Results 1 to 13 of 13

Thread: [Semi fiksi] Pelelangan Kopi Perusahaan Hindia Timur Belanda a.k.a Max Havelaar

  1. #1
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050

    [Semi fiksi] Pelelangan Kopi Perusahaan Hindia Timur Belanda a.k.a Max Havelaar

    Ada yang sudah baca?
    Buku terbitan Belanda tahun 1860, diterjemahkan pertama kali ke Bahasa Inggris. Baru diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tahun 1972. Dipuji oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai 'buku yang membunuh kolonialisme'.

    Begitu terbit, buku ini menimbulkan kegemparan di Belanda dan kurang dari satu dekade kemudian, kebijakan cultuurestelsel dicabut secara bertahap. Buku ini juga tidak sekedar membahas masalah kebijakan agrobisnis tetapi juga tentang birokrasi dan kebodohan yang mewabah di Pulau Jawa. Empat dekade kemudian, kebijakan politik etis diterapkan dan salah satunya adalah melalui pendidikan.

    Buku ini konon juga salah satu buku bacaan Bung Karno.

    Membaca buku ini mungkin agak membosankan. Maklum, isinya berisi kisah-kisah birokrasi yang terjadi di Nusantara. Apalagi ada sisi narsisme dari si penulis karena memang latar belakang penulis sangat mempengaruhi buku ini.

    Menjelang akhir, penulis menyelipkan kisah cinta 'Saijah dan Adinda' yang sangat menohok dan memilukan.
    Ada yang pernah menelusuri desa lokasi kisah cinta ini, ternyata memang ada kisah, tetapi nama pemudanya Saijan bukan Saijah dan juga ada legenda harta karun di bawah pohon ketapang.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  2. #2
    Multatuli? saya sudah membacanya. merinding
    you can also find me here

  3. #3
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Membaca pembahasan buku ini di 'Sastra Hindia Belanda dan Kita' karya Subagio Sastrowardoyo asik juga.
    Ternyata cerita Saijah dan Adinda banyak kemiripan dengan cerita-cerita roman yang ditulis oleh para penulis Belanda lainnya yang ternyata juga ada di Prancis. Dan polanya ini kelak juga muncul di generasi Balai Pustaka di antaranya 'Azab dan Sengsara' serta 'Siti Nurbaya'.

    Dibahas juga soal kritikan-kritikan tentang buku ini di masa itu (abad 19).
    Bisa dibaca secara daring di:
    Code:
    http://books.google.co.id/books?id=8Q5exzqm34EC&pg=PA27&lpg=PA27&dq=negeri+saijah+dan+adinda&source=bl&ots=kJTf9KpGEx&sig=KyVCaQTUUoMpz82DoxhpGPgrNQU&hl=en&ei=CNbhTprNJczjrAejiN3lAQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&redir_esc=y#v=onepage&q=negeri%20saijah%20dan%20adinda&f=false


    *menunggu suami ibu Cha_n untuk memberi rekomendasi bacaan lebih lanjut yang terbit di abad 19 mengenai Cultuurstelsel.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  4. #4
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Kandalf,
    di status ym kamu terpapar menyesal membaca kisah Saijah dan Adinda,
    boleh tahu kenapa?
    Apa ada kaitan dengan Saidan?

  5. #5
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    oh max havelaar... ya ya ini bukunya

  6. #6
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    oh max havelaar... ya ya ini bukunya
    Hayyyah... ternyata buku yang sama.

    Gara-gara aku iseng pakai judul alternatifnya yah?

    Quote Originally Posted by etca View Post
    Kandalf,
    di status ym kamu terpapar menyesal membaca kisah Saijah dan Adinda,
    boleh tahu kenapa?
    Apa ada kaitan dengan Saidan?

    Karena cerita Saijah dan Adinda itu sangat sedih, memilukan.
    Bahkan para pengecam Multatuli seperti De Kock pun mengakui bahwa cerita 'Saijah dan Adinda' bagus.

    Pramoedya Ananta Toer pun juga bilang sebenarnya tidak menyukai gaya bahasa Multatuli kecuali bagian 'Saijah dan Adinda'.
    http://readingmultatuli.blogspot.com...stra-yang.html
    Dalam salah satu bagian karya tersebut [Max Havelaar], dengan latar pemberontakan rakyat Banten tehadap penjajahan, digambarkan kisah percintaan yang terjadi di antara gadis dan pria dari rakyat jelata. Dan sampai sekarang kisah Saija dan Adinda tersebut satu-satunya cerita percintaan rakyat yang belum pernah tertandingi
    Bisa dibilang, ketika sudah ngantuk2 membaca dokumen agak narsis Max Havelaar, tiba-tiba disuguhkan cerita Saijah dan Adinda. Dan aku membaca ini di pagi hari yang cerah, di perjalanan ke kantor, langsung mengubah mood-ku menjadi sedih, merasa diriku seperti seorang Droogstoppel.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  7. #7
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Hayah.
    Entah kenapa lagi males baca yang sedih2.
    eh dikatakan semi fiksi, jadi pas kisah Saidah dan Adinda ini termasuk yang fiksi atau ga?

  8. #8
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by etca View Post
    Hayah.
    Entah kenapa lagi males baca yang sedih2.
    eh dikatakan semi fiksi, jadi pas kisah Saidah dan Adinda ini termasuk yang fiksi atau ga?
    Nah itu dia...
    bisa fiksi, bisa juga kisah nyata.

    Btw, 'Saijah' bukan 'Saidah'. Saijah itu nama cowok.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  9. #9
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,168
    Ups sori. Dari hp. Mata dah antara sadar dan tiada

    buku Rahasia Mede kan juga novel fiksi dengan latar belakang sejarah yang kental kan?
    Kira2 semacam itukah?

  10. #10
    Pertama kali baca buku ini saat SMP. Masih buku yang belum EYD.
    Lalu membacanya kembali saat SMU. Hingga kini, kadang2 jika kepengan,
    baca lagi.

    Penceritaanya dari sudut pandang Droogstoppel dan Stern.
    Menarik sekali membayangkan Lebak pada masa itu.


    Nafas buku ini adalah simpati seorang Max Havelaar atas nasib
    pribumi jelata yang dieksploitasi oleh Belanda dengan politik
    Tanam Paksa-nya. Pribumi elite macam bupati dan kawanannya,
    tunduk pada atasan dan menggencet rakyatnya sendiri.


    Buku ini menurutku padat, kaya informasi, potongan2 drama, sajak
    dan kutipan2 buku dan pemikiran. Saijah dan Adinda tak berkaitan
    langsung dengan cerita, seolah diselipkan untuk memperkuat latar
    ketertindasan.


    Perlu kesabaran bagi pembaca yang tidak suka buku2 serius.
    Ngalor-ngidul nya banyak
    Last edited by keremus; 29-01-2012 at 01:07 AM.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  11. #11
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Versi film.
    [hide]

    http://www.youtube.com/watch?v=WFAzM6jrwzI[/hide]
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  12. #12
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Sudah thank you koq tidak bisa mbuka, Kund?

    Mbok dapat versi bahasa Inggris dari Amazon.com, sudah mulai baca, memang banyak ngalor-ngidulnya, tapi kemudian ketemu Tetralogi Buru.
    Max Havelaar pun keteter, sekarang lagi asyik dengan Jejak Langkah.

  13. #13
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Coba segarkan (refresh) perambannya (browser), mBok.
    Bisa tekan F5.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •