Pertama kali baca buku ini saat SMP. Masih buku yang belum EYD.
Lalu membacanya kembali saat SMU. Hingga kini, kadang2 jika kepengan,
baca lagi.
Penceritaanya dari sudut pandang Droogstoppel dan Stern.
Menarik sekali membayangkan Lebak pada masa itu.
Nafas buku ini adalah simpati seorang Max Havelaar atas nasib
pribumi jelata yang dieksploitasi oleh Belanda dengan politik
Tanam Paksa-nya. Pribumi elite macam bupati dan kawanannya,
tunduk pada atasan dan menggencet rakyatnya sendiri.
Buku ini menurutku padat, kaya informasi, potongan2 drama, sajak
dan kutipan2 buku dan pemikiran. Saijah dan Adinda tak berkaitan
langsung dengan cerita, seolah diselipkan untuk memperkuat latar
ketertindasan.
Perlu kesabaran bagi pembaca yang tidak suka buku2 serius.
Ngalor-ngidul nya banyak![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote