sebenernya berita hebohnya pas di grup GKIA (yang gue langsung out gara2 adminnya gak independen) membahas masalah beberapa kematian pada balita setelah dilakukan imunisasi massal, yang biasa disebut Pekan Imunisasi Nasional.

salah satunya ini:

Dua Balita Hanif M. Husnaya dan Isma Nur Fauziah meninggal setelah diimunisasi. Ironisnya para pejabat di Kota Bekasi dan Jawa Barat saling lempar tanggungjawab. Penyebab kematiannyapun semakin kabur. Apakah meninggal karena diimunisasi atau karena penyebab lain.

Plt. Walikota Bekasi Rahmat Efendi mengakui terjadi simpang siur berita terkait meninggalnya dua balita di kota Bekasi pasca imunisasi campak, dan polio, beberapa waktu lalu.

Hal itu di katakan Plt. Walilota, di kantornya Rabu (9/11). Menurutnya hingga saat ini pemerintah kota Bekasi masih terus berusaha mengetahui penyebab kematian dua balita tersebut. Hal ini karena beberapa waktu lalu Setda Jabar mengatakan balita tersebut meninggal akibat tersedak obat tablet.
Namun, hal itu dibantah kedua orang tua korban karena dua balita itu diminumkan obat penurun panas jenis sirup bukan tablet.

Sementara Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda KIPI) Jawa Barat memastikan kematian balita Hanif M. Husnaya dan Isma Nur Fauziah asal Bekasi bukan karena vaksinasi program “Pekan Imunisasi Campak dan Polio 2011″. Keduanya meninggal karena terjadinya infeksi jaringan otak (ensefalitis).

Kesimpulan muncul melalui pembahasan anggota Komda KIPI yang melibatkan ahli syaraf, ahli imunisasi, ahli infeksi, dan ahli darah pada Selasa (8/11). Laporan yang disampaikan Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten Bekasi berikut rekam medis dari Rumah Sakit Anna Medika dan Rumah Sakit Mekar Sari.

Ketua Komda KIPI Jabar Dr. Kusnandi Rusmil, dr, Sp.A.K., M.M., melalui sambungan telefon mengatakan sepakat kematian keduanya tidak berhubungan dengan imunisasi. Keduanya meninggal karena terjadinya peradangan di otak,”

Lebih lanjut dikatakan Kusnandi, peradangan di otak lazim terjadi tanpa dilakukannya imunisasi terlebih dahulu. Menurutnya Kuat dugaan, virus sudah ada di tubuh keduanya. Namun saat peradangan terjadi, keduanya baru divaksinasi polio dan campak

Reaksi wajar pasca vaksinasi campak yang berupa kenaikan suhu tubuh lazimnya terjadi pada hari kelima hingga kedua belas setelah imunisasi. Sementara pada Hanif, demam muncul sehari setelah imunisasi, sedangkan suhu tubuh Isma naik dua hari sesudah imunisasi.

Kusnandi mengatakan, keberadaan virus pada tubuh kedua balita tersebut memang sulit dideteksi secara kasat mata sebelum imunisasi dilakukan. Butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahuinya.

Kesimpulan dari pertemuan tersebut akan disampaikan pada Kementerian Kesehatan. Dengan demikian, simpang siur penyebab kematian kedua balita tersebut tidak berlanjut.(Bayu Samudra/Inas).
sebagian besar ibu2 yang tergabung dalam grup GKIA berkomentar miring tentang imunisasi yang dipaksakan oleh pemerintah hanya karena mereka menganggap ini adalah strategi bisnis, alias jualan imunisasi perusahaan yang memberi untung kepada oknum pemerintah. Intinya, buat mereka imunisasi itu gak penting dan bahkan cenderung membahayakan.

Kemudian saya coba sanggah bahwa seharusnya perlu penelitian lebih lanjut apa penyebab kematian balita tersebut, sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran berita dan mengambinghitamkan imunisasi. Toh tujuan awal imunisasi adalah mencegah penyakit yang lebih berbahaya bagi jiwa balita kita. Apa seharusnya tidak disupport?

Disanggah oleh admin yang bersangkutan bahwa mestinya pemerintah mencerdaskan ibu2nya sehingga biar mereka memilih mau anaknya diimunisasi atau tidak, jangan dipaksa bla bla yang intinya lagi, imunisasi gak penting.

Kemudian menjurus ke arah, ASI is the best, kalau sudah ASI gak perlu imunisasi dan yang bikin saya geleng2 kepala adalah komentar gak nyambung selanjutnya.

"Ah, dua balita saya gak imunisasi, cuma ASI saja. Alhamdulillah mereka tumbuh cerdas dan baik2 saja."

OMG! Apa hubungannya imunisasi dengan kecerdasan? Ini masalah lumpuh layu, campak dan TB yang beredar di masyarakat kelata, yang mungkin buat ibu2 berpendidikan itu gak pernah mereka lihat dan rasakan. Program bagus dianggap gak bagus karena ada beberapa cacat. Dibilang bahwa yang muncul cuma satu dua kasus, katanya ini pola gunung es, yang gak ketahuan banyak. Lho, nyatanya di Blora, dan saya memantau, gak ada tuh yang mati gara2 PIN.

Btw...saya merasa, sosialisasi imunisasi pantas sering terjegal. yang berpendidikan aja merasa imunisasi gak penting

sumber berita di sini