neh contoh yang namanya cerita yang udah sering beredar, tapi musti disadur ke kata2 sendiri
Spoiler for cerita saduran:
Tidak Boleh!
Percakapan antara ibu dan anaknya yang begitu hangat, alias penuh dengan argumentasi. Si anak ingin sekali menutup auratnya, tetapi si ibu tetap ngotot tidak memperbolehkan.
"Ibu, aku ingin jadi muslimah sejati. Menutup aurat dengan benar," rengek si anak.
"Tidak, jangan lakukan," ibunya menjawab dengan tegas.
Tetapi si anak tidak pantang menyerah. "Ini perintah agama, Bu."
"Tidak, Ibu bilang tidak, ya tidak."
Si anak mulai memerah matanya, menahan tangis. "Ibu tega, ibu menghalagi keinginanku."
"Tidak, Saiful! Sampia mati Ibu tidak akan mengijinkanmu mengenakan kamu pakai jilbab!"
atau yang ini
Spoiler for another cerita umum yang beredar:
di taman yang indah, suatu sore, dua manusia duduk bersisian. Pemandangan yang sungguh romantis, di tengah guguran daun-daun.
Di Sebuah Taman
"Wan, aku sungguh sayang padamu," kata salah seorang dari mereka kepada laki-laki yang bernama Iwan itu.
"Ya....uhmmm," si Iwan terbata-bata ingin menjawab tanpa menyakiti hati yang mengajaknya bercakap-cakap itu.
"Kamu pasti tahu, aku rela mati untuk mendapatkan cintamu," desak lawan bicaranya.
"Masalahnya, Viktor, aku bukan yaoi," jawab Iwan tegas.
ini cerita yang waktu gue masih aktip di lapak tulis menulis dan dapet juara harapan, masuk dalam antologi cerita B***f** Biarkan aku mencintaimu dalam diam.
Spoiler for for drama:
Siang di Kantin Sudut Bandara
Aku bertemu dia lagi, setelah sekian lama kami tak lagi bersua. Masih wajah yang sama, masih senyum yang sama. Kami berpapasan di depan kantin bandara Ngurah Rai. Dia baru saja keluar dari pintu kedatangan, dan aku baru saja keluar dari counter tempatku bermarkas.
Dia tersenyum, namanya Adinda. Perempuan yang pernah mengisi hatiku bertahun-tahun yang lalu. Tetapi kemudian tega meninggalkanku, demi seorang laki-laki yang dia anggap lebih mapan dibandingkan diriku.
"Hai, Raka. Lama tak bertemu, ya," sapanya. Ternyata dia masih mengenaliku. Aku tersenyum menjawab sapaannya.
Lima belas menit kemudian, kami sudah duduk berhadapan di kantin sudut bandara.
Dari bibirnya, kemudian mengalir cerita yang memilukan. Bahwa hidupnya, tak sehebat yang dia bayangkan sebelumnya. Laki-laki yang dia harapkan membawanya dalam kebahagiaan malah sering menyiksanya lahir dan bathin. Belum lagi, setelah pulang dari Jepang, tempat lelaki itu bekerja sebelumnya, dia tak mau lagi bekerja. Belum lagi keluarga suaminya yang memperlakukannya seperti sampah.
Tuhan, sungguh tragis nasibnya kini.
"Sungguh Raka, kini aku menyesali keputusanku meninggalkanmu kemarin," bisiknya sendu, menatapku dengan penuh pengharapan.
Aku langsung berdiri. "Maaf, aku ada janji makan siang dengan istriku. Have a good day, Adinda."