah sebanyak apapun bisa dilakukan secara cepat.
Bayangkan settingan lokasi syuting: (settingan zaman kerajaaan era jaka tarub) yg dilakukan di kebun belakang rumah, suasana hiruk pikuk mobil dr jalan raya, ringtun hengpon para kru pilem, artissok penting yg BBM-an terus, para pemain figuran yg gak bisa baca naskah (plus pemain utamanya juga). Kacau balau. Mana seinetronnya harus tayang tiap hari denga durasi 6 jam. Satu-satu caranya adalah mematikan backsound suara di video. untuk keperluan isi suara cukup ditambahkan dialog dubbing.
Stripping-lah alasan utama kenapa film2 ini harus menggunakan dubbing untuk pengisi suara.
Alasan kedua adalah... yah, orang mungkin mengatakan bahwa hidup tidak sempurna. Wajah artis yg cantik2 belum tentu diiringi dg suara merdu. kebanyakan cempreng. Aktor-aktor yang kekar kebanyakan bersuara sengau bahkan melambai seperti perempuan (itu kenapa Ray Surya dipanggil Mona
). ketidaksinkronan wajah dan suara ini sekali lagi disiasati dg dubbing.
Sebenarnya gak hanya sinetron2 saja yg menggunakan dubbing, jika rutin menonton film2 Indonesia karya NAYATO A.K.A KOYA PAGAYO, semua filmnya menggunakan dubbing untuk dialog-dialognya. gak mengejutkan karena syuting film2 (yang DIJUAL untuk) bioskop hanya memakan waktu (paling lama) 3 hari. Untuk sistem syuting marathon seperti ini, dubbing jadi metode paling penting. jangan heran jika tiap minggu, film2 karya Nayato terbaru selalu nongkrong di bioskop.
untuk info sistem syuting Nayato, bisa baca2 disini: http://filmindonesia.or.id/post/naya...m#.Tu0h81bT6hM
@Mona: saya punya kenalan "orang dalam" lho
--setidaknya saya punya teman yg ngatur2 kamera (plus pernah merangkap jd pemain figuran) dan iseng pernah menonton acara syuting sinetronnya selama 20 detik karena pas mau jalan2 di daerah Bogor, ada tempat syuting sinetron abal2 ini
Last edited by E = mc²; 18-12-2011 at 07:21 AM.
you can also find me here 
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules