Trilogi Hati Merdeka memang lebih banyak orang bulenya sampai ke make-up-nya. Produser utamanya pun juga orang bule, si ayah dan anak Allyn (Margate House).
Beda dengan buatan Merantau Films. Bulenya cuma dua. Yang satu si Gareth, yang satu lagi Matt, teman kampusnya. Sisanya, bahkan penyandang dananya pun (Ario Sagantoro dan istrinya Babule) orang Indonesia.
Nah, Badai di Ujung Negeri (produksi Quanta Films), memangnya buatan bule? Padahal dari sisi suara dan sisi sinematografi termasuk sangat bagus. Apa karena genrenya aksi maka tidak dimasukkan? Ataukah karena Quanta Films tidak mendaftarkan?
Oh iya, Merantau bukan kasus pertama. Kasus pertama sutradara asing menyebabkan tidak bisa masuk FFI adalah film terakhir Sophan Sophiaan, Love. Eh.. itu produksi mana yah?
Tapi jujur aja, gue sih, kagak apa-apa deh. Gak setuju soal satu orang asing membatalkan semua tetapi itu hak panitia FFI. Menurutku, film Indonesia adalah film yang dibiayai oleh orang Indonesia, bayar pajak di Indonesia, dan memanfaatkan tenaga kerja Indonesia semaksimal mungkin dan dari definisiku, produksi Merantau Films termasuk film Indonesia sementara Hati Merdeka tidak.
Yang gak kusetujui di FFI itu adalah sistem seleksinya. Setahuku, tahun lalu, mereka memilih film-filmnya dulu kemudian baru membagi ke kategori. Itu yang akhirnya bikin konflik tahun lalu. Apakah dosa sebuah cerita film menyebabkan kerja keras kru film yang lain harus diabaikan? Bukankah tujuan FFI katanya (lupa baca di bagian mana, pokoknya panduan tentang FFI) adalah menyemangati pekerja film?
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote
