iyah urzu itu paling sering di gembar gemborkan oleh pemerintahan Kutai Kartanegara,, adat Dayak masih kental disini,, makanya hal tersebut yang diusung...

padahal seharusnya pemerintah Kukar (Kutai Kartanegara) itu berkaca diri,, belum sadarkah telah menzalimi dan menganiaya masyarakatnya sendiri?,, dan ini adalah peringatan dari Allah... betapa keterlaluannya dan melampaui batas kabupaten yang selalu "membusungkan dada" menyatakan bahwa Jembatan ini yang menyimbolkan KUKar adalah kabupaten Kaya,, salah besar... Jembatan itu hanya Tameng pemerintah,, untuk dijadikan Topeng,,agar terlihat "Keren" dan "parlente" di luar daerah,, tapi kenyataannya,, didalam daerah ,,di pelosok banyak yang kekurangan makanan,,mereka menuntup mata...

Yang luchunya lagi,, miris rasanya... tadi dengar di Berita,, Gubernur kalimantan Timur, Bapak Awang Farouk,, menyatakan "luka2nya hanya sedikit kok, gak ada yang parah" astagfirullah bapak ini,, sama aja sama kaya Bupatinya,, tidak ada rasa pedulinya sama sekali... mana ada luka2 sedikit,, bayak yang patah tulang dan kejepit di antara dinding pembatas jembatan.. malahan saat ditanya di berita tentang nomor telpon yang bisa di hubungin,, Gubernur Kaltim gelagapan,, bingung mencari nomor telpon,, akhirnya ending yang memalukan,,terdengar dari suara telponnya,,sama bapak polisi di samping beliau "sudah,pake nomer telpon bapak aja" astagfirullah... Inilah kebobrokan birokrasi Kalimantan Timur,,

dan tak selamanya bangkai bisa ditutupi dengan indah... karena Bangkai di tutupi dengan apapun, pasti akan tercium juga.